
"AAAHHHHHH...."
Luna menjerit histeris saat mendapati seorang laki-laki berbaring disampingnya. Dan teriakan itu membuat orang itu yang pastinya adalah Zian terbangun dari tidurnya. Zian membuka matanya dan menatap Luna dengan bingung.
"Ada apa?" tanya pemuda itu dengan bingung.
"Ka..Kau, apa yang kau lakukan di kamarku? La..Lalu kenapa kau tidur di ranjangku?" Luna mendur kebelakang sambil merapatkan selimutnya. Sepertinya dia melupakan sesuatu.
Zian menyibak selimutnya lalu turun dari tempat tidur Luna. "Kau idiot, ya? Jelas-jelas kita sudah menikah dan wajar jika aku tidur satu ranjang denganmu!!" ucapnya dan membuat pupil mata Luna membulat sempurna.
"Me..Menikah? Jadi yang semalam itu bukan mimpi, tapi kita benar-benar menikah?" dia menatap Zian tak percaya. Luna mendadak amnesia.
Zian mengangguk. "Ya, jadi mulai hari ini kau harus lebih membiasakan dirimu dengan kehadiranku. Aku mandi dulu," Zian lalu beranjak dan meninggalkan Luna begitu saja. Pemuda itu berjalan ke kamar mandi.
Mendadak Luna membeku. Lalu jari-jarinya menyentuh bibirnya, jika pernikahannya dengan Zian adalah nyata, maka itu artinya ciuman mereka semalam juga nyata? Bahkan Luna masih bisa merasakan lembut dan basah bibir Zian ketika menyentuh bibirnya. Bibir itu mellumatnya dengan lembut dan penuh perasaan, yang membuatnya sampai lupa daratan.
"Ya, Tuhan. Jadi ini benar-benar nyata, jika sekarang aku berstatus sebagai Istri orang?" gumam Luna tak percaya.
Rasanya benar-benar seperti mimpi. Luna masih tidak percaya jika Iya dan Zian telah menikah. Padahal siang kemarin status mereka masih sebagai teman, tapi dalam semalam status mereka sudah berubah menjadi suami-istri.
Dan karena terlalu larut dalam dunianya sendiri, sampai-sampai Luna tidak menyadari jika Zian sudah keluar dari kamar mandi. Pemuda itu memicingkan matanya dan menatap Luna dengan bingung. "Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya pemuda Zian dan mengejutkan Luna.
Gadis itu menggeleng. "Ti..Tidak ada." Jawab Luna lalu melesat pergi ke kamar mandi. Zian mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Luna, entah kenapa ketika sedang gugup dia terlihat sangat menggemaskan.
Zian melenggang keluar untuk menyiapkan sarapan. Dia tahu jika Luna sangat payah dalam urusan memasak, itulah kenapa dia berinisiatif menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Pemuda itu membuka kulkas dan hanya menemukan sedikit bahan makanan. Kulkas Luna dalam keadaan kosong, buah dan sayur nyaris tidak ada. Hanya ada dua apel, satu kotak anggur dan tiga buah pisang. Untuk sayurnya hanya ada buncis dan brokoli, perdagingan hanya ada beef steak dan salmon.
"Kau bisa memasak?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Luna. Zian menoleh dan mendapati Luna berjalan menghampirinya.
"Hm," dia mengangguk samar.
"Persediaan makanan di rumah sudah semakin menipis. Rencananya aku baru mau belanja lagi ini," Luna berucap sambil membantu Zian mencuci sayuran yang hendak dimasak.
"Kalau begitu aku temani," pemuda itu menoleh, membuat matanya dan Luna saling bersirobok.
"Boleh juga, kalau begitu kita pergi dengan mobilku saja." Ucapnya.
Tanpa mengatakan apapun. Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja. Luna tidak tau kemana Zian hendak pergi, dia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Luna mengangkat bahunya. Mengabaikan Zian, Luna melanjutkan pekerjaannya supaya ketika Zian kembali sayur yang hendak dimasak sudah bersih.
Selang beberapa menit, Zian kembali sambil membawa sebuah card berwarna hitam yang kemudian dia berikan pada Luna. "Apa ini?" Luna menatap Zian dengan bingung.
Pupil mata Luna membelalak sempurna. Jika sampai 50 tahun ke depan tidak habis, itu artinya jumlah uang di dalam kartu yang diberikan oleh Zian sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Warna hitam berarti, kartu tanpa batas limit. Seketika Luna mengangkat wajahnya dan
tak percaya.
"Sebenarnya kau ini siapa? Karena kartu hitam tanpa limit hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, apa kau berasal dari keluarga bangsawan?" tanya Luna penasaran, dia benar-benar penasaran dengan asal-usul Zian.
"Keluargaku bermarga, Lu. Dari silsila keluarga, aku masih keturunan bangsawan." Jelas Zian.
"Omo!! Itu artinya, Kau bukanlah orang sembarangan," Luna menatap Zian tak percaya.
__ADS_1
Zian mengangkat bahunya. "Entah, aku tidak tau. Dan cart itu adalah pemberian mendiang Kakekku sebelum dia meninggal. Dia bilang uang di dalam card itu tidak akan habis sampai lima puluh tahun ke depan, dan aku belum menyentuhnya sama sekali." Terang Zian.
"Lalu kenapa kau malah memberikannya padaku?" Luna menatap Zian dengan bingung.
"Jika bukan aku berikan padamu, lalu aku berikan pada siapa? Sementara kau adalah istriku, tidak mungkin juga kan aku berikan pada wanita lain," Zian menjawab dengan begitu santai.
"Istri, ya. Benar juga, sekarang kan kita sudah menjadi suami-istri yang sah. Dan rasanya a aku masih belum percaya, jika ternyata diriku telah menikah dan memiliki suami. Rasanya sangat konyol dan menggelikan," Luna tersenyum hambar. Lalu dia mengangkat kembali wajahnya dan menatap Zian dengan senyum yang sama. "Aku sudah lapar, ayo kita lanjutkan."
Zian menganggukkan kepala. Kemudian dia melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda. Tak hanya Luna yang merasa konyol dan menggelikan , tetapi Zian juga. Bahkan tak terpikirkan olehnya jika dia akan menikah dan menjadi seorang suami. Jangankan memikirkannya, bermimpi saja dia tidak pernah.
.
.
Sean duduk termenung di balik jeruji besi. Sudah lebih dari dua Minggu dirinya terkurung di ruangan yang pengap dan dingin ini. Dan selama itu, tak ada seorang pun yang datang untuk menjenguk dan mengunjunginya. Lagipula siapa yang bisa Sean harapkan? Ayahnya? Ibu tirinya, atau bahkan Zian? Itu lebih tidak mungkin lagi, karena Zian sangat-sangat membencinya.
"Hei, anak muda. Sampai kapan kau akan melamun terus? Ini roti untukmu, makanlah." Seorang pria paruh baya menghampiri Sean dan memberikan sepotong roti padanya.
Alih-alih menerimanya, Sean malah membiarkannya begitu saja. "Paman , letakkan saja di situ. Aku sedang tidak lapar," jawabnya dingin.
Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya, lalu meletakkan potongan roti itu disamping Sean. "Ini, Paman letakkan disini. Jangan lupa untuk memakannya, karena sejak pagi perutmu belum terisi apapun." Ucapnya mengingatkan. Namun tak ada jawaban, Sean mengabaikannya.
Sean melirik sekilas kearah roti tersebut. Dia tak tertarik untuk mengambil dan memakannya. Membaurkan roti itu tergeletak begitu saja. Sean menarik kedua kakinya dan memeluk lututnya. Dia benar-benar tidak berpikir jika hidupnya akan berakhir seperti ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung.