Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Bocah Kematian


__ADS_3

Suasana di bandara memang tidak pernah mati, baik itu pagi, siang, ataupun malam, bandara selalu ramai dengan kedatangan atau keberangkatan. Banyak orang-orang berlalu lalang dan memenuhi setiap sudut bandara. Baik itu yang baru tiba atau yang hendak berangkat.


Diantara semua orang yang ada di sana. Terlihat pasangan muda yang sedang berdiri bersama dengan orang-orang yang datang untuk menjemput sanak-saudaranya yang baru tiba dari luar negeri.


Mereka berdua adalah Zian dan Luna. Sebenarnya Luna sendiri tidak tau siapa orang yang hendak di jemput oleh Zian, karena dia tidak mengatakan apapun dan hanya memintanya untuk menemaninya menjemput seseorang. Tak ingin rasa penasaran menyiksanya, akhirnya Luna memutuskan untuk bertanya.


"Zian, sebenarnya kita datang kemari untuk menjemput siapa?" dan setelah cukup lama menahan diri, akhirnya pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Luna.


"Keponakanku. Sebelum menikahi Mama, Papa sudah pernah menikah dan dengan istri pertamanya dia memiliki sepasang anak kembar. Ibu meninggal satu bulan yang lalu sedangkan ayahnya masuk penjara karena obat-obatan, makanya aku meminta mereka untuk datang kemari supaya bisa merawat dan memberikan pendidikan yang layak untuknya." Jelas Zian.


Bisa dibilang Ibu Zian adalah perusakan rumah tangga orang lain. Dia adalah orang ketiga dalam pernikahan Ayah Zian dengan istrinya terdahulu. Donny Lu sudah pernah menikah, dan dari pernikahannya tersebut dia memiliki seorang putri.


Namun sayangnya kebahagiaan keluarga Donny harus berakhir karena kedatangan Ibu Zian, yang kemudian menjadi duri dalam rumah pasangan harmonis tersebut. Donny Lu menceraikan istri pertamanya dan meninggalkannya begitu saja lalu menikahi Ibu Zian. Wanita yang lebih kaya darinya.


Hubungan Zian dengan keluarga Ibu tirinya sangat baik, bahkan dekat. Karena mereka tahu jika Zian tak pernah dianggap sejak dia masih kecil, dan dialah orang yang selalu memberikan semangat serta menguatkan Zian ketika dia masih kecil selain nenek dan kakeknya.


Berbanding balik dengan Zian, Sean justru sangat jauh dari mereka. Bahkan mereka sangat membenci Sean karena sikap arogannya. Dan untuk menghormati mendiang kakak tirinya yang sudah begitu baik padanya, maka Zian akan menggantikan perannya untuk menjaga putra kembarnya.


"PAMAN ZIAN!!" dua pemuda berteriak sambil Melambaikan tangannya ke arah Zian dan Luna. Kemudian keduanya menghampiri mereka berdua menghambur ke dalam pelukan sang Paman. "Huaaa... Paman kami sangat merindukanmu," ucap si kembar mampir bersamaan. Mereka berdua adalah Jii-Sung dan Ren-Jun.


Kemudian Zian mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan keponakan kembarnya. "Kalian sudah besar rupanya. Sebaiknya kita pulang sekarang, kalian pasti lelah." Zian melepaskan pelukannya dan menatap mereka berdua bergantian.


"Tapi, Paman. Sebelum pulang, kakak kau membawa kami berdua makan siang terlebih dulu? Kami sangat lapar," rengek Jii-Sung sambil mengusap perutnya yang keroncongan. Pandangan Zian lalu bergulir pada Ren-Jun, pemuda itu menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang Jii-Sung katakan.


Zian menghela napas. "Baiklah, kita makan siang dulu saja."


"Tapi, Paman. Ngomong-ngomong siapa Nunna cantik ini? Apa dia Kekasihmu?" tanya Ren-Jun penasaran.


"Namanya, Luna. Dia Bibi kalian, bukan kekasihku tapi istriku," jelas Zian menuturkan. Dan setelah acara perkenalan, kemudian siang mengajak mereka bertiga untuk pergi makan siang "Ya, sudah. Ayo pergi sekarang,"


Mereka berempat pun segera meninggalkan bandara. Ren-Jun dan Jii-Sung sama-sama sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Naik pesawat selama berjam-jam tidak hanya seperti uji nyali, tapi juga membuat perut mereka keroncongan.


.

__ADS_1


.


"ZIAN, KELUAR KAU BAJINGAN!! BIARKAN KAMI MENGHABISIMU!!"


Keributan yang terjadi luar mengganggu aktifitas para pelayan yang sedang bekerja di kediaman Lu. Mereka pun berbondong-bondong keluar untuk melihat orang gila mana yang berani mengacau dan membuat keributan.


Paman Kim menghampiri mereka berdua yang pastinya adalah Maya dan Remon. Entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa kabur dari anak buah Zian yang menangkapnya, lalu pergi ke kediaman Lu untuk membuat perhitungan.


"Nyonya Maya, Tuan Remon, Untuk apa Anda berdua datang kemari?" tanya Paman Kim kepada kedua orang itu.


"Dimana bajing*n kecil itu? Cepat suruh dia keluar, kami ingin membuat perhitungan dengannya!!" ucap Remon dengan penuh amarah.


"Tuan Muda, sedang tidak ada di rumah. Jadi sebaiknya Anda berdua pergi saja," pinta Paman Kim pada mereka berdua.


"Kami berdua tidak akan pergi sebelum membuat perhitungan dengan bajiingan itu!!" sahut Maya menimpali.


Paman Kim menghela nafas. Sepertinya berbicara dengan mereka berdua memang membutuhkan banyak kesabaran. Malas berurusan dengan kedua orang itu, Paman Kim pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mereka begitu saja.


"YAKK!! Kenapa kami malah ditinggalkan?!" teriak Maya dan Remon dengan marah.


.


.


Luna dan Zian menghela napas seraya menggelengkan kepala melihat tingkah Jii-Sung dan Ren-Jun. Ada saja tingkah konyolnya, bagi Zian ini bukan yang pertama, karena dia sudah sering melihat kekonyolan mereka berdua. Tapi bagi Luna, jelas ini yang pertama. Karena memang ini pertemuan mereka.


"YAKK!! Jun, seharusnya kau itu mengalah padaku, kau itu Kakak dan aku Adik. Dan dimana-mana Kakak itu harus mengalah pada adiknya!!" seru Jii-Sung yang tidak terima makanannya diambil oleh Ren-Jun.


Segera Ren-Jun menjauhkan menjauh makanan itu dari Jii-Sung. "Enak saja!! Jangan hanya karena kau Adik dan aku Kakak, maka aku akan mengalah padamu. Oh, tidak bisa , ya!!" tegasnya.


Jii-Sung mempoutkan bibirnya mendengar jawaban Ren-Jun. "Dasar kakak tidak berhati pada adik sendiri tidak mau mengalah. Ren-Jun, kau sangat menyebalkan!! Huaa, ayam gorengku," rengek Jii-Sung sambil menunjuk ayam goreng yang sedang dimakan oleh Ren-Jun.


Luna menuju mereka berdua sambil menatap Zian yang juga menatap padanya. "Apa mereka berdua memang selalu seperti itu? Bertengkar dan ribut tanpa tau tempat?" tanya Luna penasaran.

__ADS_1


Zian menghela napas. "Ya, Memang begitulah mereka berdua. Selalu saja ribut, dan nyaris tidak pernah akur." Jawab Zian.


Bukannya merasa terganggu dengan sikap kekanakan mereka berdua. Luna justru menikmati pertengkaran si kembar, karena menurutnya mereka sangat menggemaskan, apalagi ketika Jii-Sung mempoutkan bibirnya seperti itu karena diomeli Ren-Jun habis-habisan. Dan bukanya menyeramkan ketika sedang marah. Ren-Jun justru terlihat sangat menggemaskan.


"Kak,lihatlah Njun, dia mau mengalah padaku. Padahal aku ini Adik, dan dia Kakak. Jadi seharusnya kan Kakak mengalah pada Adiknya, bukan Adik yang mengalah pada Kakaknya." Rengek Jii-Sung. Dia mengadukan Ren-Jun pada Zian.


"Sudah cukup kalian berdua. Hanya masalah sepele saja kenapa harus diributkan?! Kita bisa memesannya lagi, tidak perlu sampai bertengkar. Dan kau, Sung. Bukankah kau sudah habis tiga potong paha dan dua sayap, tapi kenapa masih tidak terima Ren-Jun memakan satu potong yang tersisa?!" bukannya mendapatkan pembelaan dari Zian, Jii-Sung justru diomeli habis-habisan oleh sang Kakak.


Pemuda itu mempoutkan bibirnya. Niat awalnya ingin mencari dukungan, justru malah dirinya yang diomeli habis-habisan oleh Zian. Benar-benar sangat menyebalkan, pikir pemuda itu. Sementara Ren-Jun terlihat mengurai senyum penuh kemenangan.


Dan setelahnya, tak ada lagi keributan di antara mereka berdua. Karena Zian memesan dua porsi ayam goreng lagi untuk mereka berdua supaya tidak ribut dan berebut. Dan tentu saja hal itu membuat mereka berdua girang bukan main.


Setelah menyelesaikan makan siangnya dan membungkus dua porsi ayam goreng untuk dibawa pulang. Mereka pun melanjutkan perjalanan dan pulang ke kediaman Lu. Zian baru saja menerima telfon dari Paman Kim jika terjadi keributan di rumah akibat ulah Remon dan Maya.


Zian tidak tau bagaimana mereka berdua bisa kabur dan melarikan diri dari anak buahnya. Tapi Zian tak merasa heran juga, karena mereka berdua selicin belut.


.


.


Kedatangan sedan hitam mengalihkan perhatian Maya dan Remon. Keduanya mengangkat kepalanya dan mendapati kedatangan orang yang sedari tadi mereka tunggu kepulangannya, siapa lagi jika bukan Zian. Remon dan Maya langsung berdiri lalu menghampiri Zian.


"Zian!! Bajingan, apa yang kau lakukan pada kami?! Berani-beraninya kau menyewa orang untuk menculikku dan, Maya!!" teriak Remon dengan emosi.


Bukan Zian yang menghampiri mereka berdua, melainkan kan si kembar. Ren-Jun dan Jii-Sung seolah tidak terima mendengar Remon berteriak dan bicara dengan nada tinggi pada Zian. "YAKK!! KAKEK TUA, SIAPA KAU BERANI BERTERIAK PADA PAMAN KAMI?!" teriak keduanya dengan kompak.


"Bocah, sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Kau pikir diri kalian ini siapa bisa berteriak pada kami, hah!!" seru Maya yang tak suka dengan sikap mereka berdua.


Ren-Jun dan Jii-Sung saling bertukar pandang dan keduanya sama-sama tersenyum lalu menatap mereka berdua dengan sebuah seringai tajam dibibir masing-masing. "Hehehe, kalian bertanya siapa kami, ya? Baiklah, kami akan memperkenalkan diri. Orang-orang biasa memanggil kami dengan sebutan.... Bocah Kematian!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2