
Deru suara mobil yang memasuki halaman mengalihkan perhatian Vera yang sedang menyeduh kopi di dapur. Tanpa melihatnya sekalipun, dia sudah tahu siapa yang datang.
Kemudian Vera meninggalkan dapur untuk menyambut kepulangan orang itu yang pastinya adalah Zian, putra tirinya.
Dari jarak 10 meter, Vera melihat Zian yang sedang merebahkan tubuhnya pada sofa ruang tamu. Dengan sudut bibir tertarik ke atas, Vera menghampiri pemuda itu. "Zian, kau pulang." Suara lembut yang berkaur di telinganya mengalihkan perhatian Zian. Lantas ia menoleh dan menatap sinis perempuan yang berdiri di hadapan.
Tak ada jawaban untuk pertanyaan Vera. Zian menanggapinya dengan dingin. "Zian, kondisi Papamu sudah semakin membaik. aku merawatnya dengan sangat baik, apa kau ingin melihatnya?" Vera menatap pemuda itu dengan lembut.
Kembali Zian mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Vera dengan tajam. "Tidak Sudi!!" kemudian Zian bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja, meninggalkan Vera yang menatap kepergiannya dengan sendu.
Vera menekan dada kirinya yang berdenyut sakit. Dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, apakah sebesar itu rasa benci yang Zian miliki untuknya. Vera sadar jika dia memang bersalah, tapi bagaimana pun juga dia tidak pantas menerima kebencian darinya.
"Zian , cepat sekali hatimu berubah. Aku sungguh tidak menyangka jika rasa cinta yang kau miliki untukku sekarang berubah menjadi rasa benci." Ucap Vera sambil mencengkram dadanya yang terasa perih.
Pemuda itu mendengar jelas apa yang Vera katakan, tetapi dia tak mau ambil pusing. Karena hubungannya dan Vera telah lama berakhir. Bagi Zian, Vera adalah sebuah kesalahan di masa lalu. Dan tak akan ada kata maaf bagi dia yang telah berani mengkhianatinya.
__ADS_1
.
.
Vera kembali ke kamarnya lalu meletakkan kopi yang baru saja ia seduh di atas meja samping tempat tidurnya. "Apa itu, Zian?" Tuan Lu menatap Vera dengan penasaran. Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Dia pulang?" lagi-lagi Vera menganggukkan kepalanya.
"Tapi dia tidak mau menemuimu, aku sudah memintanya untuk datang kemari tapi Zian menolaknya. Sepertinya dia sangat membenci kita berdua, terutama dirimu." Vera menatap suaminya dengan serius.
Tuan Lu mengangguk. "Ya, aku mengerti. Aku tidak pernah menyalahkan Zian meskipun dia sangat membenciku, karena semua memang salahku, Jika saja aku tidak egois dan mementingkan perasaanku sendiri lah semacam ini pasti tidak akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi karena nasi telah menjadi bubur, dan kau tidak perlu mencemaskan apapun." Ujar Donny sambil menatap Vera dengan lembut.
"Aku pasti akan selalu melindungimu, tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti apalagi melukaimu, bahkan itu Zian sekalipun. Aku pasti akan selalu melindungimu," kemudian Donny membawa Vera dalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi. Pemilik mata hitam itu menyeringai sinis, melihat kemesraan tersebut.
Bukan karena dia merasa iri apalagi cemburu, tapi dia merasa muak dengan kemesraan yang mereka tunjukkan. "Benar-benar menggelikan," kemudian orang itu beranjak dari tempatnya berdiri saat ini dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Zian, kita perlu bicara."
Orang itu yang ternyata adalah Zian menghentikan langkahnya karena kemunculan kakaknya. "Memangnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Zian mengangkat wajahnya dan menatap Sean dengan datar.
Ini mengenai, Papa. Apa kau tidak bisa memaafkannya? Aku tahu dia sudah sangat bersalah padamu. Dia menyakitimu begitu dalam, tapi itu adalah masa lalu dan lupakan apa yang terjadi kemudian kita buka lembaran baru. Diusia senjanya, biarkan dia merasa bahagia. Jadi pikirkan bagaimana perasaan, Papa." Sean menatap Leon dengan tatapan memohon.
Jika aku memikirkan perasaannya, lalu siapa yang akan memikirkan perasaanku? Lagi pula untuk apa aku mengalah pada orang yang tidak pernah menganggapku sebagai anaknya. Aku, tidak akan pernah memaafkannya meskipun tubuhnya hanya tinggal tulang belulang saja. Jadi jangan berharap!!" Zian menepuk bahu Sean dan melewatinya begitu saja.
Kenapa orang lain mudah sekali mengatakan hal itu tanpa peduli dengan perasaannya. Dan jika dia memikirkan perasaan ayahnya, lalu siapa yang akan memikirkan perasaannya sendiri? Tidak, sampai kapanpun Zian tidak akan pernah memaafkannya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1