Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Seorang Pengecut


__ADS_3

"Zian, apa yang sedang kau pikirkan?"


Perhatian Zian sedikit teralihkan oleh kemunculan Luna. Lantas Zian menoleh dan mendapati Luna menghampirinya. Pemuda itu tak bereaksi sama sekali, dan bersikap acuh.


"Tidak ada," kemudian dia menjawab singkat.


"Aku pikir kau sudah pulang, ternyata masih disini. Ngomong-ngomong apa yang tadi kau bicarakan dengan Papaku? Apa dia mengatakan hal yang tidak-tidak padamu?" tanya Luna memastikan, dia ingin mendengar jawaban dari Zian.


Zian menggelengkan kepala. "Tidak, memangnya dia harus mengatakan apa?" ucapnya. Luna pikir Zian akan mengatakan yang sebenarnya, tapi ternyata tidak, dia memilih bungkam dan tak memberitahunya.


"Oh, aku pikir Papaku mengatakan sesuatu padamu." Ucap Luna dengan nada kecewa.


Luna sangat berharap Zian akan memberitahunya tentang obrolannya dengan sang ayah. Tapi apa yang Luna harapkan tak seperti kenyataan, karena kenyataannya Zian memilih untuk tidak mengatakan. "Kenapa ekspresimu seperti itu?" Zian menatap Luna dengan bingung.


Gadis itu menggeleng. "Tidak apa-apa, ya sudah aku masuk duluan." Ucap Luna lalu beranjak dari hadapan Zian, tapi segera ditahan olehnya. Luna menoleh dan menatap Zian penuh tanya. "Ada apa?" tanya Luna sambil menatap Zian dengan bingung.


"Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu, tapi aku bingung dari mana harus memulainya." Ucapnya dan Luna kembali menatap pemuda itu


"Apa ini ada hubungannya dengan yang dikatakan oleh Papa padamu?" tanya Luna. Zian mengangguk."Memangnya apa yang Papa katakan padamu?" tanya Luna pura-pura penasaran, jelas-jelas dia sudah tahu karena Luna mendengar jelas semua yang ayahnya katakan.


Luna menguping pembicaraan ayahnya dan Zian melalui sambungan telepon yang sengaja dia letakkan di bawah sofa. Ponsel itu milik ibunya yang sengaja dia sambungkan ke ponselnya, yang kemudian Luna dengarkan melalui headset kecil.


"Ayahmu ingin supaya aku menikahimu," ucapnya dan membuat Luna terdiam.


Kemudian Luna mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke dalam manik hitam milik Zian. "Lalu jawabanmu?" Luna menatap Zian penasaran.


"Aku belum memberikan jawaban apa-apa. Karena aku sendiri bingung, harus menjawab apa. Aku tidak memiliki masa depan, bahkan pekerjaan saja aku tidak punya. Lalu apakah seorang berandalan sepertiku layak untuk bersanding denganmu? Lagipula menikah juga membutuhkan kesiapan mental dan hati. Tidak bisa asal menikah tanpa memikirkan kedepannya." Tutur Zian.


Luna menganggukkan kepalanya. "Ya, benar apa yang kau katakan. Aku akan bicara dengan Papa supaya dia tidak aneh-aneh lagi. Zian, maaf jika Papa sudah membuatmu merasa tidak nyaman dan terbebani." Luna menatap Zian penuh sesal. Dia sungguh menyesali tindakan ayahnya yang menurut Luna sangatlah tidak pantas. Karena itu sama saja dengan menjual dirinya.

__ADS_1


"Lupakan, tidak perlu dibalas lagi. Kau menginap atau pulang?" tanya Zian.


"Pulang, jadi berikan aku tumpangan." Pinta Luna dan dibalas anggukan oleh Zian.


"Baiklah,"


.


.


Zian mengendarai motor besarnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan malam yang sepi dan legang. Sesekali zian mau lirik ke belakang, melalui ekor matanya. Luna yang sedang bersandar pada punggung lebarnya sambil memeluknya dari belakang.


Sepanjang jalan, tak ada obrolan sama sekali di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan, Zian yang fokus mengemudi dan Luna yang terus diam dalam posisinya saat ini.


Luna sedikit terkejut ketika Zian meletakkan tangannya yang terasa dingin diatas punggung tangannya yang sedang memeluk perutnya. Membuat Luna merasakan getaran aneh dan tak biasa.


"Tanganmu terasa dingin, apa kau kedinginan?" tanya Zian memecah keheningan.


Zian menggeleng. "Tidak, perlu. Aku baik-baik saja, kita cari mantel hangat untukmu saja karena kau bisa mati membeku," ucap Zian menimpali.


Kemudian Zian menambah sedikit kecepatan pada motor besarnya. Berharap bisa menemukan boutique yang masih buka, meskipun dia sendiri tak yakin. Karena jarang ada toko yang buka selama 24 jam penuh.


Dan Dewi Fortuna sepertinya sedang berpihak pada mereka berdua, setelah hampir lima menit berkendara, Zian menemukan sebuah boutique yang masih buka. Tanpa pikir panjang, Zian pun menghentikan motor besarnya di boutique tersebut.


Dan kedatangan mereka berdua disambut oleh seorang pelayan toko. Karena malas berkeliling, akhirnya Luna meminta bantuan pada pelayan toko untuk memberikan rekomendasi mantel hangat untuknya.


Tak sampai lima menit , pelayan itu membawa beberapa mantel hangat dan elegan ke hadapan Zian serta Luna. Meminta mereka berdua untuk memilihnya. "Nona, Tuan, ini mantelnya. Silakan Anda berdua memilihnya," ucap pelayan itu. Karena Luna yang memakainya, jadi siang menyerahkannya pada gadis itu. Membiarkan Luna memilihnya sendiri.


"Aku ambil yang ini saja," Luna memilih sebuah mantel berwarna krem dengan hiasan kancing-kancing besar yang terbuat dari mutiara laut asli.

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk. "Baik, Nona. Akan langsung saya bungkuskan untuk Anda," ucap pelayan itu. Tapi Luna menolaknya, dia mengatakan akan langsung memakainya. Dan setelah membayar mental tersebut, Zian dan Luna meninggalkan toko, lalu perjalanannya yang sempat tertunda.


Dan baru saja motor Zian kembali melaju. Tiba-tiba beberapa motor besar menghadang perjalanan mereka, membuat Zian mau tidak mau menghentikan laju motornya. "Zian, siapa mereka? Sepertinya mereka memiliki maksud yang kurang baik?" ucap Luna yang mulai merasa was-was.


"Kau tenang saja dan tidak perlu takut, aku pasti akan melindungimu dari mereka. Sebaiknya tetap tenang dan jangan panik. Jangan pergi kemana pun dan tetap disini, aku akan menangani mereka dengan cepat." Ucap Zian lalu turun dari motor besarnya.


Luna menahan pergelangan tangan Zian. "Tapi, Zian," dan menghentikan langkah pemuda itu. "Mereka berkelompok dan kau hanya sendirian, jadi bagaimana kau bisa menghadapi mereka? Sebaiknya kita pergi saja dari sini," mohon Luna.


Zian menggelengkan kepalanya. "Kabur dan lari dari masalah adalah sikap seorang pengecut, dan aku tidak akan melakukannya. Kau tenang saja, Luna. Karena menghadapi cecunguk-cecunguk seperti mereka, bukanlah hal yang sulit bagiku." Zian mencoba meyakinkan Luna yang tampak panik dan cemas.


"ZIAN LU, JANGAN JADI PENGECUT KAU, CEPAT TURUN BIAR KAMI HABISI KAU!!" teriak salah satu dari anggota geng motor itu.


"Tidak perlu berteriak, karena aku tidak tuli!!" ucap Zian menimpali.


Meskipun hanya sendirian dan mereka berkelompok serta bersenjata, tetapi tak sedikitpun ketakutan terlihat dimata pemuda itu. Zian terlihat begitu santai dan tenang, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Sikapnya berbanding balik dengan Luna yang tampak sangat ketakutan.


Tidak ingin ada tawuran yang ujung-ujungnya membuat Zian babak belur. Luna pun mencari cara untuk membubarkan mereka semua. Dan Luna memiliki sebuah ide yang sangat brilian. Buru-buru dia berlari kearah pohon besar yang tak jauh dari tempat Zian memarkirkan motor besarnya, lalu meletakkan ponselnya di sana.


Dan tepat ketika perkelahian akan dimulai, tiba-tiba terdengar suara sirine polisi yang membuat semua orang kalang-kabut dan berusaha untuk melarikan diri. Sangat berbanding balik dengan Zian yang terlihat tenang-tenang saja. Seolah-olah dia tidak mendengar suara apa-apa. Kemudian siang terbalik dan menghampiri Luna.


"Tidak ada polisi, apa itu ulahmu?" tanya Zian memastikan.


Luna tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian dia menunjukkan ponselnya pada Zian dan memutar suara sirine polisi seperti yang baru saja ia putar. "Bagaimana? Aku hebat bukan?" Luna membanggakan diri.


"Ya, sangat hebat. Cepat naik, aku antar kau pulang." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Luna. Kebetulan sekali Luna memang ingin segera tiba di rumahnya dan beristirahat. Kedua matanya sudah tidak bisa diajak untuk kompromi.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2