
Zian menghentikan motor besarnya di halaman rumah Luna yang lumayan luas. Gadis itu lantas turun dari motor Zian lalu berdiri di depan pemuda itu.
"Ayo masuk dulu. Ini sudah larut malam, dan sepertinya akan turun hujan. Sebaliknya kau bermalam saja." ucap Luna.
Lalu pandangan Zian bergulir pada langit malam yang berselimut awan tebal. Gelap dan tak berbintang. Bahkan rintik hujan mulai bisa Zian rasakan menyentuh permukaan kulit lengannya yang terbuka.
"Masuklah, kebetulan aku membeli banyak makanan untuk makan malam. Jadi temani aku makan. Kau sendiri pasti belum makan malam, kan?" tebak Luna 100% benar.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Zian memang belum makan malam seperti tebakan Luna.
Gadis itu mengangkat bahunya seraya tersenyum lebar. "Aku hanya asal menebak saja, dan ternyata tebakanku benar." jawab Luna manimpali. "Jangan bengong saja, sudah ayo masuk." Luna lalu beranjak dari hadapan Zian dan melenggang masuk ke dalam.
Baru saja Zian hendak menolak ajakan Luna untuk masuk ke dalam rumahnya. Tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya, membuat Zian mau tidak mau ikut Luna masuk ke rumahnya. Karena tidak mungkin dia nekat menerobos hujan. Bisa-bisa dia bahasa kuyup dan masuk angin.
Pemuda itu duduk di depan perapian menghangatkan tubuhnya. Hujan yang turun tiba-tiba membuat suhu udara menurun drastis. Membawa hawa dingin yang terasa membekukan di sekujur badan. Selang beberapa saat, Luna datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir coklat panas yang salah satunya dia berikan pada Zian.
"Aku tidak suka minuman manis." Zian berkata Ketika lunam memberikan cangkir berisi hot coklat itu padanya.
Gadis itu menggelengkan kepala. "Ini dark cokholate. Rasanya tidak terlalu manis." ucapnya meyakinkan. Dan akhirnya Zian pun mau mengambil cangkir berisi coklat panas itu dari tangan Luna lalu meminumnya.
"Bukankah kau memiliki orang tua dan keluarga, lalu kenapa kau malah memutuskan untuk tinggal sendirian dan terpisah dari mereka?" Zian menoleh dan menatap Luna dengan bingung.
Karena setahu Zian, gadis seusia Luna lebih memilih untuk tinggal bersama keluarganya daripada harus tinggal sendirian. Tapi yang Luna lakukan justru malah sebaliknya.
Gadis itu menoleh dan membalas tatapan Zian. Membuat dua warna berbeda warna milik mereka saling bersirobok.
__ADS_1
"Karena aku ingin mandiri. Aku membutuhkan privasi dan hal itu tidak bisa aku dapatkan ketika tetap tinggal bersama mereka. Jadi aku memutuskan untuk tinggal terpisah dari keluargaku." Jelas Luna. Zian mengangguk paham.
keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua tak ada lagi perbincangan diantara Luna dan Zian, setelah perbincangan singkat itu. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan, baik Luna maupun Zian tak ada yang bersuara. Keduanya memilih untuk diam.
Sesekali Zian menoleh dan menatap Luna. Memperhatikannya dengan seksama. Mulai dari mata hazelnya yang indah, hidung kecilnya yang mancung, pipinya yang tirus dan bibir tipisnya yang menggoda. Ditambah dengan kulitnya yang putih bersih semakin menunjang kecantikannya yang alami.
Sadar tengah diperhatikan. Lantas Luna menoleh dan membuat mata berbeda warna milik mereka berdua kembali bersirobok.
Ada getaran aneh yang Zian rasanya ketika menatap mata gadis disebelahnya ini. Sedangkan Luna seketika menjadi gugup dan salah tingkah. Dia merutuki Zian yang tiba-tiba menatapnya seperti itu.
"Ekhem, kenapa udara disini tiba-tiba jadi panas sekali ya." Seru Luna seraya bangkit dari duduknya. Dan dingin bagaimana, jelas-jelas udaranya sangat-sangat dingin.
Dan selepas kepergian Luna. Di depan perapian hanya menyisakan Zian sendirian. Pemuda itu meminum kembali coklat panasnya , pandangannya lurus pada batu bara yang menyala memerah di depannya. Ponsel milik Zian tiba-tiba berdenting yang menandakan ada pesan masuk.
"Pulanglah, Papa sedang sakit dan dia merindukanmu."
Rindu... Apa dia tidak salah dengar? Hanya disaat ketika dia sakit, ayahnya mengingat dirinya. Lalu kemana saja dia selama ini? Ketika dia senang, ketika dia bahagia, apa sekali saja dia pernah mengingat dirinya? Tapi kenapa saat sedang sakit, tiba-tiba merindukannya? Zian tertawa meremehkan. Dan Zian tau jika itu hanya bualan saja.
Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya, siang melirik ke belakang melalui ekor matanya dan mendapati Luna menuruni tangga dengan langkah sedikit terburu-buru. Membuat Zian penasaran, terlebih lagi ketika melihat ekspresi gadis itu.
"Ada apa?" tanya Zian tanpa basa-basi.
"A..Ada cicak jatuh diatas tempat tidurku. Aku sudah coba mengusirnya, tapi cicak itu tidak mau pergi juga dan aku takut sekali bantu. Zian, aku mengusir cicak itu." rengek Luna memohon.
Zian memicingkan matanya dan menatap Luna dengan pandangan tak percaya. "Kau takut pada cicak?" ucapnya memastikan. Luna menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Zian.
__ADS_1
"Bukan takut lagi, aku sangat-sangat takut sekali!!"
"Aneh sekali melihat gadis bar-bar sepertimu malah takut sama cicak." kemudian Zian bangkit dari duduknya dan melenggang menuju kamar Luna, ikuti Gadis itu yang berjalan mengekor di belakangnya.
"Zian, tunggu!!" seru Luna lalu menyusul Zian yang sudah berjalan mendahuluinya.
Seekor cicak kecil Zian temukan diatas tempat tidur Luna. Pantas saja cicak itu tidak bergerak, karena cicak tersebut sudah mati. Tanpa banyak drama yang menggelikan, Zian mengambil cicak itu dengan tisu lalu membuangnya keluar dari jendela kamar Luna yang terbuka.
"Cicaknya sudah mati, jadi pantas saja tidak bergerak saat kau mencoba untuk mengusirnya."
Luna menghela napas lega, karena akhirnya cicak itu disingkirkan dari tempat tidurnya. Luna memang sangat takut pada cicak.
Dia trauma pada hewan pemakan nyamuk tersebut, karena Luna memiliki pengalaman buruk dengan cicak saat masih berusia 8 tahun. Saat itu seekor cicak jatuh tepat di atas kepalanya, dan sejak saat itu Luna menjadi sangat takut pada cicak.
"Terimakasih, Zian. Untung saja ada dirimu. Kalau tidak ada dirimu, bisa-bisa aku tidur di sofa semalaman karena tidak berani naik ke atas tempat tidur." Ucap Luna.
"Hanya hal kecil. Ya, sudah. Aku turun dulu." Zian beranjak meninggalkan kamar Luna dan kembali duduk di depan perapian.
Diam-diam Zian menarik sudut bibirnya dan mengukir senyum tipis. Luna benar-benar unik dan berbeda, dan baru kali ini ada perempuan yang mampu membuat Zian merasakan perasaan tak biasa.
Mungkinkah sang Gangster sedang jatuh cinta pada gadis penolongnya, atau perasaan yang dia rasakan hanyalah perasaan semu semata? Atau mungkin hanya perasaan kagum dengan sifat Luna yang menurutnya sangat unik? Entahlah biar waktu yang menjawabnya!!
.
.
__ADS_1
Bersambung