
Jam dinding telah menunjuk waktu tengah malam. Namun Zian masih tetap terjaga, pemuda itu sedari tadi sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang sedang Zian lakukan. Sementara itu, Luna sudah tertidur pulas sejak beberapa jam yang lalu.
Sesekali pandangan Zian bergulir pada jam dinding. Sudah pukul 23.35 ternyata. Lalu bergulir pada Luna yang sedang berbaring menyamping. Sudut bibir Zian tertarik ke atas, membentuk lengkungan kecil dibibir Kiss ablenya.
Sedikit pergerakan kecil dari gadis itu. Entah hanya untuk merubah posisi tidurnya atau memang mau terbangun. Perlahan tapi pasti, kelopak mata Luna terbuka dan memperlihatkan sepasang manik Hazel-nya. Membuat pandangan mereka saling bertemu, kedua mata berbeda warna tersebut saling bersirobok dan menatap selama beberapa detik
"Zian, kau belum tidur?" kemudian Luna beranjak dari berbaringnya dan menghampiri Zian.
Pemuda itu menggeleng. "Aku sudah memeriksa data-data keuangan perusahaan. aku menemukan banyak hal yang ganjil disini," jelasnya.
Luna memicingkan matanya, dan menatap Zian penuh tanya. "Kenapa tiba-tiba kau memeriksa keuangan perusahaan? Bukankah selama ini kau bila jika dirimu tidak tertarik sama sekali dengan masalah keluarga ini?" ucap Luna , Zian membuatnya penasaran.
Zian menghela napas. "Ya, tapi itu dulu. Luna, aku berencana untuk segera bergabung dengan perusahaan dan mengambil posisi CEO. Benar apa yang kau katakan, aku memang tidak akan memiliki masa depan jika tetap seperti ini. Aku akan meninggalkan dunia lamaku yang penuh dengan hal-hal menjerumuskan, kemudian membuka lembaran baru denganmu dan aku telah memantapkan hatiku!!" Tutur Zian panjang lebar. Matanya terpatri pada manik Hazel milik Luna.
"Sungguh?" Zian mengangguk. "Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?" sekali lagi Luna menatap Zian penasaran.
"Hanya satu alasanku, yaitu kau," pupil mata Luna sedikit membelalak mendengar jawaban Zian. Sudut bibirnya tertarik keatas.
Tanpa berkata-kata Luna berhambur ke dalam pelukan Zian, membuat pemuda itu sedikit terkejut. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas. Membentuk lengkungan indah di wajah tampannya. Sejak menikah dengan Luna, Zian bis menemukan kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga, meskipun pernikahan mereka belum genap satu bulan.
"Terimakasih, Luna. Karena sudah membuatku sadar jika selama ini aku berada di jalan yang salah. Dan entah bagaimana masa depanku jika saja tidak bertemu denganmu. Mungkin saja aku masih menjadi seperti diriku yang dulu," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada Luna.
Gadis itu tersenyum tipis. "Sama-sama, Zian."
Kemudian Zian melepaskan pelukannya. Matanya kembali terkunci pada mata Luna. Perlahan Zian menutup matanya seraya mengarahkan bibirnya pada bibir tipis Luna, mengecupnya dengan lembut dan mellumatnya. Sebelah tangan Zian menekan kepala belakang Luna, sedangkan tangan satu lagi menuntun tangan Luna untuk memeluk lehernya.
Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut. Meskipun awalnya Luna sedikit ragu untuk membalas ciuman itu, namun semakin lama dia semakin percaya diri untuk mengimbangi dan membalas ciuman Zian.
Tak puas hanya berciuman saja. Zian pun mencoba mendapatkan lebih, Luna yang sudah terlena pun tak mampu untuk menolak lagi. Posisi mereka tak lagi duduk seperti sebelumnya, bahkan posisi mereka juga tidak lagi berada di tempat yang sama. Zian menguntung tubuh Aster dan menempatkan gadis itu di bawahnya. Zian menginginkan lebih hanya dari sebuah ciuman, ya... dia ingin memiliki Luna seutuhnya.
__ADS_1
Dan selanjutnya yang terjadi pasti sudah tahu tanpa ada penjelasan terperinci. Ya, mereka berdua saling bercinta dan berbagi kehangatan di malam yang dingin ini. Bukan hanya bibir mereka yang menyatu, akan tetapi tubbuh mereka juga.
...-Skiptime-...
Jantung Luna serasa berhenti berdetak detik ini juga. Rasanya dia begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia, baru saja kehilangan mahkotanya yang paling berharga, Zian telah menembus dinding pertahannya. Saat ini mata Luna terkunci pada sepasang manik hitam milik Zian yang lembut dan teduh.
"Kau lelah?" Zian membelai pipi Luna dengan lembut, begitu pula dengan tatapannya. Luna mengangguk. "Kalau begitu istirahatlah, aku mandi dulu." Zian mengecup kening Luna dan meninggalkannya begitu saja.
Selepas kepergian Zian, hanya tersisa Luna sendirian. Sekali lagi dia melihat ke dalam selimut yang membungkus tubuhnya dan tersenyum ngilu. Rasanya benar-benar seperti mimpi disiang bolong. Berkali-kali Luna mencubit lengannya sendiri, memastikan apakah yang baru saja terjadi mimpi atau bukan.
"Aku benar-benar bukan viirgin lagi," ucapnya setengah tidak percaya.
Luna kembali mengingat apa yang baru saja terjadi , ternyata tidak buruk juga rasanya. Wanita itu tersipu malu, rona merah tampak di kedua pipi Luna. Membayangkan apa yang baru saja ia lakukan bersama Zian benar-benar membuatnya serasa kehilangan muka.
"Dasar berandalan itu, bisa-bisanya dia membuatku semalu ini. Tapi dia hebat juga, tenaganya seperti kuda dan dia memberiku service yang sangat luar biasa." ucap Luna sambil memegang kedua pipinya.
Kemudian Luna menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Dia tidak mau jika saat keluar nanti Zian melihat wajahnya yang merona. Luna tidak ingin kehilangan muka di depan suaminya sendiri. Dan karena terlalu lama bersembunyi di balik selimut, Luna malah ketiduran.
Pria itu menghentikan langkahnya, dan melihat ke arah tempat tidurnya. Seonggok daging terbungkus selimut tebal diatas tempat tidur itu membuat Zian geli sendiri, dan tentu saja dia tau siapa yang bersembunyi di dalam selimut tersebut. Dan Luna terlihat seperti seekor ulat raksasa yang masih terbungkus kepompongnya.
Memastikan Apakah Luna sudah tidur atau belum, Zian mendekatinya dan membuka selimut itu sampai sebatas dada. Dan ternyata Luna sudah tertidur pulas. Terdengar dengkuran halus dari sela-sela bibirnya yang sedikit terbuka.
"Bisa-bisanya kau tidur tanpa pakaiian seperti ini," ucap Zian seraya merapatkan selimutnya. Zian tidak ingin jika Luna sampai kedinginan.
Setelah memakai celananya, Zian ikut berbaring di samping Luna. Memeluk tubuh wanita itu dengan erat dan merapatkan tubuh Luna padanya. Memberikan kehangatan padanya. Dan salam hitungan detik saja, Zian sudah pergi ke alam mimpi.
.
.
__ADS_1
Malam yang dingin telah beranjak dan tergantikan oleh hari baru. Cicit burung gereja yang berkicau diatas pohon mengadakan jika pagi telah tiba. Burung-burung itu berkicau saling bersahut-sahutan, mencoba membangunkan setiap insan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Disebuah kamar yang di dominasi warna putih. Seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang masih terlelap dalam tidurnya.
Dan setelah berpakaian lengkap, pria itu pun segera membangunkannya.
"Luna, bangun, ini sudah siang. Cepat mandi setelah ini kita sarapan," orang itu yang pastinya adalah Zian mengguncang pelan lengan Luna, mencoba membangunkan wanita itu. Kelopak mata Luna terbuka perlahan dan memperlihatkan sepasang manik Hazel-nya.
"Memangnya ini jam berapa?" tanya Luna sambil mengucek matanya.
"Setengah tujuh,"
Kedua mata Luna membelalak sempurna setelah mendengar jawaban Zian. "Apa?! Setengah tujuh!! Astaga Zian, kenapa tidak membangunkanku dari tadi?" Luna menyibak selimutnya dan berlari ke kamar mandi, bahkan dia tidak menyadari jika tubuhnya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Sementara itu, Zian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Luna yang terkadang seperti bocah.
"ZIAN, TOLONG AMBILKAN PAKAIAN UNTUKKU," pinta Luna dengan suara meninggi.
Dia meminta tolong pada Zian, supaya mengambilkan pakaian miliknya. Luna lupa tidak membawa pakaian ke kamar mandi, dan dia baru sadar jika ternyata dirinya tidak memakai pakaian ketika di kamar mandi. Lagi dan lagi, rona merah muncul di kedua pipi Luna. Apalagi saat mengingat jika dirinya tadi berlari di depan Zian. Semoga pria itu tidak berpikiran yang tiba-tiba tentang dirinya.
Tokk... Tokk.. Tokk..
"Luna, buka sedikit pintunya. Ini pakaianmu." Seru Zian sambil mengetuk pintu.
Hanya tangan Luna yang menjulur keluar. "Berikan pakaianku," pintanya. Luna tidak berani menunjukkan batang hidungnya pada Zian. Dia tidak ingin kehilangan muka di depan pria itu. Apalagi mukanya yang memerah seperti tomat matang. "Terimakasih, Zian. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Luna penuh sesal.
"Hn, santai saja. Bukan hal yang besar."
.
__ADS_1
.
Bersambung