Jerat Cinta Gangster Tampan

Jerat Cinta Gangster Tampan
Cari Matti!!


__ADS_3

Deru suara motor-motor besar yang berjejer di jalanan memecah dalam keheningan malam. Sang pemilik dari masing-masing motor besar itu sudah memasang pose siap dan tinggal menunggu aba-aba untuk kemudian mengibarkan benderanya.


"Three, Two, One.... GO..."


Tepat setelah bendera diturunkan, balapan pun dimulai. Satu-persatu joki melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menembus dinginnya malam. Suara sorak-sorai penonton mulai terdengar, menyerukan nama-nama pembalap yang menjadi jagoan mereka. Diantara pembalap lainnya, terdengar ada dua nama yang paling banyak dan paling keras diteriakkan oleh para penonton.


"ZIAN, ZIAN, ZIAN, ZIAN..."


"ANDREW, ANDREW, ANDREW, ANDREW,"


Itulah dua nama yang paling mendominasi sepanjang balapan berlangsung , karena memang mereka berdua bintangnya, sang rival abadi yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terdepan. Tapi sayangnya Andrew selalu berada satu langkah dibelakang Zian, Zian selalu berhasil mengalahkannya ketika mereka tanding balap liar.


Zian dikenal sebagai juara bertahan di segala jenis balapan liar, belum ada yang bisa mengalahkannya, sampai-sampai Zian dijuluki sebagai Iblis jalanan oleh lawan-lawannya.


Bisa dikatakan jika Zian nyaris sempurna. Dia memiliki wajah yang rupawan, harta yang melimpah serta kemampuan balap yang luar biasa. Namun dibalik semua kelebihan yang dia miliki, tentu saja banyak kekurangannya, salah satunya adalah sikap buruk Zian yang selalu membuat onar seperti terlibat tawuran antar geng dan juga balap liar.


Zian adalah korban dari keegoisan orang tuanya. Yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Dan akhirnya itulah yang merubah sikapnya menjadi sangat dingin, dan sulit didekati. Sejauh ini hanya Max, Alex, Cris dan Theo yang diketahui sebagai sahabat setianya. Kabarnya sifatnya yang kasar dan kejam, membuat orang lain enggan mendekati dirinya.


Hanya tersisa satu tikungan lagi, maka Zian akan menempatkan dirinya sebagai juara kembali malam ini. Namun disaat jaraknya dengan finish hanya tinggal beberapa meter lagi, malah terdengar suara iring-iringan yang memuakkan datang dan menghadang jalannya untuk mencapai garis finish.


Zian berdecak kesal, mau tidak mau dia harus menghentikan laju motornya. Kemudian ia membuka helmnya dan menatap nyalang pada dua polisi yang berjalan menghampirinya. Kesalahan fatal bagi mereka berdua karena telah berani berurusan dengan seorang Zian Lu.


"Berhenti di sana, dan letakkan tanganmu di atas kepala!" perintah salah satu dari kedua polisi tersebut.

__ADS_1


Sayangnya Zian tak menggubrisnya. Dia mengabaikan perintah itu dan malah terus membawa kakinya maju sembari mematri senyuman miring pada sudut bibirnya. Dia mendekati kedua polisi yang tampak ketakutan tersebut.


"YAKK!! Aku bilang berhenti!" polisi itu memekik dengan sedikit khawatir, sementara Zian terus melangkah maju masih dengan senyum miring andalannya. "Berhenti di sana atau kami benar-benar akan menembakmu!" ancam petugas yang satunya. Namun lagi-lagi peringatan itu tak diabaikan oleh Zian. Dia benar-benar tak mendengarkan peringatan itu.


Zian terkekeh kecil melihat wajah ketakutan itu. Kemudian dia memberikan tantangan pada kedua petugas tersebut. "Tembak saja, biar kalian berdua juga merasakan bagaimana memuakkannya dibalik jeruji besi," ucapnya dengan santai.


"Maksudmu apa?" membuat si petugas mengernyit bingung.


Zian mendelikkan bahunya. "Aku yakin jika kalian berdua tidak buta. Aku dengan tangan kosong dan tidak membawa senjata apapun untuk melawan kalian. Dan jika kalian sampai menembakku, maka kalian akan mendapatkan tuduhan penembakan pada warga sipil" sahutnya ringan, dan seketika membungkam para polisi di depannya.


Zian kembali tersenyum, kemudian dia menurunkan kedua tangannya ketika telah berada di hadapan kedua polisi tersebut, keduanya yang ada malah gemetar ketakutan. Kilatan tajam terpancar dari sorot matanya dingin, sedang seringai licik mulai terbentuk di bibirnya.


"Kenapa kalian tiba-tiba diam? Atau mungkin saja kalian mulai menyesal datang dan menganggu kemari dan menggagalkan kemenanganku?" Kedua polisi itupun kembali bungkam, perlahan mereka berdua melangkah mundur tanpa disadari.


"Mari kita lihat. Apa yang akan terjadi..." Zian mendekati polisi itu lalu berbisik, lalu memberikan isyarat pada teman-temannya serta kawanan pembalap lainnya yang mulai mengerubungi kedua polisi tersebut. Kedua polisi itu tampak ketakutan."..Ketika seseorang mencoba berurusan dengan, Zian Lu.." Zian menyeringai lebar.


Tidak ingin terlibat masalah dengan pemuda-pemuda berandalan itu, kedua polisi itu pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan lokasi balap liar. Niat awalnya untuk membubarkan mereka dan menangkap para pembuat onar tersebut, yang ada justru mereka berdua lah yang terancam karena telah mencari masalah dengan orang-orang yang salah.


"Bagaimana, apa balapan kita lanjutkan?" seru salah seorang peserta balap liar.


"Tidak, untuk pertandingan malam ini seru!!" jawab Zian dan Andrew hampir bersamaan, membuat keduanya sama-sama menoleh dan saling menatap. Seperti biasa, tatapan mereka berdua dingin dan datar.


"Kita pergi dari sini," ucap Zian pada keempat temannya. Dan keempatnya pun meninggalkan lokasi balap liar begitupun dengan peserta yang lain termasuk Andrew and the geng.

__ADS_1


Harusnya malam ini menjadi kemenangan Zian yang ke 100, namun dikacaukan oleh kedatangan dua polisi tadi. Hingga mau tidak mau Zian harus menunda kemenangan ke 100 nya.


.


.


"Vera, apa yang sedang kau lakukan di ruang kerja, Papa?!"


Vera terkejut bukan main dengan kemunculan Sean yang begitu tiba-tiba, sontak ia menoleh dan mendapati putra tirinya itu menghampirinya. "Apa sebenarnya yang sedang kau cari di ruangan ini?" tanya Sean sekali lagi.


Wanita itu menggelengkan kepala. "Ti...Tidak ada, aku hanya sedang mencari barangku yang tidak sengaja terjatuh disini tapi aku tidak menemukannya juga." Jelasnya.


Sean memicingkan matanya. "Benarkah? Jawabanmu sangat meragukan, Nona. Dan apa kau pikir aku tidak tau apa yang sedang kau cari, Vera? Akui perbuatanmu atau aku akan melaporkanmu pada, Papa!!" ancam Sean bersungguh-sungguh.


Vera menyeringai. "Lakukan saja, kau pikir aku takut?" dia justru menantang Sean. Bahkan Vera tak terlihat ketakutan sama sekali. "Kita lihat saja, dia akan percaya padaku atau padamu?!" Vera tiba-tiba merobek pakaiannya sendiri dan menampar pipinya berkali-kali serta memotong rambutnya dan merusak make up-nya. Penampilannya benar-benar berantakan. Membuat Sean terkejut bukan main.


"Vera, apa yang kau lakukan?!" Sean menatap Vera dengan marah.


"Membuatmu terusir dari rumah ini!!" jawab Vera dengan seringai penuh kemenangan. Kemudian dia berlari keluar ruangan sambil berteriak dan menangis. "DONNY, DONNY, TOLONG... SELAMATKAN AKU. SEAN, INGIN MELECEHKANKU!!"


Kedua mata Sean pun membelalak sempurna. "Vera, kau cari mati, ya?!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2