
Di sudut gang kecil yang kumuh. Terlihat seorang pemuda bersurai keperakan berdiri, bersandar pada tembok sambil melipat kedua tangannya. Mata hitamnya yang sepakat malam menatap dingin jalannya perkelahian yang melibatkan satu geng dan beberapa preman yang berkuasa di tempat tersebut.
Penampilannya tidak bisa di katakan biasa. Kemeja hitam lengan terbuka dan Singlet putih yang melekat pas di tubuhnya, jeans biru gelap dengan sobekan pada paha dan lututnya, anting di telinga kirinya dan juga tribal tatto pada salah satu lengannya.
Dari penampilannya saja, sudah dapat di pastikan jika pemuda itu bukanlah pemuda baik-baik. Melainkan seorang berandalan.
Lima lawan Sepuluh, Enam di antaranya telah berhasil di lumpuhkan. Menyisakan empat lagi. Tidak ada luka berarti yang mereka berlima dapatkan. Hanya lecet-lecet pada lengan serta jari-jarinya, wajah mereka masih utuh tanpa lebam sedikit pun.
"Ckk, membosankan." Pemuda itu mengambil sebungkus rokok dan pematik dari dalam saku belalang celananya, mengambil 1 batang dan menyulutnya. Asap mengepul dari mulutnya yang kemudian menguar dan hilang tersapu hembusan angin malam.
"Yakk, sampai kapan kau akan diam saja di sana?!" seru salah seorang teman pemuda itu.
Pemuda itu 'Zian' menoleh. Menatap malas pada sahabat jangkungnya, memutar bola matanya jengah. Bibirnya kembali menghisap rokok di tangannya dan menghembuskan asapnya dengan santai
"Kau yakin ingin aku ikut dalam permainan membosankan itu? Apa kau sudah puas bermain-main dengan mereka? Baiklah, aku selesaikan sekarang juga." Zian membuang putung rokok yang tinggal setengah, melangkah santai menghampiri teman-temannya. Sampai teriakan menghentikan langkah besarnya.
"STOOOPPP!!" Dahi pemuda itu berkerut, membentuk setengah siku-siku. Matanya memicing menatap Alex penuh kebingungan.
"Why?"
"Aku belum puas, sebaiknya kau diam saja di sana." Serunya menimpali.
"Cihh." Zian mendecih. Kesal dengan sikap plin-plan Alex. Dia sendiri yang memintanya bergabung, dan dia pula yang menghentikannya.
Tapi itu sedikit menguntungkan untuknya. Karena Ia tidak perlu membuang banyak waktu dan tenaga. Tanpa dirinya pun mereka berempat sudah bisa mengatasinya.
BRAKKK .. !!! ..
Zian tiba-tiba menendang satu preman yang mencoba melayangkan serangan padanya. Akibatnya tubuh pria itu terjungkal kebelakang. Pemuda itu bangkit dari posisi bersandarnya lalu mengarahkan kakinya pada dada pria itu hingga muntah darah.
Zian menarik pakaian yang pria itu kenakan, berbicara dalam jarak yang lumayan dekat."Aku bukan Max yang suka bermain halus, sebaiknya jangan coba-coba mencari masalah denganku." ucap Zian memperingatkan
Zian mendorong kembali tubuh pria itu hingga menghantam aspal dengan cukup keras. Kepala bagian belakangnya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Da-dasar ib-iblis." ucap laki-laki itu terbata-bata.
Langkah Zian terhenti, diliriknya sekilas pria yang sudah tak berdaya itu. Mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian yang membalut tubuhnya dan...
DORRR .. !!! ..
Satu timah menembus kepallanya dan membuat pria itu meregang nyawa detik itu juga. "Menjijikkan." Desisnya dan pergi begitu saja, di ikuti keempat temannya yang telah usai dengan acara olah raganya.
Kelima pemuda itu berjalan beriringan, menuju tempat di mana motor mereka di parkirkan. "Selalu saja bermain kasar. Apa kau tidak memiliki sedikit pun belas kasih untuk pria malang itu?" Tanya Max yang berjalan di samping Zian.
Pemuda itu menoleh, menatap orang yang tiga tahun lebih tua darinya itu dengan datar."Aku bukan dirimu yang suka bermain halus." Jawabnya dingin. Seperti biasa.
"Hei ini kemenangan yang cukup melelahkan. Apa tidak ada yang ingin merayakannya?" Cris menatap Zian, Max dan Alex kemudian beralih pada Rio.
Max menghentikan langkahnya lalu mengusap dagunya dengan dua jarinya. Seperti sedang berfikir. "Perayaan ya? Aku rasa bukan ide buruk. Dan Alex lah yang malam ini mentraktir kita di bar sepuasnya?" Ujarnya. Yang hanya di balas anggukan oleh Alex, sebelum Ia menyadari sesuatu.
"APA?!" pekiknya.
"Kau ikut kan?" Tanya Rio pada Zian.
Pemuda itu menggeleng. "Aku harus pulang." Dan dalam hitungan detik, sosok Zian dan motor besarnya telah menghilang dan tak terjangkau lagi oleh pandangan Alex Cs. Dan keempat pemuda tampan itu tidak ingin ambil pusing. Mereka tetap akan menggelar pesta tanpa Zian.
.
.
"Mama, Papa, aku pulang!!"
Seruan keras itu mengejutkan sepasang suami-istri yang sedang berdebat di ruang keluarga. Mereka berdua sedang memperebutkan remote televisi. Si wanita ingin nonton drama percintaan, sementara si pria ingin menonton acara sepak bola.
"Astaga, apa yang sedang kalian lakukan?" Luna memekik dengan terkejut melihat ayah dan ibunya yang sama-sama memegang remote dengan pandangan saling membunuh.
"Luna," seru Nyonya Xia seraya melepaskan remote itu begitu saja lalu menghampiri putrinya. "Akhirnya kau pulang juga. Gadis nakal,Mama sangat merindukanmu." Ucap Nyonya Xia sambil memeluk erat putrinya
__ADS_1
Luna berusaha melepaskan pelukan ibunya. dia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali karena pelukan Nyonya Xia yang terlalu erat. "Mama, kau membuatku tidak bisa bernapas. Jadi lepaskan," pintanya memohon.
Nyonya Xia pun terkejut. Buru-buru dia melepaskan pelukannya pada tubuh Luna lalu meminta maaf padanya. "Ma..Maaf, Sayang. Mama, tidak sengaja. Mama, terlalu semangat karena akhirnya kau pulang juga." Ucapnya penuh sesal.
Luna mendengus. Lalu pandangan Luna bergulir pada ayahnya. Paruh baya itu terlihat merentangkan kedua tangannya. Luna tersenyum lebar lalu menghampiri sang ayah dan memeluknya. Sudah lebih dari satu bulan Luna tidak pernah pulang ke rumahnya ditambah lagi dengan kesibukan ayahnya di kantor. Jadi mereka jarang sekali bertemu.
"Papa, aku merindukanmu." ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.
"Gadis nakal, Papa juga sangat merindukanmu." Jawab tuan Xia sambil membalas pelukan Luna.
Meninggalkan suami dan putrinya. Nyonya Xia pergi ke dapur untuk membuatkan makanan kesukaan Luna. Waktu makan malam memang sudah lewat sejak beberapa jam yang lalu. Tapi ketika Luna pulang, mana bisa Nyonya Xia diam saja tanpa membuatkan apapun untuknya. Sedangkan Luna sibuk mengobrol dengan ayahnya.
"Makanya cepat cari pasangan. Aku tidak bosan jomblo terus? Papa, saja sampai bosan menunggumu menikah dan memberikan cucu untuk, Papa." Ucap Tuan Xia membuat ekspresi Luna berubah seketika.
"Berhenti bersikap menyebalkan, Pa!! Kenapa semua orang suka sekali menyarankan untuk menikah, menikah dan menikah. Aku ini masih muda, dari pada Papa sibuk mendesakku untuk menikah. Lebih baik Papa suruh kakak saja. Dia kan sudah mulai karatan, jadi sudah waktunya untuk dimuseumkan!!" ujar Luna panjang lebar.
"Sembarangan!! Enak saja menyebutku karatan!!" sahut seseorang dari belakang. seorang pria Muda terlihat menghampiri mereka berdua. Dia adalah Justin, kakak Luna.
Bukannya meminta maaf. Luna malah terkekeh geli melihat ekspresi kakaknya yang begitu menggemaskan dimatanya. "Sudahlah, terima saja kenyataan jika kau memang sudah karatan. Lagipula apa sebutan yang tepat untuk jones sepertimu jika bukan bukar 'Bujang Karatan!!"
Entah kenapa Luna sangat suka mengganggu kakaknya. Melihatnya marah bukanya terlihat menyeramkan. Yang ada malah menggemaskan. Dan itulah yang membuat Luna sangat suka sekali menggodanya. Sedangkan Nyonya dan Tuan Xia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.
Lima menit kemudian Nyonya Xia memanggil Luna untuk makan. Ternyata bukan hanya Luna saja, tapi Tuan Xia dan Justin ikut makan juga. Dan mereka berempat makan dengan penuh kehangatan. Kebersamaan mereka berempat l diwarnai obrolan-obrolan ringan dan menggelikan.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1