
Puluhan orang tengah berkumpul dan memenuhi sebuah arena balap liar. Beberapa motor besar tampak diposisi masing-masing. Acara balap liar akan segera dimulai, diantara banyaknya orang yang ada di sana. Beberapa orang tampak gusar dan cemas.
"Mana bos kalian, kenapa sampai sekarang belum muncul juga? Jangan-jangan dia takut," seru seorang pemuda yang duduk diatas motor besarnya.
"Sembarangan!! Bos, kami bukanlah seorang pengecut. Dia pasti datang. Jadi kalian tunggu saja. Lihat bagaimana dia akan mempermalukan kalian semua, kau terutama!!" merasa tak terima Bosnya disebut sebagai pengecut. Salah satu dari keempat pemuda itu pun angkat bicara.
"Buktinya sampai sekarang dia muncul juga, sementara balapan dimulai beberapa menit lagi!!" sahut salah seorang anggota dari kubu lawan.
"Hahaha...!! Sekalinya pengecut, tetap saja pengecut!!" sahut yang lainnya.
"Siapa yang kalian sebut sebagai pengecut?!" sahut seseorang yang sedang bersandar pada sebuah pohon besar sambil menghisap rokok yang diapit oleh kedua jarinya. "Bahkan aku sudah ada disini jauh sebelum kau dan antek-antekmu datang," ucapnya menambahkan.
"Zian!!!" seru teman-teman Zian dengan keras.
Pemuda dalam balutan singlet putih yang dipadukan dengan Leather Vest hitam itu terlihat keluar dari kegelapan dan berjalan menuju kerumunan itu. Seringai terlihat jelas disudut bibirnya.
Lega terlihat diraut wajah teman-teman Zian. Mereka pikir Zian masih di perjalanan. Tapi siapa yang menduga jika ternyata dia sudah datang sejak tadi. Tapi mereka tak merasa heran sama sekali, karena memang begitulah dia.
"Max, apa motorku sudah siap?" pandangan Zian bergulir pada pria itu. Max menganggukkan kepalanya. "Thanks, Brother." Zian menepuk bahu Max lalu melewatinya begitu saja.
Alex dan Cris membawa motor milik Zian kearena. Soal motornya, Zian mempercayakannya pada Max. Karena cuma dia satu-satunya yang berpengalaman soal otomotif.
"Hehehe... Kalian semua bersiap-siaplah untuk kalah. Karena sang Raja jalanan telah kembali!!" seru Alex sambil menatap lawan-lawan Zian dengan pandangan meremehkan.
"Diamlah kau bocah labil. Zian Lu, kali ini aku pasti akan mengalahkan mu!!" ucap Andrew dengan penuh percaya diri.
"Hn, kita lihat saja!!" balas Zian menimpali.
Suara gerungan motor begitu menusuk telinga. Sedikitnya ada empat motor besar yang berbaris di jalan aspal dengan garis putih di depan ban yang menjadi pembatas. Area bekas pabrik yang kini disulap menjadi sirkuit balap liar. Suara sorak Sorai penonton riuh melihat para pembalap yang sebentar lagi akan beraksi.
__ADS_1
Mereka telah siap dan hanya tinggal menunggu aba-aba bendera yang terjatuh dari seseorang yang menjadi petugas di garis start.
Diantara keempat pembalap itu. Seorang wanita cantik dengan tubuh seksi berjalan ke arena sirkuit dan berdiri di tengah-tengah mereka dengan membawa bendera motif kotak hitam-putih.
"BOS, SEMANGAT...KAU PASTI MENANG!!" teriak anak buah Andrew
"ZIAN, KALAHKAN DAN PERMALUKAN MEREKA SEMUA!!" teriak teman-teman Zian.
"ANDREW.."
"ZIAN.."
"ANDREW.."
"ZIAN..."
Dua nama itu yang santer diserukan. Karena bintang utamanya hanya mereka berdua. Sedangkan dua lainnya hanyalah pendamping. Sang wanita telah melakukan penghitungan mundur, dan keempat motor itu melaju meninggalkan garis start. Melaju dengan kecepatan tinggi bak peluru yang baru dilepaskan oleh penembak jitu.
Satu motor menyerah dan hanya tersisa tiga. Laju ketiga motor tersebut melebihi di atas rata-rata. Ditambah dengan spek motor yang telah diperbaharui, sesuai dengan kebutuhan untuk balapan. Untuk mencapai kemenangan mana mungkin mereka mengendarai motornya dengan kecepatan 40-50km/jam.
Jalanan ini begitu sepi tanpa ada kendaraan lainnya yang melintas. Karena,l mereka tahu persis 'wilayah' yang di jadikan tempat berkumpul atau sekedar untuk melepaskan hobi mereka dengan balapan liar. Dan mereka berkumpul di jalanan yang sangat atau bahkan tidak pernah di lalui oleh kendaraan sama sekali.
"Zian Lu, kali ini aku lebih unggul darimu. Hahaha... Kemenangan sudah ada di depan mata. Jadi bersiaplah untuk menerima kelelahan!!" ucap Andrew dengan begitu percaya diri.
Disaat Andrew begitu percaya diri jika dia yang akan memenangkan pertandingan. Tiba-tiba motor lain menyalipnya dengan kecepatan tinggi menuju garis finish. Dan motor itu adalah motor milik Zian. Andrew begitu ceroboh, dan kecerobohannya itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Zian.
Tertinggal bukan berarti Zian kalah skill darinya. Membiarkan lawan berada diatas awan sebelum akhirnya dijatuhkan ke dasar jurang adalah hal yang paling menenangkan bagi Zian. Dan triknya itu selalu berhasil membawanya digaris depan dan jadi pemenangan.
"Selamat tinggal, Andrew!!" Zian menyeringai.
__ADS_1
Motor Zian melewati garis Finish. Dan sudah bisa dipastikan jika Zian-lah yang keluar pemenangnya. Membuat kubu Andrew mengalami kekalahan. Max Cs bersorak dan menghampiri Zian. Sementara Reg dan teman-temannya langsung pergi meninggalkan area balap liar.
"Kau memang yang terbaik, Zian. Dan kemenangan ini harus dirayakan. Kali ini biar aku yang mentraktir kalian berempat." Ucap Max sambil menatap ketiganya bergantian.
"Kalian duluan saja. Aku masih ada urusan," ucap Zian lalu tancap gas meninggalkan teman-temannya. Tak mau ambil pusing dengan sikap Zian. Mereka berempat pun meninggalkan arena balap liar dan pergi ke club' malam untuk merayakan kemenangan Zian
.
.
Luna menendang ban mobilnya yang tiba-tiba kempes entah karena apa dengan kesal. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya, tak ada seorang pun yang bisa dia mintai pertolongan. Mau menghubungi bengkel langganannya juga tidak bisa, karena batere ponselnya habis.
"Aishh, dasar ban mobil sialan. Kenapa harus kempes segala sih?!" keluh gadis itu dengan frustasi.
Disaat Luna sedang frustasi. Tiba-tiba sebuah motor besar berhenti di depannya. Si pengendara kemudian turun dan menghampiri Luna. "Apa yang terjadi pada mobilmu?" tanya orang itu.
Sontak Luna menoleh. "Zian. Kebetulan sekali. Ban mobilku kempes dan aku tidak bisa menghubungi bengkel karena ponselku habis baterai. Mau cari taksi tapi jauh harus ke depan sana. Apa kau bisa memberiku tumpangan pulang dan juga bisakah aku pinjam ponselmu sebentar? Aku mau menghubungi bengkel," ucap Luna dengan tatapan memohon.
Pemuda itu menghela napas. "Dasar kau ini, kenapa kau ceroboh sekali. Masalah mobil serahkan padaku, biar teman-temanku yang mengurusnya. Kebetulan salah satu temanku memiliki bengkel."
"Benarkah? Wuaaa, kebetulan sekali. Maaf harus merepotkanmu." ucap Luna. Dia merasa lega karena mendapatkan bantuan dari Zian.
"Hn, bukan masalah besar. Cepat naik, aku antar kau pulang dulu. Jangan lupa gunakan kunci ganda supaya mobilmu aman," ujar Zian dan dibalas anggukan oleh Luna.
Luna merasa lega karena Zian datang tepat waktu. Tanpa bantuan darinya. Mungkin sampai saat ini dirinya masih terjebak di tempat sepi tersebut.
Dan apa yang Zian lakukan ini itung-itung sedikit membalas Budi pada Luna karena telah menolong dan merawatnya selama dia sakit. Karena tanpa Luna, mungkin Zian hanya tinggal nama.
.
__ADS_1
.
Bersambung.