Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Dapur Berantakan


__ADS_3

Sang Surya baru saja menapaki kali langit. Embun-embun pagi masih tampak di pucuk-pucuk daun. Semilir angin pagi berhembus, menghantarkan hawa dingin namun terasa sejuk.


Disebuah rumah yang memiliki dua lantai, seorang gadis terlihat sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Entah mimpi indah apa yang dia alami semalam, sampai-sampai bisa bangun sepagi ini. Sungguh sebuah rekor, dan harusnya gadis itu perlu diberikan penghargaan karena bisa bangun sepagi ini.


Klontang... Krompyang....


Suara-suara aneh terdengar dari dapur tempatnya berada. Sebenarnya dia sedang menyiapkan sarapan atau sedang tawuran? Keadaan dapur sudah tidak tertolong lagi, bisa dibilang hampir mirip dengan kapal pecah. Dan suara keras itu sampai ke telinga wanita paruh baya yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang tamu.


Penasaran dengan suara-suara itu, maka buru-buru dia pergi ke dapur. Kedua matanya membelalak sempurna. "YA TUHAN, LUNA. SEBENARNYA APA YANG KAU LAKUKAN PADA DAPURMU?!" pekik wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nyonya Xia.


Alih-alih menjawab pertanyaan ibunya, Luna malah nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi dan bersih. Kemudian gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ma, kau datang?" ucapnya lalu menghampiri sang ibu.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada dapurmu? Kenapa bisa berantakan seperti ini?" tanya Nyonya Xia lagi.


"Memasak, aku berencana menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri. Tapi siapa yang menduga hasilnya malah hancur lebur begini. Ngomong-ngomong Mama datang untuk mengantarkan sarapan, ya?" Luna menatap ibunya dengan mata berbinar-binar.


Nyonya Xia menghela napas panjang. "Jika bukan mengantarkan sarapan untukmu , memangnya untuk apa lagi?! Sebaiknya cepat bersihkan dapurmu, setelah ini baru sarapan. Anak gadis tapi hobinya bikin hancur rumah, Luna-Luna bagaimana bisa kau jadi seorang menantu yang baik jika seperti ini terus?!"


Nyonya Xia terus saja menggerutu sambil membereskan dapur yang berantakan karena ulah Luna. Karena jika Luna yang mengerjakannya sendiri, dia tidak yakin dapur akan kembali seperti sedia kala dalam waktu singkat.


Dan sementara itu, penyesalan tak terlihat sedikitpun di wajah Luna meskipun telah menghancurkan dapurnya dan membuat ibunya marah-marah. Bahkan Luna mengabaikan sang ibu yang masih mengomel terus. Karena pemandangan semacam itu bukanlah sesuatu yang baru bagi Luna, karena tak hanya sekali dua kali dia membuat kesal ibunya.


"Kenapa malah bengong saja? Cepat bantu Mama membereskan dapur!!" pinta Nyonya Xia.

__ADS_1


Luna lagi-lagi tersenyum. "Mama, sendiri saja, ya. Sekarang aku harus pergi bekerja, dan untuk sarapannya terimakasih, Mama memang yang terbaik dan tiada duanya. Ma, maaf. Tapi kau bereskan sendiri saja ya dapurnya, aku pergi dulu." seru Luna sambil melambaikan tangan pada ibunya.


"YAKK!! Luna Kau mau ke mana cepat kembali?! Bantu Mama membereskan dapur dan jangan kabur!" seru Nyonya Xia namun tak dihiraukan oleh Luna. Wanita itu menghela napas. Menghadapi putri bungsunya terkadang memang membutuhkan kesabaran yang ekstra.


Mengabaikan Luna yang sudah membuatnya kesal setengah mati. Nyonya Xia pun melanjutkan pekerjaannya, tapi dia memaklumi mengingat jika Luna sangatlah manja dan sejak kecil mendapatkan begitu banyak kasih sayang. Meskipun begitu, tapi Luna tidak tumbuh menjadi gadis manja yang selalu mengandalkan harta kedua orang tuanya. Karena Luna sejak kecil sudah mandiri.


.


.


Matahari sudah berdiri tegak di singgasana. Beberapa pemuda terlihat merajai jalanan dengan motor-motor besarnya. Menyalip beberapa kendaraan yang melaju di depan dengan kecepatan tinggi. Tak jarang mereka mendapatkan cacian dan makian dadi pengendara lain . Tapi mereka tak menghiraukannya sama sekali.


Wajah-wajah tampan itu dipenuhi luka, bahkan darah segar masih tampak pada luka-lukanya. Menandakan jika luka-luka itu masih baru. Motor hitam metalik dengan Polet merah dan silver itu tampak memimpin empat motor lainnya, namun motor hitam itu tiba-tiba melambat membuat bingung teman-temannya.


"Zian, ada apa?" tanya pemuda yang duduk di atas motor merah, yang tak lain dan tak bukan adalah Max.


Zian berputar arah dan menghampiri seorang gadis yang sangat dia kenal berdiri sendirian di halte. Dan jangan siang tentu saja mengejutkannya. "Sedang apa kau disini? Dimana mobilmu?" tanya Zian pada orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna.


"Zian, bagaimana bisa kau ada disini?" bukannya menjawab pertanyaan Zian, Luna malah balik bertanya. "Dan noda di pakaianmu itu darah?" kaget Luna saat melihat banyak noda mirip darah dipakaian yang pemuda itu kenakan.


Penasaran noda itu benar-benar darah atau bukan, Luna pun menghampiri sih yang dan memaksa pemuda itu untuk melepas helmnya. "Pelipismu terluka lagi?!" kaget Luna melihat darah segar keluar dari pelipis pemuda itu yang terluka.


"Hh, hanya luka kecil saja. Cepat naik, aku antar kau ketempat kerjamu." Pinta Zian yang seolah-olah sudah mengerti tujuan Luna saat ini.

__ADS_1


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Nanti saja, sebaiknya kita obati saja dulu luka-lukamu daripada jadi infeksi," ucapnya menimpali. "Ada apotek disekitar sini, sebaiknya antarkan aku ke sana untuk membeli obat dan perban," pinta Luna lalu duduk dijok belakang motor besar Zian.


Pemuda itu menghela nafas. Zian tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan Luna, mengingat seberapa keras kepala gadis itu. Motor besar itu pun melaju menuju apotek yang Luna maksud.


.


.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Luna dan Zian. Saat ini mereka berdua sedang berada di taman Sungai Han. Luna sedang mengobati luka-luka di tubuh Zian, yang paling parah adalah luka pada pelipis kanannya. Luka lamanya yang sudah mulai mengering tertimpa lagi oleh luka baru sehingga luka itu kembali mengalami pendarahan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai babak telur seperti ini?" Luna menatap Zian dengan penasaran. "Apa kau baru saja terlibat perkelahian?" tanya Luna memastikan.


"Hanya memberikan sedikit pelajaran pada bajingan-bajingan yang suka mencari masalah dan gara-gara denganku." Jawab Zian.


Luna menghela nafas. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan kalian para laki-laki, memang apa sih untungnya tawuran, balap liar, mabuk-mabukan, sampai-sampai kalian begitu suka melakukannya?" Luna menatap Zian dengan penasaran.


Tak ada tanggapan dari Zian. Pemuda itu memilih diam dan tak berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan Luna. Dan setelah hampir lima belas menit, Luna menyelesaikan pekerjaannya. Luka-luka di tubuh Zian sudah diobati dan ditutup perban.


"Kau pasti sudah terlambat, sebaiknya aku antar kau ketempat kerjamu." Ucap Zian seraya bangkit dari kursinya.


Luna mengangguk, mengiyakan. "Baiklah, kebetulan juga aku sudah hampir terlambat."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2