
Puluhan pemuda dari dua kubu yang berbeda terlihat saling berhadapan dan melemparkan tatapan tajam, mematikan. Masing-masing memegang senjata, mulai dari sajam, balok kayu, pipa besi, rantai bergerigi dan masih banyak lagi. Jumlah mereka tak sedikit, lebih dari 50 orang.
"Andrew Kim, kali ini kau tidak akan ku biarkan hidup lagi. Aku pasti akan membinasakanmu dan juga anak buahmu malam ini juga!!" teriak pria yang berdiri di barisan paling depan sambil menodongkan pipa besinya ke arah Andrew.
"Berhentilah mengatakan omong kosong, jika kau memang mampu, buktikan saja jangan hanya banyak bicara!!" jawab Andrew.
Pria itu pun segera memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang Andrew dan teman-temannya. Perkelahian dua kubu itu pun tak bisa terhindarkan lagi, dengan pekikan keras mereka berlari dan saling menyerang.
Sebenarnya jumlah mereka tidaklah seimbang, Andrew kalah jumlah dari lawannya. Empat puluh satu banding lima belas orang, itupun dua diantaranya sudah melarikan diri dari tadi. Tawuran antar geng memang kerap terjadi, dan ini bukan pertama kalinya. Membuat para warga merasa terganggu dengan ulah mereka.
Sudah berkali-kali para warga telah melaporkannya pada pihak yang berwajib, tapi sayangnya mereka tak segera ditindak lanjuti apalagi ditangkap supaya tak meresahkan lagi. Namun nyatanya mereka masih bisa berkeliaran dengan bebas.
Satu persatu teman-teman Andrew roboh dan tersungkur. Menyisakan beberapa orang lagi yang masih bisa berdiri dengan tegak. Selain dalam keadaan setengah mabuk, mereka juga kalah jumlah. Benar-benar perkelahian yang tidak seimbang.
Bruggg...
Tubuh Andrew tersungkur ke tanah setelah mendapatkan tendangan telak pada ulu hatinya. Laki-laki itu pun menarik pakaian Andrew lalu melayangkan sebuah pukulan keras pada wajahnya beberapa kali hingga membuat pemuda itu babak belur.
Dan di saat Andrew dan teman-temannya sudah hampir berakhir, tiba-tiba terdengar deru suara motor yang mengarah kearah mereka. Tak hanya satu motor saja,lebih dari satu. Silau lampu motor-motor itu membuat mata orang-orang yang berada di lokasi tawuran menjadi silau.
"Zian," Andrew bergumam lirih menyerukan nama salah satu dari pemuda-pemuda itu.
"Bodoh, apa yang kau lakukan? Cepat bangun, jangan sampai para sialan ini mengalahkanmu. Ingat Andrew Kim, cuma aku yang boleh menghabisimu!!" seru Zian sambil mengulurkan tangannya pada Andrew.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum meremehkan. Kemudian dia menerima uluran tangan Zian dan bangkit dari posisinya saat ini. Kedatangan Zian dan teman-temannya memperkuat kubu Andrew yang hampir saja habis ditangan lawan-lawannya.
Perkelahian pun kembali berlanjut, dan sekarang jumlah mereka seimbang begitupun dengan kekuatannya. Kedatangan Zian dan teman-temannya membuat Andrew Cs seperti mendapatkan oasis di padang gurun yang gersang.
Perkelahian pun berakhir dengan seimbang, tak ada yang menang maupun yang kalah. "Ingat, ini masih belum berakhir. Zian Lu, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!! Kita pergi dari sini," orang-orang itu pun pergi meninggalkan Zian, Andrew dan yang lain. Dan tanpa mengatakan apapun, Zian dan teman-temannya meninggalkan Andrew begitu saja.
Salah satu teman Andrew menghampiri laki-laki itu lalu menepuk pundaknya. "Kita berhutang pada mereka Jika saja Zian dan gengnya tidak datang tepat waktu pasti kita semua sudah habis ditangan Marco dan gengnya." Ucap orang itu yang kemudian dibalas anggukan oleh Andrew.
"Ya, aku tahu. Aku tidak akan menjadi orang yang lupa diri dan tak tahu balas budi, kita pulang. Aku sangat lelah dan sekujur badanku sakit semua." Ucapnya lalu beranjak dari teman-temannya. Pukulan-pukulan yang dia terima membuat tubuh Andrew serasa remuk semua.
.
.
Seorang pria terlihat marah-marah di toko bunga milik Nenek Marta. Dia mengatakan jika bunga yang dibelinya dari Nenek Marta sangat buruk kualitasnya dan meminta supaya uang miliknya dikembalikan. Parahnya lagi dia membawa beberapa orang yang hampir semua adalah pelanggan toko bunga Nenek Marta.
"Tapi ini bunga jenis bunga yang ada di toko ini? Mungkin saja kau membelinya dari toko lain," ucap Nenek Marta.
"Dari toko lain bagaimana? Jelas-jelas Aku membelinya dari toko ini, dasar bungamu saja yang kualitasnya kurang bagus. Sudah salah masih mau mengelak lagi, cepat kembalikan uangku sekarang juga. Dan aku minta dua kali lipat, untuk kalian semua sebaiknya mulai sekarang jangan membeli bunga di toko ini lagi. Sudah mahal kualitasnya buruk, parahnya lagi mereka tidak bertanggungjawab. Lebih baik beli di Jenny's Florist. Di Sana sudah jelas kwalitasnya." Ujar Pria itu panjang lebar.
Luna menghela napas. Dia benar-benar sudah tidak tahan dengan ocehan pria itu yang sepertinya memang sengaja ingin menghancurkan nama baik toko bunga milik Nenek Marta.
"Apa sudah cukup kau bicaranya!" seru Aster menghentikan ocehan pria itu. Semua mata kini tertuju padanya. "Bungamu itu bukan berasal dari toko kami, karena toko ini tidak memiliki jenis bunga seperti punyamu ini!!" tegas Luna.
__ADS_1
"Siapa kau ini? Berani-beraninya berbicara kurang ajar padaku?!" pria itu menatap Luna dengan marah.
Gadis itu memicingkan matanya. "Kau tidak mengenaliku? Sekarang aku tanya padamu, memangnya pada siapa kau membeli bunga itu?" Luna balik bertanya.
"Tentu saja pada wanita tua itu, memangnya pada siapa lagi? Karena hanya ada dia dan cucunya di toko ini!!" jawab pria itu. Semua orang pun tergelak dan tertawa terbahak-bahak, membuat pria itu kebingungan setengah mati. "YAKK!! Apa yang kalian tertawakan, hah?! Memangnya aku badut!!" teriaknya marah.
Seorang wanita mendekati pria itu lalu menarik pakaiannya. "Kau itu sudah berbohong!! Jangan kau pikir kami akan percaya begitu saja pada omong kosongmu ini hanya karena satu buket bunga yang tampak buruk itu. Kami sudah bertahun-tahun langganan di toko ini,jadi kami hapal betul mana bunga yang ada di toko ini dan bukan!! Dan asal kau tau saja, sepanjang hari yang ada di toko ini dan melayani kami adalah Nona ini, jadi jika kau ingin bersaing, maka bersainglah secara sehat!!" ujar wanita itu panjang lebar.
"Sebaiknya orang seperti ini bawa langsung saja ke kantor polisi," seru seorang laki-laki dan mendapatkan persetujuan dari yang lain. Dan akhirnya pria itu pun digelandang menuju kantor polisi.
Tepat setelah keributan itu berakhir. Sebuah motor besar tiba-tiba berhenti di depan toko bunga. Luna menoleh dan tampak senyum disudut bibirnya."Zian," dia berseru lalu menghampiri pemuda itu.
"Apa yang terjadi? Sepertinya baru saja terjadi keributan," ucap Zian sambil menatap kerumunan orang yang mendorong seorang pria yang terus meminta ampun.
Luna menganggukkan kepala. "Ya, seorang pria berusaha untuk menyebarkan rumor palsu mengenai toko bunga ini. Tapi beruntung kami memiliki pelanggan yang setia dan mengenal toko bunga ini dengan baik. Maukah kau menungguku sebentar? Aku mau menumpang pulang padamu," ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Zian.
"Baiklah, aku akan menunggumu di cafe depan." Luna tersenyum.
Kemudian Zian membawa motornya menjauh dari Luna, sedangkan Gadis itu kembali ke dalam dan melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Hari ini Luna tidak lembur, dia sangat lelah dan ingin pulang lebih awal.
.
.
__ADS_1
Bersambung.