Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Kita Harus memberitahu Mereka


__ADS_3

Luna menghampiri Zian di kamar tamu sambil membawa segelas air putih dan beberapa butir obat. Atas saran dari ayah dan kakaknya. Pemuda itu akan tinggal bersamanya untuk sementara waktu. Dan Luna tidak menolaknya.


Dan kedatangan Luna sedikit mengalihkan perhatian Zian yang sedang membuka lilitan perban pada lengan kirinya, Zian hendak mengganti perban itu dengan yang baru karena perubahan yang sebelumnya kotor oleh darahnya sendiri.


"Ini obatmu, sebaiknya minum dulu." Luna meletakkan nampan itu di atas meja kecil samping tempat tidur.


Zian menghela nafas. "Luna, maaf karena lagi-lagi aku harus merepotkanmu." ucapnya penuh Sesal.


Gadis itu menggelengkan kepala. "Bukan hal yang harus dibesar-besarkan. Sebaiknya minum dulu obatmu, setelah ini aku akan membantumu mengganti perban." ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh Zian.


Sebenarnya Zian merasa tidak enak hati pada Luna karena harus merepotkannya. Dan ini bukan pertama kalinya, sementara siang belum melakukan apapun untuk membalas budi pada gadis itu.


Suasana Hening menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Luna dan Zian, mereka berdua saling diam dalam kebisuan. Tak ada satu kata-kata pun yang keluar dari bibir keduanya untuk mengakhiri keheningan di antara mereka.


Luna sedang membantu Zian mengganti perban dan mengoleskan obat pada luka-lukanya. Luka yang paling parah di pelipis kanannya. Pelipis Zian robek dan harus mendapatkan tujuh jahitan untuk luka bagian luar dan dalam.


Dan sepanjang Luna mengobati luka-lukanya, tak sedikitpun Zian mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Menatapnya dengan intens mulai dari mata, hingga bibir tipis ranumnya. Tak bisa Zian pungkiri jika Luna benar-benar sangat cantik. Bahkan dilihat dari sisi manapun dia tetap cantik, apalagi ketika sedang serius seperti sekarang ini.

__ADS_1


Sadar tengah diperhatikan Luna mengangkat wajahnya dan membalas tatapan pemuda itu. "Ada apa, apa ada yang salah di wajahku?" tanya Luna memastikan.


Zian menggeleng. "Tidak," dia menjawab singkat.


Kemudian Luna menganggukkan kepala. Fokusnya kembali pada luka-luka Zian yang terbuka. Setelah mengoleskan salep luka, kemudian Luna menutupnya dengan perban baru. Luka itu tidak boleh terkena debu, agar tidak terjadi infeksi.


"Sampai kapan hubungan pura-pura ini akan berlanjut?" kembali Luna mengangkat kepalanya setelah mendengar pertanyaan Zian. Manik mata berbeda warna milik mereka saling mengunci dan menatap selama beberapa detik. "Orang tuamu sangat baik padaku, aku takut mereka akan kecewa sampai tahu jika ternyata hubungan kita palsu." ucap Zian seolah-olah mengerti apa yang Luna pikirkan.


Mendengar ucapan Zian membuat Luna terdiam, benar juga yang dia katakan, dan kenapa Luna tidak berpikir sampai ke sana. Lalu bagaimana dia harus menjelaskan kepada orang tuanya jika sebenarnya ia dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Sebaiknya kita katakan saja yang sebenarnya pada mereka. Bukan maksudku tidak mau membantumu, tapi lebih baik mereka tau sekarang daripada nanti-nanti. Karena yang ada mereka justru akan kecewa pada kita," ujar Zian, dia mencoba memberi saran pada Luna yang sepertinya langsung diterima olehnya.


"Ya, kau benar, Zian. Memang seharusnya kita tidak membuat kebohongan sebesar ini, tapi pada saat itu aku tidak memiliki pilihan lain selain meminta bantuan padamu. Aku tidak ingin dijodohkan dengan laki-laki pilihan mereka yang jelas-jelas bukan tipeku sama sekali, makanya aku langsung meminta bantuanmu untuk menjadi kekasih pura-puraku." Ujar Luna.


Gadis itu mengambil jeda dalam kalimatnya. "Tapi kau tenang saja, secepatnya aku akan memberitahu mereka jika sebenarnya kita berdua tidak memiliki hubungan apa-apa," Sambung Luna menambahkan. Dan Zian menanggapinya dengan anggukan kepala.


Kemudian Luna beranjak dari hadapan Zian. "Ya, sudah. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja. Aku juga mau istirahat, kedua mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi," Tutur Luna. Dan kemudian dia meninggalkan Zian sendirian di kamar tamu. Sedangkan Luna pergi ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


.


.


Seorang wanita mendatangi sebuah arena balap liar. Terlihat dia menghampiri salah satu peserta yang akan mengikuti balap liar malam ini. "Kenapa kau lama sekali?" tanya laki-laki itu sambil menatap wanita tersebut dengan pandangan kesal


"Maafkan aku, Andrew. Karena aku masih harus mencari cara untuk meyakinkan tua bangka itu supaya dia mengizinkanku pergi dan tidak mencurigaiku sama sekali," jelas wanita itu.


Andrew menghela napas. "Ya, sudah. Cepat naik. Malam ini pokoknya kita harus bisa mengalahkan mereka semua," ucap Andrew udah dibalas anggukan oleh wanita itu.


"Baiklah, aku mengerti." jawabnya menimpali. Kemudian wanita itu segera naik ke atas motor besar milik Andrew. Malam menjadi malam paling menegangkan, Andrew tak akan membiarkan siapa pun mengalahkan dirinya. Dia harus menegangkan pertandingan malam ini.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2