
Luna membuka pintu kamarnya dan mendapati Zian yang sedang memagut dirinya di depan cermin. Kemeja hitam lengan panjang, vest hitam, celana bahan yang senada dengan warna vest-nya, serta sepatu pantofel dengan warna senada.
Zian terlihat sangat tampan dengan balutan pakaian serba hitamnya, meskipun tanpa jas yang akan semakin menyempurnakan penampilannya. Ya, Zian masih belum menyiapkan jasnya.
"Zian," panggil Luna sambil berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambilkan jas kerja milik Zian.
"Hn,"
"Kau benar-benar akan mulai kerja hari ini?" Luna membantu Zian memakai jasnya kemudian merapikan dasinya yang sedikit berantakan.
Zian mengangguk. "Aku dan Paman Wang, sudah membuat rencana. Hari ini akan di adakan rapat para pemegang saham, dan ini sudah saatnya untuk aku mengakhiri semua kekacauan ini!" ujar Zian.
"Aku mendukungmu. Apa pun keputusanmu, aku yakin itu adalah yang terbaik," Luna tersenyum tulus membuat hati Zian menghangat. Pria itu merasa beruntung memiliki wanita ini di sisinya, Ia memang tidak salah memilih pendamping hidup.
Luna sedikit tersentak saat Zian tiba-tiba saja menarik tengkuknya dan mendaratkan satu ciuman di bibirnya. Memberikan lumattan-lumattan kecil pada bibir merah mudanya, mereka sama-sama menggerakkan kepalanya seirama. Zian semakin memperdalam ciumannya dengan sedikit menekan tengkuk Luna agar ciuman itu tidak mudah terlepas.
Tak ingin dianggurkan, tangan satunya memeluk pinggang Luna dengan protektif. Setelah lebih satu menit, Zian melepaskan ciumannya dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Terimakasih, Luna," ucap Zian berbisik.
Luna mengerutkan dahinya, tidak biasanya sang suami mengucapkan terima kasih. "Terima kasih? Untuk apa?" Luna melonggarkan pelukan suaminya dan menatapnya penuh tanya.
Zian tersenyum lembut, mengangkat tangan kanannya kemudian menepuk kepala Luna dengan
lembut hingga membuat wajah wanita memerah karena mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya. "Untuk segalanya," jawabnya tanpa memudarkan senyum di bibirnya. Luna membalas senyum Zian dan kembali memeluknya.
"Kau tidak perlu berterimakasih, karena aku melakukan apa yang seharusnya ku lakukan." Luna tersenyum lembut, senyum yang tulus dan hangat.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku pergi dulu, baik-baik di rumah. Jika kau bosan, kau bisa pergi ke toko bunga dan membantu di sana." Zian menepuk kepala Luna lalu meninggalkannya begitu saja. Dan kebetulan sekali Luna memang ingin pergi ke sana.
.
.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah lebih dari dua bulan semenjak kekacauan itu terjadi. Dan semua tetap berjalan seperti biasanya. Malam berlalu dan pagi telah datang menggantikan hari lalu dan hadir hari baru.
__ADS_1
Suasana Lu Empire tidak ada bedanya dengan hari-hari sebelumnya. Namun ada yang sedikit berbeda dari gedung yang memiliki lima puluh lantai tersebut. Beberapa eksekutif yang jarang terlihat tampak berlalu lalang, juga beberapa CEO muda yang tampak asing Dimata orang-orang di Lu Empire
Terlihat seorang wanita memasuki ruangan yang akan digunakan untuk rapat hari ini. Wanita cantik itu menghela napas lega, orang yang dia tunggu ternyata sudah datang. Dan setelahnya seorang pria berkaca mata datang bersama Vincent, CEO dari Xia Corp.
Wanita itu menyeringai, memandang kedatangan asisten pribadi pemimpin lama yang tanpa pengawalan dengan tatapan meremehkan. Dia adalah asisten pribadi sekaligus tangan kanan mendiang Kakek Lu.
"Tuan Remon, Nyonya Maya!" wanita itu membungkuk menyambut kedatangan mereka berdua, salah satu petinggi Lu Empire saat ini.
"Kerja bagus, Melisa. Kau memang yang terbaik," Remon menepuk bahu wanita itu 'Melisa' dan melewatinya begitu saja.
"Apa semuanya sudah datang?" Tanya Maya dan di balas anggukan oleh Melisa.
"Sudah, Nyonya Maya, semua sudah menunggu di dalam. Pria itu juga sudah tiba." Melisa berbicara layaknya seorang profesional.
"Bagus, kita bisa mulai rapatnya!"
Remon di ikuti Melisa dan Maya memasuki auditorium. Melisa berjalan paling belakang, Ia segera menyusul mereka setelah menutup pintu ganda tersebut. Semua kursi telah terisi penuh.
Sebenarnya Zian, Sean dan ayahnya bukanlah keluarga Lu yang tersisa. Karena Zian masih memiliki bibi dan paman, saudara kandung ayahnya. Namun sayangnya hubungan mereka kurang baik. Mereka bertiga selalu merebutkan harta yang jelas-jelas bukan hak mereka lagi.
Karena semua sudah mendapatkan warisannya masing-masing, namun mereka tak puas dan menginginkan semua menjadi miliknya. Termasuk perusahaan utama yang saat ini sedang mereka perebutkan, yang sebenarnya adalah milik Zian. Karena Kakek Lu sendirilah yang menyerahkannya padanya.
Perusahaan mengalami kerugian besar-besaran karena harga saham yang terus merosot dan hal itu berdampak pada para Investor yang menanam sahamnya di Lu Empire, di tambah dengan adanya penggelapan dana perusahaan dalam jumlah besar dan itu berakibat sangat fatal pada nasib perusahaan. Dan untuk itu para Investor menyetujui usul tim Remon untuk menjadikan dia sebagai pemimpin yang baru.
Di tengah perdebatan alot mengenai kekacauan itu, tiba-tiba Remon memberi kabar yang sangat mengejutkan semua pihak namun tidak untuk Vincent, Tuan Xia dan pria berkacamata yang diketahui bernama Jerry Park, karena mereka bertiga telah mengetahui permainan Remon dan timnya.
Remon mengambil dokumen yang di berikan Melisa kemudian memperlihatkan pada semua pemegang saham yang ada di ruangan auditorium.
Dalam dokumen itu menyebutkan jika dialah pemilik dari 70% saham yang selama ini menjadi misteri, Ia beralasan karena tidak ingin luar tau jika Ia lah pemilik saham tersebut.
"Ini adalah bukti-bukti jika saya adalah pemilik saham tersebut. Jika Anda sekalian tidak percaya, silahkan di periksa keasliannya!" ujar Remon.
"Kenapa kami harus mempercayai Anda jika dokumen itu asli bukan palsu? Bisa saja Anda memalsukannya dan mengklaim jika saham 70% itu adalah milik Anda!" Vincent terlihat kesal dengan pernyataan Remon. Ia yang sedari tadi diam pun akhirnya angkat bicara.
"Anda meragukannya, Tian Muda Xia? Kenapa?? Sepertinya Anda sangat percaya dengan Donny Lu, apa kalian telah melakukan persekongkolan? Dan jangan-jangan, kaulah dalang di balik penggelapan dana perusahaan?" tuding Remon dengan nada telak.
__ADS_1
"Jaga bicara Anda, Tuan Remon!" Tuan Lu yang tidak terima putranya di fitnah langsung berdiri melayangkan keberatannya. "Anda bisa kami tuntut atas pencemaran nama baik," ucapnya menambahkan.
"Kenapa Anda harus marah, Tian Lu? Apa karena dia putra Anda, makanya Anda tidak terima atas tuduhan saya?" Remon menyeringai melihat raut kesal Tuan Xia. "Saya hanya menyampaikan asumsi saja," lanjutnya.
"Kenapa bicara Anda seolah-olah ingin menjatuhkan pemimpin terdahulu? Atau jangan-jangan Anda memang memiliki maksud terselubung?" Sahut pria berkacamata itu menyampaikan pendapatnya.
"Silahkan saja anda ingin berbicara apa saja, Namikaze-san. Tapi itu tidak akan menutup fakta jika Itachi-sama bukanlah seorang pemimpin yang baik. Jika dia bersungguh-sungguh dalam memimpin perusahaan ini, tidak mungkin perusahaan mengalami masalah seserius ini,"
"Jadi apa yang anda inginkan, Tuan Remon?" ucap pria berkacamata yang mulai geram dengan sikap arogan Remon.
"Jerry Lee, kau adalah orang yang paling dipercayai oleh mendiang ayahku. Untuk itu, bergabunglah denganku dan menyerahkan posisi itu padaku sebagai pemegang saham terbesar. Dan untuk Anda sekalian. Anda bisa menentukan mana yang terbaik, membiarkan posisi CEO tetap kosong dan perusahaan tetap dalam posisi kritis seperti ini, atau mengikuti saya dan membuat perusahaan menjadi lebih baik. Silahkan anda putuskan!" Remon menatap semua yang ada di aula satu persatu.
Para pemegang saham saling berbisik-bisik, sementara Jerry tampak tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi hal yang berbeda justru di rasakan oleh Tuan Xia dan Vincent, mereka berdua resah dan takut jika perusahaan akan jatuh ke tangan Remon.
Bukannya Ia tidak percaya pada kepemimpinan Remon, tapi Tuan Xia takut bukannya membaik, perusahaan akan semakin hancur. Dan Ia menyimpan besar harapan pada pewaris yang sesungguhnya, yang sampai detik ini identitasnya belum diketahui, dan dia benar-benar sangat berharap jika sang pewaris utama akan hadir dalam rapat ini meskipun kemungkinan itu sangat kecil.
"Bagaimana jika kita melakukan voting untuk menentukan siapa yang lebih pantas dan lebih kayak untuk menjadi pemimpin tertinggi Lu Empire selanjutnya." Melisa memberi usul untuk memecahkan kemelut di dalam ruangan auditorium yang jelas telah di rencanakan oleh Remon dan timnya.
"Untuk apa kita melakukan voting? Bukankah masih ada Tuan Muda kedua yang jauh lebih pantas menjadi pemimpin selanjutnya! Karena dia adalah pewaris yang sebenarnya," Jerry mengutarakan pendapatnya.
"Tapi selama ini dia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada perusahaan ini bahkan menunjukkan diri di perusahaan atau di media masa saja belum pernah. Bagaimana kami semua bisa mempercayai kinerjanya? Saya keberatan dengan pendapat anda, Tuan Jerry!" seru Maya dengan lantang.
Auditorium menjadi gaduh setelah penuturan Maya. Tuan Xia dan Vincent mulai terpancing, tapi mereka berusaha untuk tetap tenang. Tuan Xia memandang Jerry yang tampak tak terpengaruh sama sekali. Di tengah-tengah kegaduhan, tiba-tiba pintu pintu ganda auditorium terbuka membuat semua mata terarah padanya.
Seorang pria muda muncul lengkap dengan setelan jas berwarna hitam yang membalut tubuhnya dan terlihat gagah. Semua bertanya-tanya siapa sebenarnya pria muda itu, karena wajahnya begitu asing sementara Melisa, dia hanya bisa menahan nafasnya melihat ketampanan pria muda tersebut.
Tuan Xia sendiri tidak bisa menutupi keterkejutannya melihat siapa yang datang, begitupun dengan Vincent. Mereka benar-benar tak bisa percaya dengan apa yang disaksikan oleh matanya.
Berbeda dengan mereka berdua, Jerry justru senang melihat kedatangan orang itu, Ia seperti menemukan sebuah harapan dengan kehadirannya diwaktu yang sangat tepat.
Semua pasang mata tak dapat mengalihkan pandangannya dari orang itu yang berjalan dengan di ikuti sang kepala pelayan di kediaman Lu, serta empat CEO muda dari perusahaan yang diketahui telah menarik semua sahamnya dari Lu Empire selama beberapa tahun ini.
"Ya, Tuhan. Apa aku tidak salah lihat? Pa, bukankah dia adalah... Zian?!"
.
__ADS_1
.
Bersambung.