
Motor besar milik Zian berhenti dihalaman luas sebuah rumah megah nan mewah. Seorang laki-laki menghampirinya dan berniat untuk memindahkan motor besar milik Zian ke dalam garasi, tapi Zian menolaknya dan berkata jika dia hanya sebentar.
Kedatangan Zian seketika menarik perhatian seorang wanita yang tengah sibuk membuat bubur di dapur. Dan siapa lagi dia jika bukan Vera. Vera mematikan kompornya lalu menghampiri putra tirinya tersebut.
"Zian, akhirnya kau pulang juga. Papamu terus saja mencari mu dan menanyakan keberadaanmu. Temui Dia sebentar, Papamu pasti sangat bahagia saat melihatmu." ucapnya yang hanya disikapi dengan tatapan daftar oleh Zian.
"Jangan salah paham dengan kepulanganku. Karena aku pulang bukan untuk melihat keadaannya, tapi hanya untuk memastikan jika dia masih belum mati!!" ucap Zian menimpali.
"ZIAN!!" bentak Vera dengan emosi. "Sebenarnya anak macam apa kau ini? Kenapa kau malah menyumpahi ayahmu sendiri mati, dia sedang sakit keras sekarang. Kenapa kau malah tidak ada peduli-pedulinya sedikit pun padanya?!" Vera menatapnya dengan marah.
Pemuda itu menyeringai sinis. "Kau berbicara dengan sangat bijaksana, Nyonya Lu yang terhormat. Seolah-olah kau adalah wanita yang sangat baik dan berbudi luhur, meskipun pada kenyataannya hatimu itu sangat busukk. Kau sangat memalukan, Vera. Hidupmu penuh dengan pencitraan dan drama yang sangat menggelikan. Kau benar-benar pemain drama yang sangat hebat!!" ujar Zian dengan seringai dan tatapan yang sama.
Gyuttt..
Tangan Vera terkepal kuat. Kata-kata Zian begitu melukai perasaannya, tajam dan menusuk. Vera sadar Jika dia memang bersalah pada Zian, tapi apa dia tidak bisa memaafkannya dan melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, lagipula sekarang mereka berdua adalah keluarga.
Vera mendekati Zian lalu menangkap wajahnya dan mengunci manik matanya yang dingin. "Zian, Aku tahu aku bersalah. Dan kesalahanku memang tidak bisa termaafkan, aku telah menunaikan luka yang begitu dalam di hatimu. Aku tidak menyalahkanmu karena membenciku, Karena aku memang pantas dibenci."
"Tapi, Zian. Apakah kau tidak bisa melupakan masalalu dan semua yang telah terjadi karena bagaimanapun juga sekarang kita adalah keluarga, terlebih lagi aku adalah ibu tirimu sekarang. Suka tidak suka, mau tidak mau, kau harus tetap menerima kenyataan ini dan mengakuiku sebagai ibumu!!" ujar Vera panjang lebar.
Zian menyentak wanita itu dari wajahnya dan menatapnya dengan tajam. sudut bibirnya tertarik keatas, Zian menyeringai dan menatap Vera dengan sinis.
"Kau benar-benar lucu, Vera. kau pikir melupakan rasa sakit yang telah ditorehkan oleh seseorang semudah membalikkan telapak tangan? Jangankan melupakan masa lalu, sekalipun kau telah menjadi abu Aku tidak akan pernah memaafkan!!" ucap Zian dengan seringai yang sama.
__ADS_1
Bulan salah Zian jika sekarang dia membenci Vera. Rasa cinta yang dulu dia miliki untuk wanita itu sekarang berubah menjadi benci. Vera yang lebih dulu mengkhianatinya, jadi bukan salah Zian jika sekarang sangat membencinya.
Tanpa menghiraukan Vera. Zian pergi ke kamar ayahnya untuk memastikan keadaannya, memastikan pria itu masih bernafas atau tidak.
Suara decitan pintu kamar yang dibuka dari luar mengalihkan perhatian Donny Lu. Dia menoleh kearah pintu dan mendapati seorang pemuda dalam balutan pakaian lengan terbuka berjalan menghampirinya. Seringai tampak di bibir kiss ablenya.
"Zian," ucapnya lirih.
"Oh, rupanya kau masih bernafas. Aku pikir kau sudah mati dan menyusul istrimu itu ke neraka!!" ucap Zian dengan nada mengejek. "Padahal aku sangat berharap segera menyusul istrimu,"
"ZIAN, BICARA APA KAU INI?!"
Tubuh Zian sedikit terhuyung kebelakang karena pukulan Sean. Sean tiba-tiba muncul dan melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Zian yang mengakibatkan pelipis kanannya robek dan berdarah. "Dasar anak durhaka!! Sebenarnya kau itu manusia atau bukan?! Hatimu terbuat dari apa, Zian?! Bagaimana bisa kau menyumpahi ayahmu sendiri, hah!!" bentaknya dengan emosi. Sean kembali melayangkan tinjunya ke arah Zian, namun kali ini berhasil ditangkis olehnya.
Pemuda itu menyeringai. "Memangnya tau apa kau tentang diriku, Sean? Apa kau begitu mengenal diriku, Kakak?! Seharusnya kau itu tau betul apa yang membuatku menjadi seperti ini. Bukan karena diriku, tapi dialah yang memaksaku menjadi seorang Iblis. Kau tidak akan pernah tau rasanya menjadi diriku, Sean. Karena sejak kecil kau selalu mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari mereka berdua. Sementara diriku... Hanya luka dan rasa sakit yang aku dapatkan, dan kau pun tau itu."
"Sejak kecil, mereka berdua hanya menyayangimu dan melupakan keberadaanku. Padahal aku juga adalah darah daging mereka yang juga membutuhkan kasih sayang, tapi apa pernah sekali saja mereka memikirkan tentang diriku dan perasaanku? Kau selalu diperlakukan dengan istimewa hanya karena fisikmu jauh lebih lemah dariku. Apa menurutmu itu adil untukku? Tidak, Sean. Itu sama sekali tidak adil,"
"Kau ingat, ketika dirimu yang berulang tahun, mereka selalu menyiapkan sesuatu untuk merayakannya. Membelikanmu kado yang sangat istimewa, membawamu berlibur ke luar negeri. Tetapi ketika aku yang berulang tahun, mereka berdua selalu bersikap acuh. Jangankan pesta perayaan, bahkan ucapan saja tidak pernah. Karena di mata mereka berdua aku tidak berharga sama sekali." Zian menjeda ucapannya sambil menahan lelehan bening yang menggenang di pelupuk matanya.
Hati Zian seperti tercabik-cabik ketika mengungkit kembali tentang masa lalunya yang begitu menyakitkan. Sangat-sangat menyakitkan malah. Masa lalu yang akhirnya merubahnya menjadi seorang yang dingin dan tak berperasaan.
"Zian, cukup!! Jangan katakan apapun lagi, sudah cukup. Papa, mohon jangan katakan apapun lagi," seru Donny Lu memohon. Dia bangkit dari berbaring nya lalu menghampiri putra bungsunya tersebut. "Jangan ungkit apapun lagi tentang masa lalu, apalagi jika itu terlalu menyakitkan untukmu." pintanya
__ADS_1
Zian menyeringai dan menatap pria itu dengan sinis. "Untuk apa menghentikanku mengatakan yang sebenarnya, Pa? Padahal yang aku katakan adalah fakta, apa kau sudah melupakan semua perlakuan burukmu padaku dimasa lalu? Bagaimana buruknya sikapmu padaku, kau selalu menganggap diriku tidak ada. Kau hanya menyayangi Sean, karena sejak awal putramu hanya dia sementara aku bukanlah siapa-siapa." Tutur Zian panjang lebar.
Donny Lu menggeleng. "Itu tidak benar, Zian. Mama dan Papa tidak pernah membedakanmu dengan Sean, kami selalu memperlakukanmu sama dengannya. Karena kalian berdua sama-sama harta Papa dan Mama yang paling berharga. Selama ini kau hanya salah paham pada kami, karena kami sangat menyayangimu."
"JANGAN MENGELAK!!" bentak Zian dengan suara meninggi. "Kau hanya mengatakan omong kosong, karena yang merasakannya adalah aku, bukan dirimu!! Apa kau lupa dengan perbuatan burukmu padaku di masa lalu? Kau pernah mengunciku di dalam ruangan yang sangat gelap hanya karena aku tidak sengaja menjatuhkan mainan yang kau beli untuk Sean."
"Kau berteriak, memaki dan memukulku dengan keras. Bahkan kau tidak peduli meskipun aku meminta maaf sampai ribuan kali. Kau menyebutku sebagai anak pembawa sial, bekas luka ini tidak akan pernah hilang, sama seperti bekas luka di hatiku yang masih tetap membekas hingga detik ini!!" Zian menunjukkan bekas luka di keningnya. Luka yang dia dapatkan ketika masih anak-anak.
"Mudah bagimu mengatakannya, Pa. Apa kau tau bagaimana takutnya aku saat itu, di dalam ruangan gelap itu aku menangis dan memohon supaya kau mengeluarkanku dari sana. Tapi kau mengabaikannya. Aku menangis dalam ketakutan," ujar Zian.
Donny Lu terdiam. Dia menangis mendengar semua yang Zian katakan. Dia akui jika dulu dia sangat kejam pada Zian, memperlakukannya secara tidak adil, memihak sebelah dan selalu memperlakukannya dengan kasar. Tak jarang Donny melampiaskan kemarahannya pada Zian yang jelas-jelas tidak bersalah dan tidak tau apa-apa.
Pada saat itu usia Zian baru 11 tahun, dan apa yang bisa dilakukan oleh anak seusia Zian selain menangis. Dan semua yang terjadi pada hidup Zian sekarang adalah buah dari perbuatan orang tuanya dimasa lalu.
"Zian, maafkan Papa. Papa sungguh-sungguh bersalah padamu, Nak. Papa, sungguh-sungguh minta maaf." lirih Donny Lu penuh sesal.
"Jangan berharap. Bahkan sampai tubuhmu hanya tinggal tulang belulang sekalipun, aku tidak akan pernah memaafkan mu!!"
.
.
Bersambung.
__ADS_1