
Zian membuang puntung rokoknya saat melihat kedatangan Luna. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Luna mengajaknya untuk bertemu. Karena Luna tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengatakan Ingin Bertemu Dengannya.
"Zian, maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Luna penuh Sesal.
Zian menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa,aku juga baru sampai. Memangnya ada apa kau mengajakku untuk bertemu? Kelihatannya sangat serius sekali," tanpa banyak berbasa-basi Zian bertanya tentang Apa tujuan Luna mengajaknya untuk bertemu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Zian, Luna justru terlihat sangat gugup. Berkali-kali gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri, kebiasaan yang selalu Luna lakukan ketika dia sedang gugup ataupun panik.
"Luna, aku memintamu untuk menjawab, bukannya diam!!" Zian mulai kehilangan kesabarannya karena kediaman Luna.
Gadis itu mengangkat mengambil nafas panjang dan menghilangnya. Dengan gugup, Luna pun mengatakan apa tujuannya mengajak Zian bertemu.
"Zian, apa kau ada waktu? Papa, ingin bertemu denganmu. Dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan denganmu," ucap Luna. Padahal hanya menyampaikan itu, tapi Luna malah gugup setengah mati.
"Jadi kau mengajakku bertemu hanya untuk mengatakan ini?" zian menatap Luna tak percaya, gadis itu menganggukkan kepalanya. Lalu kenapa tidak kau katakan lewat telepon saja, membuang-buang waktu saja!!" ucapnya dingin.
"Maaf, aku tidak enak jika harus mengatakannya lewat telepon. Makanya aku mengajakmu untuk bertemu. Dan Aku butuh jawabanmu sekarang juga, bisa atau tidak?" Luna mencoba memastikan.
"Kapan?" Zian bertanya dengan singkat dan padat.
"Malam ini, itupun jika kau ada waktu." Jawab Luna.
"Jam tujuh malam, kita bertemu di rumah orang tuamu. Kalau begitu aku duluan," kemudian Zian beranjak dari hadapan Luna dan pergi begitu saja.
Luna menghela nafas lega. Dia sempat was-was jika Zian akan menolaknya, tapi ternyata dia mau untuk bertemu dengan ayahnya. Dan sementara itu, Luna sendiri tidak tahu hal penting yang ingin ayahnya sampaikan pada Zian. Dan Luna hanya bisa berdoa, semoga ayahnya tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
.
.
Suara dering pada ponselnya sedikit menyita perhatian Zian yang hendak memasuki kantor kepolisian. Terlihat nama Max tertera dilayar menyala terang, penasaran kenapa Max menghubunginya, Zian pun segera menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Zian, kau dimana? Cepat datanglah kemari, kita berempat hampir mati dikeroyok orang!!" serunya dengan panik.
"Memangnya dimana kalian sekarang?" tanya Zian dengan santai.
"Lokasi balap liar,"
"Baiklah aku akan ke sana sekarang juga!!" kemudian Zian mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja.
Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke kantor polisi dan segera pergi ke lokasi balap liar. Dia tidak bisa mengabaikan teman-temannya yang saat ini sedang berada dalam bahaya.
Lima belas menit kemudian, Zian tiba di lokasi. Dia tak hanya sendirian, Zian membawa beberapa anggota gengnya yang jumlahnya lebih dari sepulu orang. Dan kedatangan mereka membuat Max dan yang lain seolah-olah mendapatkan Oasis di tengah padang pasir yang tandus.
"Dasar pengecut. Beraninya cuma main keroyokan!!" seru Zian dan mengalihkan perhatian semua orang.
Zian dan anggota gengnya sengaja menghentikan motor mereka jauh dari lokasi, supaya kedatangannya tak disadari oleh orang-orang yang mengeroyok Max cs. Tanpa ampun, Zian menghajar yang sudah membuat teman-temannya babak belur, dan jumlah mereka sekarang seimbang.
"Bagus, Zian. Hajar mereka dan jangan kasih ampun," teriak Alex dengan heboh.
Kurang dari lima belas menit, akhirnya Zian dan anggota gengnya berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, dan membuat mereka kocar-kacir. Zian menghampiri keempat temannya dan menghela napas.
"Kalian benar-benar, ya. Memangnya masalah apa lagi yang kalian buat sampai-sampai harus terlibat masalah dengan geng lain?!" zian menatap ke-4 temannya satu persatu.
Keempatnya menggeleng dengan kompak. "Bukan salah kita, tapi salah mereka. Kita berempat sedang asyik nongkrong disini, tapi tiba-tiba mereka datang dan langsung menyerang. Kita berempat kalah jumlah, makanya mereka bisa menghajar kami dengan mudah." Jelas Cris.
Zian menghela nafas. Bukan Max cs jika tidak terlibat dalam masalah, dan bukan sekali ini saja mereka menghubunginya karena masalah yang sama. Dan Zian berani bersumpah jika masalah yang mereka alami saat ini adalah karena wanita, seperti yang sudah-sudah.
"Tidak ada asap jika tidak ada api. Tidak mungkin mereka tiba-tiba menyerang jika kalian tidak melakukan sesuatu yang membuatnya marah." Ujar Zian seolah-olah mengerti apa yang terjadi. Karena dia mengenal teman-temannya dengan sangat baik.
Akhirnya Theo pun memberitahu Zian yang sebenarnya, karena membohonginya juga percuma saja sebab Zian sudah mengenal mereka berempat dengan baik.
"Jadi begitu ceritanya, masalah itu dipicu oleh Max yang tidak sengaja memegang pantatt kekasih salah satu dari mereka. Mungkin karena tidak terima panttat kekasihnya dipegang oleh laki-laki lain meskipun tanpa sengaja, makanya mereka menyerang dan membuat perhitungan," tutur Theo panjang lebar.
__ADS_1
Zian menghela nafas. Sudah dia duga, dan ini bukan pertama kalinya mereka terlibat masalah semacam ini. Dan Zian sampai bosan membantu mereka yang dihajar habis-habisan oleh geng lain karena masalah yang sama.
"Setelah ini, jika ada masalah selesaikan sendiri dan jangan melibatkanku lagi!!" ucapnya dan pergi begitu saja.
Tentu saja ancaman Zian tidak sungguh-sungguh, sebanyak apapun teman-temannya membuat masalah yang ujung-ujungnya menyusahkan dirinya, tapi Zian pasti akan membantunya. Karena bagaimanapun juga, Zian adalah orang yang setia kawan. Dan mereka tahu itu, itulah kenapa mereka tak pernah menggubris ancaman Zian sama sekali.
.
.
Luna tak bisa menahan rasa ingin tahunya perihal alasan ayahnya memanggil Zian untuk datang ke rumahnya. Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu, tapi ayahnya tak mau memberitahunya dan memilih untuk tetap bungkam. Bahkan ketika Luna memohon. Tak hanya ayahnya saja, bahkan ibunya juga, mereka benar-benar kompak dalam membuatnya penasaran.
Dan harapan Luna satu-satunya adalah Vincent. Luna sangat berharap supaya sang kakak mau memberitahunya. "Kak, pasti kau sudah diberitahu oleh Papa kenapa dia ingin mengundang Zian kemari, jadi cepat beritahu aku sekarang juga." Pinta Luna menuntut.
Vincent menggaruk tengkuknya. "Luna, bagaimana, ya. Bukannya kakak tidak ingin memberitahumu, tapi Papa meminta kami berdua untuk tutup mulut karena ini rahasia. Jika kami memberitahumu, takutnya kau nanti malah mengacaukannya." ujar Vincent.
Luna menggelengkan kepala. "Tidak, aku janji. Jadi beritahu aku sekarang juga, kenapa Papa ingin Zian datang menemuinya. Ayolah, Kak beritahu aku," pintanya memohon.
Vincent pun semakin bingung sekarang, antara memberitahu Luna atau tetap merahasiakannya. Karena jika dia sampai memberitahu Luna, bisa-bisa ayah mereka menggantungnya hidup-hidup. Tapi jika Luna tidak diberitahu, pasti dia akan tetap memaksa supaya ia memberitahunya.
"Kakak, beritahu aku sekarang. Atau kau ingin aku menyebar aibmu yang ada padaku?" Luna mulai mengeluarkan jurusan andalannya, yakni mengancam Vincent. Karena Luna yakin, dengan ancaman itu vincent tak akan berkutik sama sekali.
"Jangan, jangan, jangan. Baiklah aku akan memberitahumu. Tapi jangan sebarkan aibku, sebenarnya Papa ingin supaya Zian melamarmu kemudian kalian menikah," dan akhirnya vincent memberitahu Luna. Membuat kedua mata gadis itu membelalak sempurna.
"APA, INGIN SUPAYA ZIAN MELAMARKU?!"
.
.
Bersambung
__ADS_1