Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Sangat Berharap


__ADS_3

Ting...


Sebuah pesan singkat sedikit mengalihkan perhatian Zian. Pemuda itu membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah lalu membuka pesan tersebut. Kedua matanya memicing saat melihat nomor asing di ponselnya. Pesan itu dari nomor yang tak dia kenal, penasaran Apa isi pesan tersebut, Zian pun segera membukanya.


Lagi-lagi Pemuda itu memicingkan matanya. Dia mengamati beberapa foto yang dikirim padanya, alis Zian tertarik ke atas, wanita yang berada di foto itu terlihat tidak asing sama sekali. Dia seperti mengenalinya. Terlebih lagi ketika melihat postur tubuhnya.


"Vera?" ucapnya sedikit ragu.


Ting...


Pesan singkat kembali masuk ke ponsel Zian. Kali ini bukan foto melainkan rentetan huruf yang membingkai sebuah kata dan membentuk kalimat. Zian kemudian membuka dan membaca pesan singkat itu.'Wanitamu kini milikku!!' kurang lebih Itulah isi pesan singkat tersebut.


Zian menyeringai dan menata pesan itu dengan sinis. Kemudian dia mengirim pesan balasan pada si pengirim pesan. "Aku sudah tidak butuh wanita itu, jadi ambil saja untukmu. Aku tidak keberatan sama sekali!!" begitulah isi pesan balasan yang Zian kirimkan.


Tidak ingin orang itu menghubunginya lagi, Zian pun langsung memblokir nomor tersebut. Karena itu sangat mengganggunya.


"Zian, tumben kau datang sendirian? Dimana teman-temanmu yang tidak beres itu? Mereka tidak ikut datang bersamamu?" tanya seorang Bartender yang baru saja menyiapkan minuman beralkohol untuk Zian.


Pemuda itu mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu. Mungkin sada di markas," jawabnya sedikit acuh. Bahkan Zian sendiri tidak tahu dimana mereka berempat. Karena dia pergi tanpa sepengetahuan teman-temannya.


"Oya, bagaimana hubunganmu dengan, Verra? Sudah lama kalian berdua tidak datang bersama ke bar ini. Bukankah biasanya kalian selalu bersama-sama, atau mungkin hubungan kalian telah berakhir?" tanya bartender itu penasaran.


Kemudian Zian mengangkat wajahnya dan menatap bartender itu dengan malas. "Kami sudah putus," zian memberikan jawaban singkat pada pertanyaan itu. Dia terlalu malas untuk membahas mantan kekasihnya tersebut yang sekarang telah berubah status menjadi ibu tirinya.


"Hah," bartender itu pun terkejut mendengar jawaban Zian. "Apa aku tidak salah dengar, kau dan Vera putus? Rasanya tidak mungkin, bukankah kalian berdua saling mencintai, jadi bagaimana mungkin bisa putus?" dia menatap Zian dengan penasaran.


Pemuda dalam balutan singlet hitam, rompi putih dan celana belel hitam itu terlihat mengangkat bahunya. "Entah, mungkin memang belum jodoh," jawabnya dingin dan aku tak acuh. Zian benar-benar malas jika harus membahas hal apapun yang berhubungan dengan wanita itu.


Bagi Zian, Vera hanyalah sebuah masa lalu. Dia adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah ia miliki dalam hidupnya.


Dan jika waktu bisa diputar kembali, Zian kembali ke saat belum ia dan Vera bertemu kemudian saling jatuh cinta. Karena Zian ingin mencegah pertemuan diantara mereka yang ujung-ujungnya hanya membuatnya sakit hati dan terluka.


"Maaf, Zian. Aku benar-benar tidak tahu jika kau dan Vera sudah berakhir. Tapi bukan berarti hidup ini juga harus berakhir. Lagi pula wanita di dunia ini bukan hanya dia saja, masih banyak wanita lainnya yang jauh lebih baik, yang bisa membuatmu bahagia." Ujar bartender itu memberi semangat.


Dia juga baru saja Patah Hati, jadi ia memahami betul Apa yang dirasakan oleh Zian. "Kehilangan seseorang yang kita cintai memang sangat menyakitkan, tapi mungkin itu adalah jalan yang terbaik, daripada tetap bersama namun saling menyakiti."

__ADS_1


"Aku juga baru Patah Hati. Pria yang jauh lebih kaya dan lebih mapan dariku, dia mengakhiri hubungan kami yang sudah berjalan selama 2 tahun lebih. Aku sangat patah hati dan terluka, tapi aku mencoba untuk merelakannya." ujarnya panjang lebar.


Tak ada tanggapan dari pemuda itu, Zian memilih untuk diam dan tak mengatakan apapun. Dia kembali menikmati wine-nya. Dan bartender itu pun melanjutkan kembali pekerjaannya ketika ada pengunjung yang memesan dan meninggalkan Zian sendirian.


.


.


Sebuah motor besar memasuki arena balap liar yang mulai kosong, motor besar itu kemudian berhenti di depan beberapa pemuda yang sedang sibuk menggoda lawan jenisnya. Mengalihkan perhatian keempat Pemuda tersebut.


"Zian," dan salah satunya berseru menyerukan nama Zian.


"Kau dari mana saja? Kenapa beberapa hari ini Nomormu tidak bisa dihubungi? Lalu pelipis dan lenganmu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" Alex menghujani Zian dengan berbagai pertanyaan. Dia benar-benar penasaran kemana perginya pemuda itu selama beberapa hari ini dan juga perban yang ada di pelipis dan lengannya.


"Terjadi insiden kecil beberapa hari yang lalu. Aku mengalami kecelakaan tunggal, dan selama beberapa hari ini aku sengaja tidak pergi kemanapun untuk memulihkan kondisiku." Jelasnya.


Mereka berempat pun mengangguk mengerti.


Zian melihat keempat temannya dan memutar jengah matanya. Benar-benar tidak berubah, pikirnya. Di saat mereka berempat sedang sibuk menggoda para gadis, Zian Justru tidak tertarik sama sekali. Apalagi yang mereka goda adalah para wanita malam yang suka bermain di sana sini.


"Pulang," balasnya dingin dan singkat.


Selanjutnya yang terlihat oleh mereka berempat hanyalah punggung Zian yang semakin menjauh. Masa bodoh kemana pemuda itu pergi, mereka berempat pun melanjutkan kegiatannya dan bersenang-senang dengan wanita-wanita itu.


.


.


"Aduh, kepalaku!!"


"Papa!!" seru Luna dan Nyonya Xia nyaris bersamaan.


Tuan Xia benar-benar terkejut setengah mati saat mengetahui jika sebenarnya Luna dan Zian tidak memiliki hubungan apa-apa. Hubungan mereka berdua palsu. Luna sengaja meminta bantuan pemuda itu untuk menjadi kekasih pura-puranya lalu memperkenalkan dia pada keluarganya.


"Luna, kau benar-benar kejam sekali pada, Papa. Tega-teganya kau membohongi, Papa. Kenapa kau begitu kejam, Lun? Kenapa harus palsu sih, padahal Papa sudah sangat setuju pada hubungan kalian berdua, bahkan Papa juga berharap kau dan Zian bisa menikah lalu hidup bahagia. Tapi ternyata..."

__ADS_1


Tangis Tuan Xia pun pecah. Dia betul-betul tidak terima jika sebenarnya Luna dan Zian tidak memiliki hubungan apa-apa, padahal Ia sangat berharap mereka berdua segera menikah lalu memberinya cucu. Tetapi harapan tinggallah Harapan, karena kenyataannya tak seindah apa yang dia harapkan.


"Maaf, Pa. Tapi Papa juga yang, siapa suruh menjodohkanku dengan anak teman Papa yang super gendut dan menyebalkan itu. Jadinya aku terpaksa membawa pasangan palsu yang kemudian kukenalkan pada kalian bertiga." Ujar Luna tak mau kalah.


Tuan Xia benar-benar tidak bisa menerima jika sebenarnya hubungan Luna dan Zian itu palsu. Karena dia sangat berharap jika mereka berdua adalah pasangan yang sesungguhnya. Tapi faktanya malah sebaliknya.


"Pokoknya Papa tidak mau tahu, kau harus membuat hubungan yang palsu itu menjadi nyata. Luna, Papa sudah terlanjur menyayangi Zian. Dan Papa ingin agar dia yang menjadi menantu di keluarga ini. Jadi Papa mohon padamu, lakukan sesuatu," Tuan Xia menggenggam tangan Luna dan memohon padanya.


Luna meringis ngilu. Bagaimana caranya dia membuat hubungan palsu itu menjadi nyata, sementara ia dan Zian tidak memiliki perasaan apa-apa, begitulah yang Luna pikirkan. Diam-diam Luna menarik sudut bibirnya, entah kenapa dia begitu gembira saat mengetahui jika ayahnya hanya menginginkan Zian sebagai menantu keluarga Xia.


"Baiklah, Pa. Akan aku usahakan. Tapi aku juga tidak bisa berjanji. Karena aku sendiri tidak tau seperti apa perasaan Zian padaku, jadi Papa jangan terlalu banyak berharap. Kalau begitu aku pulang dulu. Iya, cepat sembuh ya, Pa." Luna mencium pipi ayahnya dan pergi begitu saja.


.


.


Seorang gadis berjalan sendirian menyusuri jalanan malam kota Seoul dengan berpayungkan langit gelap tak Berbintang. Awan hitam menggantung di atas sana dan siap menghantam bumi dengan rintik-rintiknya. Mendung gelap menandakan jika hujan akan segera turun.


"Ah, Hujan!!" gadis itu tiba-tiba berseru ketika air mata langit mulai menerpa tubuhnya dengan rintik-rintik kecil, yang semakin lama semakin tak terhitung jumlahnya.


Luna mendesah pelan, sementara iris hazelnya memandangi rintikan hujan di depannya. Lumayan deras, membuat gadis itu agak menyesal karena tak membawa mobil tadi. Sepertinya ia harus pulang agak larut kali ini. Mengingat jik jaraknya berada dan halte sekitar dua puluh meter lagi. Sementara hujan semakin deras. Luna harus segera mencari tempat untuk berteduh.


Dan ketika Luna hendak menyeberang jalan, sebuah motor besar tiba-tiba berhenti di samping garis itu dan membuat langkah Luna berhenti detik itu juga. Dia terkejut, kemudian orang yang ada diatas motor besar itu membuka helmnya.


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." ucapnya dengan dingin dan datar.


Pupil mata Luna membelalak setelah melihat wajah di balik helm tersebut."Zian," dan berseru lumayan kencang. "Kebetulan sekarang, sepertinya Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu disini karena dia tahu jika aku sedang membutuhkan tumpangan." Ucapnya dengan senyum lebar.


"Jangan banyak bicara, sudah cepat naik," pinta Zian menuntut.


Luna mempoutkan bibirnya dan mendengus kesal. Zian begitu menyebalkan. Kemudian dia pun naik keatas motor besar milik Zian. Beruntung ada pemuda itu, jika tidak dia pasti akan tiba di rumahnya sampai larut malam.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2