
Segerombolan pemuda berpenampilan serampangan menghentikan mobil Vera dengan memblokir jalan yang hendak dia lewati, membuat Vera dan ibunya menjadi sangat panik dan ketakutan. Apalagi Vera tahu siapa pemuda-pemuda itu.
"Vera, bukankah mereka adalah para gangster yang kau sewa untuk menghabisi putra dirimu itu? Lalu kenapa mereka semua mencegat kita?" tanya wanita paruh baya itu dengan bingung.
Vera menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, Ma. Sebaiknya Mama tetap disini, aku akan turun untuk menemui mereka," Vera melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari mobilnya dan menghampiri para gangster tersebut. Tangan Vera terkepal kuat. Tubuhnya sedikit gemetaran dan dia berkeringat dingin. "Ada apa kalian menghalangi jalanku?" Vera menatap para gangster itu satu persatu dan bergantian.
"Serahkan sisa pembayaran kami," pinta salah satu dari gangster- gangster itu.
"Sisa pembayaran apa? Kalian ingin memerasku, ya?! Bukankah dari awal aku sudah mengatakannya pada kalian, sisa pembayarannya akan aku berikan jika kalian berhasil menghabisi pemuda itu. Tapi apa hasilnya? Kalian semua ternyata gagal, jadi jangan mengharapkan aku akan memberikan sisa pembayaran itu!!" ujar Vera menegaskan.
Vera tidak mau rugi. Lagipula untuk apa dia memberikan sisa uang itu, sementara mereka semua gagal menyelesaikan pekerjaannya. Jadi dia tidak akan memberikan para gangster itu memakan gaji buta.
"Jangan menguji kesabaran kami, Nona!! Jika kau ingin selamat, maka serahkan sisa pembayaran kami sekarang juga!!" pinta anggota gangster itu menuntut.
"Tidak, tidak, tidak!! Sekali tidak tetap tidak, meskipun kalian membunuhku sekalipun aku tetap tidak akan menyerahkan uang itu!! Jadi sebaiknya kalian pergi saja, dan jangan menghalangi jalanku lagi!!" Vera tetap bersikeras untuk tidak menyerahkan sisa pembayaran yang telah dijanjikan.
"Kau benar-benar cari mati rupanya. Cepat beri pelajaran padanya," perintah pimpinan gangster tersebut pada anak buahnya.
"Baik, Bos!!"
Vera membelalakkan matanya. Seketika dia menjadi sangat panik, melihat orang-orang itu berjalan kearahnya. Vera mundur beberapa langkah kebelakang. "Ma..Mau apa kalian? Jangan mendekat!!" pintanya menuntut. namun tak dihiraukan oleh para pemuda gangster tersebut.
Dan sementara itu, di dalam mobil Ibu Vera pun menjadi semakin panik ketika melihat putrinya dalam bahaya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya melihatnya saja. Karena jika dirinya sampai keluar, tidak menutup kemungkinan Jika ia juga akan menjadi korban.
"AHHH," Vera berteriak histeris ketika mendapatkan pukulan keras pada ulu hatinya.
Wanita itu dihajjar habis-habisan oleh para gangster tersebut. Bahkan mereka tidak peduli jika dia adalah wanita. Vera benar-benar dijadikan samsak oleh para gangster tersebut. Dan mereka baru meninggalkannya ketika Vera tak sadarkan diri.
Ibu Vera pun segera keluar dari mobil setelah para gangster itu pergi. Dia menghampiri Vera yang terkapar dengan luka di sekujur tubuhnya. "Vera, bangun dan cepat buka matamu!!" teriak wanita itu dengan panik.
"Mama, sakit. Sakit, Ma," gumam Vera dengan suara lirih.
"Bertahanlah, Mama akan segara membawamu ke rumah sakit!!"
__ADS_1
.
.
Luna tak berkedip sedikit pun saat melihat para pelayan silih-berganti memasuki kamarnya dan Zian. Mereka membawa puluhan paper bag, yang berisi pakaian, sepatu, tas, perhiasan, make up, dan tak lupa pakaian dalam juga. Dan semua barang-barang itu berasal dari brand ternama dunia.
Dan Luna benar-benar tidak membayangkan jika dirinya akan diratukan oleh Zian. Semua kebutuhannya dipenuhi, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan Luna tidak tahu seberapa banyak uang yang telah Zian habiskan untuk semua barang-barang tersebut. Yang pasti jumlahnya tidaklah sedikit.
"Zian, kenapa banyak sekali barang-barang yang kau beli? Dan berapa banyak uang yang telah kau habiskan untuk membeli semua barang-barang ini?" Luna langsung menyerbu Zian dengan pertanyaan saat melihat pemuda itu memasuki kabar.
"Bagaimana, Apa kau menyukainya?" bukannya menjawab pertanyaan Luna, Zian malah balik bertanya. "Kau bisa memilihnya, mana yang kau sukai dan tidak. Yang tidak kau sukai akan dikembalikan ke boutiquenya ," ucapnya menambahkan.
"Jangan bilang jika kau mengosongkan seluruh isi boutique, dan membawa semuanya kemari?" Luna menatap Zian tak percaya. Dan pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Gila, gila, gila. Kau benar-benar gila, Zian."
"Memangnya kenapa, apakah salah jika seorang suami memanjakan istrinya? Dan apa yang aku lakukan ini, tidak sebanding dengan apa yang telah kau berikan padaku. Jadi jangan coba-coba untuk menolaknya, atau Aku akan menghabisimu sekarang juga!!" tukas Zian dengan sedikit ancaman.
Bukannya merasa takut dengan ancaman Zian, Luna malah tertawa dan menatap Zian dengan geli. "Ancamanmu tidak mempan padaku, Tuan Muda Lu. Tapi terima kasih, Zian. Karena sudah merantukanku. Aku sangat tersanjung dan terharu," Luna menatap Zian dengan senyum tulusnya.
Zian mengusap kepala Luna dan mengangguk. "Ya, sama-sama," ucapnya. "Sebaiknya segera pilih barang-barang yang kau sukai. Dan jika kau menyukai semuanya, kau bisa memiliki semua barang-barang ini." Zian menepuk kepala Luna.
"Baiklah, terserah kau saja. Aku ada urusan, aku pergi dulu." Zian mengecup kening Luna dan pergi begitu saja.
Zian baru saja mendapatkan telfon dari teman-temannya jika mereka mendapatkan masalah, markas mereka diserang oleh segerombolan orang tidak dikenal. Dan sebagai ketua geng, masa mungkin Zian diam begitu saja ketika ada yang mengusik kelompoknya.
.
.
Zian tiba di markasnya. Dia melihat teman-temannya babak belur dan tempat yang selama ini menjadi markas Black Phoenix hampir semua keseluruhannya hangus terbakar. Zian tidak tau seberapa banyak orang yang datang menyerang dan menghancurkan markasnya.
"Siapa yang melakukan ini pada kalian?" tanya Zian atau ke-4 temannya satu persatu.
"Edward, dan anak buahnya." Jawab Max.
__ADS_1
"Dia tahu kau sedang tidak ada disini, makanya Edward dan anak buahnya menyerang tempat ini." Terang Alex.
"Sebaiknya kalian obati dulu luka-luka di tubuhmu itu. Aku akan pergi mencari bajing*n itu," Zian menggelengkan kedua tangannya, kemudian dia beranjak dan pergi meninggalkan teman-temannya. Zian akan pergi mencari Edward dan anak buahnya.
"Zian, tunggu!!" seru Max.
Meskipun dalam keadaan babak belur. Max dan yang lain tak akan membiarkan Zian pergi sendirian mencari Edward dan anak buahnya. Meskipun Zian menguasai beberapa ilmu bela diri, tapi tetap saja dia bisa kalah jika tenaganya dikuras secara terus-menerus. Karena yang dia hadapi bukan hanya satu-dua orang saja, tapi puluhan.
.
.
"Bos. Bukannya itu Zian dan teman-temannya?"
Perhatian Andrew sedikit teralihkan oleh seruan salah seorang anggota gengnya. Kemudian dia mengikuti arah tunjuk pemuda berambut gondrong tersebut, dia melihat Zian dan keempat temannya yang sedang berhenti di lampu merah.
Wajah keempat teman Zian babak belur, sementara wajah Zian seperti diliputi amarah. Dan Andrew yakin sesuatu sudah terjadi. "Kita susul mereka, sepertinya ada yang tidak beres," ucapnya seraya bangkit dari duduknya.
Semenjak Zian membantunya ketika ia dan gengnya di kepung oleh musuh-musuhnya, Andrew menjadi lebih care padanya.
Andrew mengendarai motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Menyusul motor Zian dan teman-temannya yang sudah melesat jauh, Andrew ingin tahu kemana mereka akan pergi.
Dan setelah menambah kecepatan pada laju motornya. Andrew berhasil menyusul Zian dan teman-temannya. "Zian, apa yang terjadi?" seru Andrew tanpa menghentikan laju motornya.
Zian menoleh. Dia terkejut melihat keberadaan Andrew dan gengnya."Kalian sedang apa mengikutiku?" bukannya jawaban, Zian malah balik bertanya.
"Aku lihat kau dan teman-temanmu dalam masalah, jadi kami hendak membantumu." Jawabnya.
"Markas diserang , membuat kami babak belur," sahut Alex menyahuti.
"Edward dan gengnya?" tebak Andrew 100% benar. Zian mengangguk. "Kita hajar mereka semua!!" Andrew pun memutuskan untuk bergabung dengan Zian dan teman-temannya. Dan kebetulan mereka juga memiliki musuh yang sama.
.
__ADS_1
.
Bersambung.