Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Dia Orang Mencurigakan


__ADS_3

Sebuah sedan hitam berhenti tak terlalu jauh dari kediaman Lu. Dua orang yang berada di mobil itu tampak kebingungan melihat suasana di rumah itu tampak adem-ayem seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Mereka berdua terus mengawasi rumah mewah tersebut, dan alangkah terkejutnya Maya serta Remon melihat Zian baik-baik saja tanpa luka sedikit pun.


"Apa?! Dia masih hidup?!"


Maya dan Remon tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat Zian masih dalam keadaan segar bugar, tanpa kekurangan satu apapun. Mereka berdualah yang menyewa orang untuk menghabisinya, dengan mensabotase mobilnya.


Namun yang mereka lihat sungguh sangat mengejutkan. Awalnya mereka datang ke kediaman Lu untuk mengucapkan turut bela sungkawa. Tapi ternyata Zian masih hidup dan dia baik-baik saja.


"Sial, apa yang terjadi? Kenapa bocah itu bisa lolos dari maut?" ucap Remon dengan emosi.


"Itu karena salahmu, jika saja yang kau sewa orang-orang yang telah berpengalaman, pasti hasilnya tidak akan seperti ini!! Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus bisa menghabisinya!!" Maya menyalahkan Remon. Menurutnya Raymon-lah yang bodoh karena telah menyewa orang-orang tidak berguna itu.


"Berhenti menyalahkanku sialan!! Bukan hanya aku saja yang bersalah, tapi kau juga. Daripada kita saling menyalahkan seperti ini, sebaiknya kita pikirkan cara untuk menyingkirkan bocah sialan itu!!" ujar Remon.


"Sekarang biarkan aku yang mengurusnya, kau benar-benar tidak bisa dipercaya!! Ayo pulang," Maya beranjak dari hadapan Remon dan melewatinya begitu saja.


Maya tak akan tinggal diam. Dia pasti akan mencari cara untuk menyingkirkan Zian. Karena jika pemuda itu masih ada, sudah bisa dipastikan jika rencananya akan gagal total.


.


.


Luna yang sedang menikmati paginya di balkon kamarnya , menautkan alisnya saat melihat keberadaan dua orang asing di sekitar kediaman Lu. Dari gerak-geriknya, mereka berdua terlihat sangat mencurigakan.


"Apa yang sedang kau lihat? Kenapa serius sekali?" tanya Zian tiba-tiba muncul dibelakang Luna.


Lantas Luna menoleh dan mendapati Zian menghampirinya. Wanita itu tersenyum lebar. "Zian, coba kau perhatikan dua orang yang disana. Mereka berdua terlihat sama mencurigakan, mereka terus mondar-mandir di sekitar rumah ini." Luna menunjuk dua orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Remon dan Maya.


Zian mengangkat alisnya. Dia seperti mengenali postur tubuh itu, meskipun mereka memakai kacamata dan topi koboi, tapi wajah-wajah itu Tak asing baginya. Dan Zian mengenali keduanya dengan sangat baik.


"Sekarang aku tahu siapa yang sudah menyabotase mobilku. Dan orang itu adalah mereka berdua, Maya Lu dan Remon Lu. Mereka tidak terima karena aku menjadi pemimpin yang baru, itulah kenapa mereka berusaha untuk menghabisiku," jelas Zian.


Remon dan Maya tak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuannya. Namun satu hal yang tidak mereka sadari, jika pihak kepolisan diam-diam sudah mengawasi mereka berdua. Dan atas perintah Zian pula, penangkapan mereka berdua tak langsung dilakukan.


Dan entah apa alasan Zian yang sebenarnya, yang jelas ada kejutan besar menanti dibelakang.


"Zian , sebaiknya segera lakukan sesuatu dan beri pelajaran kedua orang itu. Melihat tingkah dan kelakuan mereka, membuatku geram sendiri." Ujar Luna.

__ADS_1


" Tidak perlu cemas, aku akan segera membereskan mereka berdua. Dan sepertinya aku tidak perlu melibatkan polisi untuk mengatasi mereka berdua, karena aku sudah memiliki cara untuk menanganinya," sahut Zian menimpali. Seringai sinis tampak disudut bibirnya.


Zian akan mencabut laporannya di kantor polisi, karena jika hanya penjara tidak akan membuat mereka berdua jerah. Dia akan memberikan hukuman pada mereka dengan caranya sendiri.


Dan Luna bergidik sendiri melihat seringai yang terpatri di bibir Zian, benar-benar mengerikan. "Berhenti mengumbar seringai menyeramkan seperti itu, kau membuatku bergidik," ucap Luna dan dibalas kekehan oleh Zian.


Pria itu menepuk kepala istrinya sambil tersenyum lembut. "Cepat mandi, setelah ini kita sarapan sama-sama." ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna.


Zian menghela nafas. Lalu pandangannya bergulir pada kedua orang itu, Maya dan Remon. Mereka pasti datang untuk memastikan apakah dirinya sudah mati atau belum. Mereka benar-benar mencari masalah dengan orang yang salah.


"Lakukan sesuatu untukku," Zian menghubungi seseorang, dia akan membereskan mereka berdua sekarang juga.


Setelah mengutus sambungan Zian beranjak dan meninggalkan balkon kamarnya.


.


.


Arena balap liar memang tidak pernah sepi pengunjung. Tidak ada hari libur, hampir setiap malam tempat itu selalu ramai dan padat oleh orang-orang yang hendak menyaksikan balap liar.


Motor-motor besar memenuhi garis finis. Sedikitnya ada lima orang melakukan balap liar. Salah satunya adalah Andrew, sejak Zian sibuk dengan bisnisnya, dia tidak memiliki rival lagi. Karena hanya Zian satu-satunya orang yang bisa mengalahkannya dan mampu menyaingi kemampuannya.


"Zian," seru Andrew. Zian tidak datang sendirian, dia datang bersama teman-temannya dan juga Luna. Lagipula mana mungkin Zian meninggalkannya sendirian di rumah?


Suasana pun semakin memanas setelah kedatangan Zian. Dan kedatangannya membuat smrik Andrew mengembang lebar, akhirnya dia menemukan lawan yang seimbang. Karena hanya Zian satu-satunya orang yang mampu mengalahkannya berkali-kali.


"Jangan buang-buang waktumu lagi, Tuan Muda Lu. Kita tanding dan lihat apa kau masih lebih hebat dariku," seru Andrew tanpa memudarkan smrik itu dari bibirnya.


"Hao, siapa takut." balas Zian sambil menyunggingkan seringai tipis di sudut bibirnya.


"Zian, kau pasti menang." Luna memberikan semangat pada suaminya.


Dan sikap mesra mereka berdua membuat orang lain iri saat melihatnya, tak terkecuali Andrew. Pria itu tersenyum pahit melihat hal menyebalkan tersebut. Bukan karena dia merasa cemburu, tetapi Andrew mengolok-olok dirinya sendiri karena sudah jatuh cinta pada wanita yang salah.


Niat awalnya adalah untuk menghancurkan Zian melalui mantan kekasihnya yakni Vera, awalnya dia mengencani Vera hanya untuk main-main saja, tapi Siapa yang menduga akhirnya Andrew justru benar-benar jatuh cinta padanya. Tetapi dia segera menghentikan perasaannya, karena Andrew tahu jika perasaannya itu salah.


"Sebenarnya kau datang kemari untuk kemesraan atau bersenang-senang?" seru Andrew yang sudah tidak tahan dengan Kemesraan Zian dan Luna.


"Kenapa kau tidak sabaran sekali, bilang saja jika kau iri," ucap Zian seraya menghampiri Andrew dan peserta lainnya. Dan tentu saja pertandingan malam ini bukan untuk mencari Siapa yang terbaik, melainkan hanya untuk bersenang-senang saja.

__ADS_1


Balapan pun dimulai, setelah bendera di turunkan, semua motor yang berada di garis star melaju kencang dengan kecepatan penuh. Semua penonton bersorak heboh, meneriakkan nama jagoan masing-masing. Luna pun tak mau ketinggalan, dia berteriak menyemangati Zian yang berada di urutan depan.


"ZIAN, ZIAN, ZIAN... SEMANGAT, KAU PASTI MENANG!! HUUUUU,"


Benar-benar gadis bar-bar, batin Max dan Alex melihat kehebohannya. Luna dan Zian bagaikan satu kesatuan yang saling melengkapi. Zian yang dingin dan Luna yang barbar, Zian yang dingin seperti malam dan Luna yang sehangat siang, Zian yang seperti musim dingin dan Luna yang seperti musim semi. Adalah sebuah perpaduan cinta yang sempurna.


"ZIAN...."


"... ANDREW,"


"ZIAN...."


"... ANDREW,"


Dua nama itu menempati urutan satu dan dua. Lagi dan lagi, Andrew harus merelakan dirinya kalah dari Zian untuk kesekian kalinya. Jika biasanya dia selalu marah dan tidak bisa menerima kekalahan, maka berbeda dengan yang terjadi kali ini, bahkan dia memberikan selamat pada Zian dan mengakui kehebatannya.


"Selamat untukmu , tidak salah jika kau dijuluki sebagai Iblis jalanan." Ucap Andrew sambil menepuk pundak Zian.


Zian tersenyum tipis. "Kau juga semakin hebat saja. Bahkan skill-mu juga jauh lebih baik dari sbelumnya." Ucapnya menimpali.


"Zian," seru Luna dan berhambur ke dalam pelukan Zian. Membuat pria itu terkejut bukan main. "Kau memang, malam ini dirimu benar-benar sangat mengagumkan. Malam ini aku akan memberimu hadiah," ucapnya setengah berbisik.


Luna menarik dirinya dari Zian, senyum lebar masih terpatri di wajah cantiknya. Zian tak memberikan respon apapun, sedikit rona merah muncul di kedua pipinya. Untungnya Luna mengatakannya sangat pelan, sehingga tidak ada yang mendengarnya.


Zian menepuk kepala Luna sambil tersenyum tipis."Baiklah, dan aku sangat menantikannya," tampak smrik di sudut bibir kanan Zian.


"Ayo kita minum, biar aku yang mentraktir kalian semua." Ucap Andrew pada Zian dan teman-temannya.


"Maaf, aku tidak bisa ikut. Kalian saja yang pergi," ucap Zian menyahuti.


Dia sungguh menyesalinya, tapi besok pagi ia harus pergi ke Busan untuk perjalanan bisnis. Itulah kenapa Zian tidak bisa bergabung dengan Andrew dan yang lainnya.


"Tidak masalah, kami bisa mengerti, karena bagaimanapun juga kau adalah orang yang sangat sibuk. Kalau begitu kami pergi dulu," Andrew menepuk bahu Zian lalu pergi bersama teman-temannya dan juga teman-teman Zian. Sedangkan Zian dan Luna langsung pulang.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2