
"HUAA... ZIAN, CEPAT SELAMATKAN AKU DARI MEREKA!!!"
Luna berteriak histeris sambil berlari kencang kearah Zian lalu bersembunyi dibelakang pemuda itu. Sungguh Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. disaat dirinya sedang membutuhkan pertolongan, Zian muncul bak pangeran berkuda putih.
"Luna, apa-apaan kau ini? Kenapa kau bisa berurusan dengan mereka?" Zian menoleh dan menatap Luna penasaran.
"Ceritanya panjang, dan intinya hanya salah paham. Mereka mengira jika aku adalah bagian dari para wanita malam yang sedang menjajakan dirinya dipinggir jalan." Jelas Luna.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Zian penasaran.
"Aku bilang panjang ceritanya. Nanti akan ku ceritakan, tapi bisakah sekarang kau bawa aku pergi dulu dari sini?" Mohon Luna sambil menatap sepasang mata hitam itu penuh harap.
Pemuda itu menghela napas, dia tidak tahu masalah apa yang sebenarnya Luna ciptakan sampai-sampai dia harus berurusan dengan para petugas itu. Dan Zian tak mungkin membawanya pergi begitu saja sebelum masalah diantara mereka selesai. Jadi lebih baik menyelesaikan dulu kesalahpahaman diantara mereka.
"Tidak!! Kau tidak bisa kabur begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun pada mereka, jangan biarkan orang lain salah paham padamu dan menganggapmu sebagai wanita tidak benar. Karena jika bukan kau sendiri, lalu siapa yang akan menghargai dirimu?!" ujar Zian dan seketika membuat Luna terdiam.
Benar apa yang Zian katakan, tidak seharusnya dia melarikan diri, sementara dirinya tidak bersalah sama sekali. Ia memang harus berani untuk menghadapinya. Dia harus menjelaskan pada mereka jika dirinya bukan wanita malam seperti yang dituduhkan. Luna harus bisa membersihkan nama baiknya agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman
"STOOPP!!" Luna berteriak sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan. Membuat langkah beberapa petugas yang mengejarnya terhenti detik itu juga. Luna kemudian melepas wig yang dia pakai dan membuangnya ke tanah. "Sudah aku katakan dengan jelas jika aku ini bukan bagian dari mereka, tapi kenapa kalian tidak percaya dan menganggap aku berbohong!!" dia menatap para petugas itu satu persatu.
"Nona, jangan mengelak lagi. Jangan kau pikir dengan penjelasan seperti ini, maka kami akan melepaskanku. Bukti sudah nyata, saat penggerebekan kau ada di sana, lalu apa lagi jika kau bukan bagian dari mereka?!"
Luna menghela napas. Para petugas itu benar-benar membuatnya kesal setengah mati, kenapa sih mereka harus menyebalkan seperti itu? Seharusnya mereka mau mendengarkan penjelasannya terlebih dulu, bukan asal menuduh.
__ADS_1
"Aku ini adalah putri dari keluarga terhormat, dan tidak ada ceritanya Putri dari keluarga Xia kekurangan uang sampai-sampai menjajahnya diri dipinggir jalan. Dan kenapa aku tadi berdiri di sana bersama mereka karena salah satu dari wanita-wanita itu ada yang sakit perut jadi aku membantunya menunggu taksi. Jika kalian bertanya kenapa aku sampai memakai wig berwarna nyentrik, itu karena aku tadi menemui para anak pengidap kanker, aku mencoba menghibur mereka supaya anak-anak itu gembira!!" akhirnya Luna pun memberikan penjelasan panjang lebar pada para petugas tersebut.
Sementara itu. Para petugas itu terkejut bukan main setelah mereka mendengar marga yang disebut oleh Luna. "Ka..Kau adalah Nona keluarga, Xia? Itu artinya kau adalah Cucu dari, Ketua Xia?" seru petugas kepolisian itu tak percaya.
Luna mengangguk. "Ya, dia Kakekku. Apa perlu aku menghubunginya supaya menghukum kalian semua karena berani menindas cucu kesayangannya?!" Luna menunjukkan nomor ponsel kakeknya pada mereka berlima.
Kelima petugas itu pun menggelengkan kepala."Tidak, Nona. Jangan, kami tidak ingin dipecat. Dan kami semua masih ingin bekerja. Kami sungguh-sungguh minta maaf karena telah salah paham pada, Anda. Kalau begitu kami permisi dulu." Kelima petugas itu pun buru-buru pergi dari hadapan Luna dan Zian.
Luna menghela nafas, dia tidak tahu mimpi buruk apa yang ia alami semalam sampai-sampai harus mengalami kesialan seperti ini. Benar-benar sial, pikirnya. Lalu pandangan Luna bergulir pada Zian.
Gadis itu menelan salivanya sedikit bersusah payah saat menyadari penampilan Zian yang lumayan panas. Dia hanya hanya memakai singlet tanpa jaket, rompi, kemeja maupun t-shirt. Memperlihatkan lekukan tubuhnya yang nyaris sempurna. Perut rata berbentuk, lengan ototnya yang tidak terlalu besar namun cukup kuat ketika disentuh.
Wajah tampan yang tanpa cacat sedikit pun, selain bekas luka bekas perkelahian dan kecelakaan. Tapi sungguh, bekas luka itu tak mampu sedikit pun mengurangi ketampanannya. "Kenapa bengong?" dan suara dingin itu segera menyadarkan Luna untuk kembali ke alam sadarnya.
"Cepat naik, aku antar kau pulang." Pinta Zian, Luna menganggukkan kepala.
Zian merasakan getaran Aneh ketika Luna memeluknya dari belakang. Motor besar yang dia kendarai mulai melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Tak banyak kendaraan yang berpapasan dengan mereka, hanya ada beberapa saja. Dan itupun kendaraan proyek yang hendak kembali ke garasi.
Sesekali Zian menoleh ke belakang, dan menatap Luna dari ekor matanya. Gadis itu terlihat menutup matanya rapat-rapat. "Kau takut?" tanya pemuda itu memastikan.
Luna mengangguk kaku. "Ya, bukan hanya takut, tapi aku sangat-sangat takut. Bagaimana jika kita sampai mengalami kecelakaan lalu kehilangan nyawa? Aku masih muda dan belum menikah apalagi merasakan malam pertama," ujarnya panjang lebar.
Satu pertanyaan Zian, dan Luna jawab dengan panjang lebar. Dan konyolnya lagi, jawabannya begitu menggelikan. Sampai-sampai Zian yang dingin dan kaku nyaris saja tersedak air liurnya sendiri karena jawaban konyol gadis itu.
__ADS_1
"Dasar konyol," sahut Zian menimpali. Diam-diam Zian menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis.
Pelukan Luna semakin erat ketika Zian menambahkan kecepatan pada motornya. Motor besar itu menyalip sebuah truk yang melaju kencang di depan, Luna yang sangat ketakutan mencengkram pakaian Zian sambil menutup matanya rapat-rapat. Dia benar-benar ketakutan setengah mati.
Tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, keduanya sama-sama memilih diam dalam keheningan. Zian fokus pada jalanan dan Luna yang tetap memeluk pemuda itu dengan erat.
Dan setelah hampir tiga puluh lima menit berkendara. Akhirnya mereka tiba di kediaman Luna. Bukan rumah orang tuanya melainkan rumah milik Luna sendiri. Luna memang jarang menginap di rumah orang tuanya, kecuali ada acara tertentu.
"Sampai kapan kau akan menutup matamu? Kita sudah sampai," suara dingin Zian yang berkaur di telinganya segera menyadarkan Luna. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan sekelilingnya, benar yang Zian katakan jika mereka sudah sampai.
Luna melepaskan pelukannya pada Zian lalu turun dari motor besarnya. "Ayo masuk dulu," ucapnya.
Zian menggeleng, menolak ajakan Luna. "Tidak usah, aku langsung pulang saja." Jawabnya datar.
"Tapi, Zian~"
"Masuklah, diluar sangat dingin." Pinta Zian lagi. "Aku pulang dulu," dan dalam sekejap mata motor besar itu menghilang dari pandangan Luna. Gadis itu menghela napas. Kemudian dia masuk ke dalam setelah menggembok gerbang rumahnya.
Kebetulan sekali Luna juga sudah sangat mengantuk dan ingin segera beristirahat. Bekerja seharian membuatnya sangat-sangat lelah. Luna sangat-sangat merindukan kasur empunya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.