
"Aaarrggghhh ."
Jerit kesakitan memecah di dalam keheningan malam. Tubuh itu jatuh seketika dengan nyawa yang telah terlepas dari tubuhnya, tulang lehernya patah setelah di putar dengan kasar oleh seorang pemuda yang saat ini berdiri tegap dengan di kelilingi sekitar 10 orang yang telah terkapar di jalanan yang sepi dan jauh dari keramaian.
Dan mereka semua pastinya sudah tak bernyawa, seringai tajam tersungging di sudut bibirnya. Pemuda itu menarik kasar lengan salah satu mayat itu dan mengukir sesuatu di lengannya dengan sebuah belati kecil kesayangannya.
Setelah itu melenggang pergi dari tempat itu dengan seringai kemenangan yang terpatri jelas di raut wajahnya yang tenang namun terkesan dingin dan datar.
Salah satu tangannya menyeka darah yang ada di sudut bibir dan bawah matanya.
Kantung matanya robek karena terkena sabetan belati salah satu musuhnya di detik-detik terakhir sebelum pemuda itu mengakhiri hidup orang tersebut, dan untungnya belati itu tak sampai membuat buta mata kanannya.
"Kalian terlambat. Aku sudah membereskan Tikus-Tikus itu." Ucapnya saat menyadari kedatangan ke 3 sahabatnya.
Pemuda bertubuh tinggi menjulang itu tampak mencerutkan bibirnya kesal, kedua tangannya bersidekap dadanya."Zian, kau benar-benar tidak adil. Bagaimana bisa kau menikmati permainan sebagus itu hanya seorang diri. Bahkan kau tidak menyisakan satu pun untuk kami." Keluhnya.
Zian memutar bola matanya jengah mendengar ucapan beruntun dari sahabat jangkungnya itu. "Cih." Dan mendecih pelan lalu melanjutkan langkahnya.
Dan si jangkung Alex pub tampak sangat kesal karena sikap dingin Zian yang melebihi kutub utara itu. Alex menatap ketiga temannya bergantian, mereka hanya mengangkat bahunya acuh. Mereka berbalik dan menyusul Zian, menyisakan Alex yang masih membatu di tempatnya.
Sampai ia menyadari sesuatu.
"Kalian kenapa meninggalkanku? YAKKK TUNGGU AKU------."
.
.
Zian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa panjang yang ada di ruang utama markasnya. Badannya terasa remuk dan kepalanya berdenyut nyeri, sedikit meringis saat luka-luka di wajahnya tak sengaja tersentuh oleh tangannya sendiri.
"Zian, biar aku obati lukamu."
Bagaikan seorang Dewa penolong. Theo muncul dari arah dapur dengan membawa baskom berisi air bersih dan kotak p3k di tangan kirinya.
__ADS_1
Kemudian Theo meletakkannya di atas meja, pemuda itu mengambil tempat di depan Zian agar lebih mudah saat membersihkan dan mengobati lukanya. Theo mengambil beberapa lembar kapas yang masih bersih dan membentuknya menjadi bulatan, menuangkan sedikit alkohol di atasnya
"Kau tahan sedikit, akan sedikit perih." Ucapnya memperingatkan.
"Aaahhh." Zian sedikit meringis saat kapas yang bercampur alkohol mulai menyentuh luka-luka lebam di wajahnya yang terluka.
Setelah selesai dan mengoleskan dengan salep pada lukanya, tak lupa plaster untuk menutupi luka di bawah mata kiri serta pipi kanan bawah.
"Sepertinya mereka tidak akan melepaskan kita, dan mereka tidak akan tinggal diam saat mengetahui anak buahnya meregang nyawa di tanganmu. Dan kita harus segera melakukan sesuatu." Meskipun terdengar santai, namun ada kecemasan dalam ucapan Max.
Pemuda itu yakin bila ketua dari perkumpulan yang telah Zian habisi malam ini tidak akan tinggal diam mengetahui beberapa anak buahnya terbunuh dengan sadis di tangan pemuda itu.
Zian merebahkan punggungnya pada bantalan sofa. Matanya menerawang jauh menatap langit-langit markasnya. Apa yang di ucapkan Max memang ada benarnya, dan Ia sendiri telah memprediksikan jika akan ada serangan balasan.
Pemuda itu harus memutar otaknya agar semua bisa berjalan seperti yang Ia harapkan, ia tidak akan membiarkan mereka menang darinya. Karena Zian tidak menyukai kekalahan, dan Zian tidak akan segan-segan menyingkirkan siapa saja yang berani menghalangi jalannya.
"Lalu apa rencanamu?" Zian memutar lehernya dan menatap Max penuh tanya.
"Panggil rekan lama kita kembali. Karena kita membutuhkan banyak kekuatan untuk menghadapi situasi ini. Dan kita harus mengirim seseorang untuk memata-matai mereka." Zian menyeringai, satu tinju pelan Ia layangkan pada bahu Max.
"Kau mau kemana?" seru Cris buka suara saat melihat Zian bangkit sambil memakai kembali jaket kulit hitamnya.
"Pulang." Jawabnya singkat.
.
.
Zian menghentikan motornya saat mata jelaganya tanpa sengaja melihat siluet seorang gadis yang sangat Ia kenal sedang duduk sendiri di halte bus. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam, tanpa berfikir panjang.
Pemuda itu menyalahkan kembali mesin motornya dan menghampiri gadis itu yang pastinya adalah Luna.
"Luna, sedang apa kau disini?" tanya Zian.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil. Gadis yang sedari tadi hanya duduk sambil memainkan kakinya itu lalu mendongak. Dia tampak sedikit terkejut dengan kemunculan Zian yang begitu tiba-tiba.
"Eo, Zian." Serunya. Zian menarik bibir atasnya dan tersenyum setipis kertas, kemudian mengambil tempat di samping Luna.
"Sedang apa kau disini malam-malam begini?" tanya Zian penasaran.
"Menunggu kendaraan umum. Mobilku tiba-tiba mogok dan aku tinggalkan di tempat kerjaku." Jawab Luna.
Dan setelah obrolan singkat itu, kebersamaan mereka berdua hanya diwarnai dengan keheningan. Baik Zian maupun Luna sama-sama enggan membuka suara dan mengakhiri keheningan di antara mereka.
Langit yang awalnya cerah tiba-tiba saja menjadi gelap di sertai angin kencang yang membawa hawa dingin menusuk sampai kedalam sum-sum tulang.
Luna memeluk tubuhnya sendiri, tubuhnya terasa beku karena hawa dingin yang kian menusuk. Tak ada apribut yang apa pun yang bisa membantunya merasa hangat. Tubuh rampingnya hanya di lapisi dress sepanjang lutut bermotif bunga dengan paduan brokat pada dada sampai lengannya.
Tidak ada syal, tidak ada mantel hangat kesayangannya. Sungguh sial, Ia memang tidak bisa memprediksikan cuaca. Jika tau, pasti Luna akan memakai syal atau membawa mantel, tapi sayangnya Ia tidak membawa apa pun.
Menyadari hal itu. Zian pun tak tinggal diam. Dia segera membuka jaketnya dan menyampirkan pada bahu mungil Luna. Menyisahkan kaos hitam tanpa lengan berleher tinggi yang melekat pas di tubuh kekarnya, kaos itu memiliki sobekan pada perut bagian kanannya.
Luna pun tersentak, sontak Ia menoleh dan sedikit terperangah dengan penampilan pemuda itu. Memang bukan pertama kalinya Ia melihat penampilan Zian yang seperti ini. Tapi entah mengapa Luna merasa jika dia lebih tampan dari biasanya. Sungguh, pahatan yang sempurna.
"Terimakasih." Ucap Luna sedikit tersipu. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan mata dengan Zian.
"Sampai kapan kau akan berada disini seperti orang yang menunggu pelanggan?" Suara dingin dan berat itu mengintrupsi Luna untuk mengangkat wajahnya. Menatap sisi wajah Zian.
Gadis itu menarik nafas panjang dan menghelanya "Dasar patung es. Apa kau tidak bisa menyaring kata-katamu supaya enak di dengar. Jika bukan karena mobilku tiba-tiba mogok dan ponselku mati aku tidak akan terjebak disini." Ujarnya panjang lebar.
Zian menghela napas setelah mendengar penuturan Luna. Benar-benar gadis yang sangat ceroboh, pikirnya. Kemudian Luna menoleh. Matanya sedikit membelalak. "Hei kau terluka?" serunya sambil menunjuk wajah Zian yang penuh lebam menggunakan jarinya.
Ada plaster luka yang telah menutupi lukanya. Mengabaikan pertanyaan gadis itu, Zian terlihat bangkit dari duduknya. "Ayo. Aku antar kau pulang." Ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Luna. Membuat gadis itu tersentak di buatnya.
Detik berikutnya sudut bibir Luna tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. Kemudian dia menerima uluran tangan Zian, mereka meninggalkan halte.
.
__ADS_1
.
Bersambung.