
Kedatangan sebuah mobil sport mewah sedikit menyita perhatian Luna yang sedang bersiap di kamarnya. Gadis itu beranjak dari depan cermin lalu menuju jendela untuk melihat siapa yang datang. Dibawah sana Zian terlihat berbincang dengan dua orang yang wajahnya tak asing baginya. Ya, mereka adalah teman-teman Zian.
Kemudian Luna meninggalkan kamarnya dan bergegas turun untuk menghampiri mereka bertiga. "Zian, kenapa temanmu tidak kau persilahkan masuk," tegur Luna yang baru saja melewati pintu. Dan kedatangannya mengalihkan perhatian mereka bertiga.
Alex dan Max tersenyum lebar ke arah Luna sambil melambaikan tangannya. "Halo, adik ipar. Kita bertemu lagi," ucap Max dengan senyum yang sama. Max lebih tua dari Zian, jadi wajar jika menyebut Luna sebagai adik ipar.
"Kalian masuklah dulu, akan kusiapkan kopi untuk kalian," ucap Luna namun mendapatkan penolakan dari mereka berdua.
"Tidak perlu, Lun. Kami cuma sebentar, lain kali saja. Kalau begitu kita pergi dulu, Zian motormu kami bawah dulu," ucap Alex dan dibalas anggukan oleh Zian.
Dan selepas kepergian mereka berdua, hanya menyisakan hanya menyisakan Luna dan Zian. Pandangan Luna bergulir pada suaminya. "Mobil siapa itu?" tanya Luna memastikan.
"Mobil yang baru saja aku beli, bagaimana kau menyukainya atau tidak?" Zian menatap Luna dengan penuh harap, berharap Luna menyukai mobil yang baru saja dia beli.
Gadis itu menganggukkan kepala. "Ya, aku sangat menyukainya. Mobil ini sangat bagus dan elegan, tapi untuk apa kau membeli mobil? Bukankah sudah ada mobilku dan motormu, apa tidak membuang-buang uang?" Luna menoleh dan menatap langsung ke dalam manik hitam milik Zian.
Zian menggeleng. "Tidak, lagipula hanya sebuah mobil. Yang penting kau senang, anggap saja mobil ini sebagai hadiah pernikahan kita. Kau sudah siap?" Luna mengangguk. "Ayo berangkat," kemudian Zian membukakan pintu untuk Luna, dan mempersilakan Gadis itu untuk masuk ke dalam mobil barunya.
Mobil baru Zian sangat nyaman. Memiliki desain yang mewah, dan fitur yang lengkap. Jika Luna tidak salah ingat, mobil ini adalah mobil keluaran terbaru yang hanya memiliki 7 unit di seluruh dunia, yang sudah bisa dipastikan sangatlah mahal.
"Zian, berapa harga mobil ini?" Luna menoleh dan menatap Zian penasaran.
"Sekitar 20,4 milyar." jawab Zian dengan santai.
"Won?" Luna memastikan.
Zian menggeleng. "Bukan, tapi dolar," nyaris saja Luna tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar jawaban Zian. 20, 4 Miliyar dolar, rasanya Luna hampir pingsan. Apa Zian masih memiliki akal sehat, sampai-sampai dia membeli mobil dengan harga semahal itu.
"DOLAR?!" Luna memekik dengan suara meninggi, matanya menatap Zian tak percaya. "Astaga Zian, kenapa kau harus menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah mobil. Dan jika kita membelikannya rumah, kita sudah bisa mendapatkan tiga rumah mewah di kawasan Gangnam," ujarnya.
Bukannya merasa tersinggung, Zian malah tertawa. Dia gemas sendiri melihat ekspresi Luna yang sangat menggemaskan itu. Kemudian Zian menambah kecepatan pada mobil mewahnya, dan mobil mewah itu melaju kencang pada jalanan yang cukup padat kendaraan. Menuju kawasan elit Gangnam. Salah satu distrik yang hanya di huni oleh orang-orang terkaya di kota ini.
Empat puluh lima menit waktu yang dibutuhkan untuk tiba di kediaman Lu. Dan kedatangan Zian serta Luna disambut oleh segerombolan pria bersenjata yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.
__ADS_1
Luna dan Zian saling bertukar pandang. "Zian, mereka?" Luna menunjuk orang-orang itu dengan pandangan cemas.
"Kau tetaplah di mobil dan jangan coba-coba untuk keluar apapun yang terjadi. Aku akan membereskan mereka dengan segera," Pemuda itu berucap Saya melepaskan sabuk pengamannya.
Luna menggeleng. "Tidak bisa!! Menghadapi mereka sendirian sama saja kau dengan mencari mati. Kebetulan aku sudah lama tidak berolahraga, jadi sebaiknya mereka kita hadapi sama-sama," ucap Luna sambil mengunci manik hitam milik Zian, sorot matanya berubah tajam intimidasi. Sorot mata yang belum pernah Zian lihat sebelumnya.
"Tapi, Luna~"
"Jangan remehkan aku, Zian!! Meskipun aku seorang wanita dan terlihat lemah, begini-begini aku pemegang sabuk hitam dan sudah beberapa kali menjuarai turnamen tingkat nasional. Hanya saja aku tidak ingin memperlihatkannya, dan menyombongkan diri seolah-olah Aku tidak membutuhkan perlindungan dari laki-laki. Intinya, aku bukanlah perempuan yang lemah!!" ujar Luna.
Zian menatap Luna tak percaya, apa dia tidak salah dengar? Luna mengatakan Jika dia adalah pemegang sabuk hitam dan beberapa kali menjuarai turnamen tingkat nasional. Benarkah itu, luna yang terlihat lemah dan selalu berpenampilan anggun, ternyata adalah seorang ahli bela diri?!
"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau benar-benar meragukanku?" luna melayangkan protesnya karena kediaman siang.
Pemuda itu lantas menggelengkan kepala. "Tidak, baiklah kau boleh membantuku tapi dengan satu syarat. Pastikan dirimu tidak terluka sedikitpun!!" ucapnya dan di balas anggukan oleh Luna.
"Tentu," dia menjawab sambil tersenyum lebar.
Saat Zian keluar dari mobilnya. Sebuah senjata langsung mengacung padanya. Seorang pria menatapnya dengan tajam dan mematikan. "Siapa kalian dan apa yang kalian lakukan di depan rumahku?" tanya Zian tanpa basa-basi.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, yang jelas kami adalah calon malaikat mautmu!!" jawab Salah satu dari orang-orang itu menimpali.
"Jadi kalian adalah orang-orang suruhan wanita itu?" ucap Zian sambil menatap mereka satu persatu.
"Ya, dan dia ingin supaya kami menghabisimu!!" sahut salah satu dari orang-orang itu.
"Punya nyali juga kalian, ya?!" sahut seseorang dari belakang.
Sontak Zian menoleh. Dia sedikit terkejut saat melihat kedatangan semua anggota Black Phoenix, bukan hanya anggota gengnya saja, tetapi Andrew dan gengnya juga. Zian tidak tau siapa yang memberitahu mereka, sampai-sampai mereka semua datang dengan persenjataan lengkap.
Max menghampiri Zian lalu menepuk bahunya. "Jangan bingung dan juga heran. Aku tadi tidak sengaja mendengar obrolan wanita itu dengan cucunguk-cucunguk ini, jadi aku yang membawa mereka semua kemari. Sementara Andrew, dia inisiatif untuk ikut dan membantumu," Ujarnya menjawab kebingungan Zian.
"Jadi kayaknya tidak batal dong?" seru Luna dan mengalihkan perhatian mereka semua. Semua mata kini tertuju padanya.
__ADS_1
Zian menggeleng. "Tentu saja tidak , karena mereka sudah datang kemari dan mendapatkan upah dari betina itu, jadi kita layani saja. Tidak mungkin juga kan mereka memakan gaji buta," ucapnya menyeringai.
Luna melemaskan otot-otot jarinya, dia benar-benar sudah tidak sabar ingin menghajar mereka semua. Akan luna akan melepaskan dahaganya, dengan menghajar mereka semua. "Bagus sekali, tunggu apa lagi ayo kita berikan pelajaran pada mereka semua!!" ucapnya dengan gemas.
Tanpa menunggu aba-aba, ataupun pergerakan dari Zian dan teman-temannya, Luna maju duluan dan langsung melayangkan tinjunya pada salah satu dari orang-orang itu. Dan apa yang Luna lakukan tentu saja memancing kericuhan teman-teman dari orang yang baru saja Luna robohkan.
"Dasar betina, berani sekali kau melukai teman kami?! Apa yang kalian tunggu, cepat maju dan habis si perempuan jalan ini!" bentak bos dari orang-orang itu.
Luna sedikit membulatkan matanya. Dan perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Zian, Andrew dan yang lain pun segera bergabung dengan Luna. Zian tak membiarkan istrinya berkelahi sendirian. Dia membayangi Luna, takut bila bahaya mengancam keselamatannya.
Gadis itu menghajar mereka dengan membabi buta, dan aksi Luna tentu mengejutkan Zian dan teman-temannya. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan detik saja dia berhasil menumbangkan beberapa orang. Membuat Theo dan Cris sampai melongo melihatnya.
"Astaga, sebenarnya dia itu keturunan Bidadari atau Tarzan? Cantik-cantik tapi mengerikan," ucap Cris tanpa meloloskan pandangannya dari Luna.
Dan sepanjang dia mengenal Luna, pertama kalinya Zian melihat gadis itu berkelahi. Dan sungguh sangat mengejutkan, tanpa sadar Zian menarik sudut bibirnya, dia sungguh bangga pada istrinya. Dan perkelahian itu pun berakhir kurang dari 15 menit, dan tentu saja kemenangan berada di tangan Zian.
Orang-orang itu pun segera kocar-kacir melarikan diri. Mereka tidak ingin mati mengenaskan di tangan mereka semua, terutama Luna yang begitu beringas dan berbahaya.
"Dasar pengecut, giliran sudah kalah saja langsung melarikan diri. Padahal sebelumnya begitu sombong dan angkuh!!" teriak Luna mencibir orang-orang itu. Lalu pandangan Luna bergulir pada teman-teman Zian yang tak berkedip sedikit pun. "Ada apa dengan kalian semua? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ucap luna penuh keheranan.
"Itu tadi sangat luar biasa, kau benar-benar hebat adik ipar. Kami sangat bangga memiliki adik ipar sepertimu." Seru Alex sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Luna.
Gadis itu tersenyum lebar. "Terima kasih untuk pujiannya," lalu pandangan Luna bergulir pada Zian yang tersenyum kearahnya. Membuat Luna ikut tersenyum juga.
"Karena masalahnya sudah selesai, kami pergi dulu. Zian Lu, sekarang kita sudah impas. Sampai jumpa lagi di arena, ingat... kali ini aku tidak akan kalah lagi darimu!!" seru Andrew lalu pergi bersama anggota geng nya.
Zian tak memberikan tanggapan apa-apa, dia hanya tersenyum tipis menatap kepergian laki-laki itu. Kemudian dia merangkul bahu Luna dan mengajaknya masuk ke dalam.
.
.
Bersambung.
__ADS_1