
Hanya dengan melihatnya saja. Pasti semua orang tau jika pemuda-pemuda itu adalah sekumpulan remaja nakal yang suka mencari masalah dan membuat keonaran di mana-mana, dengan kata 'brandal' yang melekat pada diri mereka.
Kebanyakan dari mereka adalah korban broken home atau mereka yang kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang orang tuanya. Mabuk-mabukan, tawuran, balap liar, sampai percintaan bebas seolah menjadi makanan mereka sehari-hari.
Dan anehnya, meskipun memilih berjalan di persimpangan. Namun tak sedikit perempuan yang menaruh hati pada mereka. Mungkin karena pemuda-pemuda itu memiliki paras yang luar biasa tampan, selain itu juga karena status mereka yang berasal dari keluarga terhormat.
Meskipun mereka memiliki paras setampan dewa-dewa Yunani kuno, namun tetap saja mereka adalah kumpulan brengsekk yang selalu menimbulkan masalah.
Tak sedikit pula dari mereka yang memiliki otak messum dan menjadi penjajah cinta, namun ada juga brandal yang mengklaim jika dirinya itu seorang yang tidak normal. Lalu yang menjadi pertanyaannya? Apakah dia benar-benar tidak normal?
"Hai tampan, sendirian saja," seorang wanita menghampiri pemuda itu yang tampak acuh. Dia hanya melirik sekilas kearahnya lalu fokus pada minuman di tangannya.
Pemuda itu mendengus sinis, diamati pakaian wanita itu yang super minim bak kurang bahan.
Mengabaikan wanita itu dan kembali memperhatikan minumannya, seolah-olah wanita itu hanya gumpalan debu yang tak berharga. Sifatnya yang cuek seolah mengatakan jika Ia tidak memiliki ketertarikan apa pun pada semua keseksian yang ditawarkan.
"Pergilah nona, aku tidak tertarik padamu!!" ucapnya ketus. Dia mengusir wanita itu pergi, keberadaannya benar-benar mengganggunya.
"Kenapa kau menolaknya? Jelas-jelas dia adalah bintangnya di club' malam ini." ucap seorang bartender melihat apa yang baru saja di lakukan oleh pemuda di depannya.
Pemuda itu 'Zian' kembali meneguk minumannya dengan tenang. "Berisik sekali kau ini. Lama-lama kau mirip bocah-bocah itu, Frans!! Jangan merusak moodku. Dan asal kau tau. Aku disini hanya untuk bersenang-senang," Cicit Zian menjelaskan.
__ADS_1
"Kau benar-benar aneh. Jelas-jelas banyak sekali wanita yang ingin dekat denganmu, tapi kenapa kau tidak memberikan sedikitpun ruang pada mereka untuk mendekatimu? Memikirkan masa lalu?! Terus terang aku heran, apa yang mejadi alasanmu menolak semua wanita yang mencoba mendekatimu,"
Zian meneguk kembali vodkanya "Karena mereka semua adalah mahluk menyebalkan," jawabnya acuh tak acuh.
Frans menggelengkan kepalanya, Ia benar-benar tak habis pikir dengan sepupunya ini. Disaat teman-teman satu gengnya berlomba-lomba untuk bisa tidur dengan banyak wanita, tapi dia justru menghindar meski pun banyak wanita yang bersedia membuka kaki untuknya.
"Kau belum mencobanya, kawan. Berhubungan dengan wanita itu sangat menyenangkan, meskipun dengan pria juga. Tapi rasanya sangat berbeda." Tutur Frans panjang lebar.
"Hoek," Zian memegang perutnya yang terasa mual. Kata-kata Frans benar-benar membuatnya ingin muntah.
"Sialan kau, Lu. Aku hanya ingin berbagi kenikmatan denganmu. Karena di antara semua anggota Black Phoenix hanya kau satu-satunya yang belum pernah merasakan liang kenikmatan dan surganya dunia." Tutur Frans panjang.
Frans terkekeh sambil menggelengkan kepala. Sepupunya ini memang tidak pernah berubah, ketus dan bermulut tajam. Bahkan sifat Zian jauh lebih dingin dari yang terakhir dia ingat, dan Frans tidak ingat kapan terakhir Ia melihat Zian tersenyum dan bersikap ramah.
"Kau benar-benar manusia aneh, Zian. Kau tampan, kaya tapi kelakuanmu minus semua. Balap liar, mabuk-mabukan, tawuran, memenuhi tubuhmu dengan tatto, membuat tindik. Aku heran, kenapa kau lebih memilih menggelandang dari pada harus tinggal di mansion mewahmu itu,"
Zian mendengus. "Tanpa aku jelaskan sekalipun pasti kau sudah tau apa alasanku, Frans. Disisi lain karena aku suka tantangan," jawabnya datar.
"Tapi, Zian. Bagaimana kau bisa membiayai hidupmu jika Ayahmu sudah membekukan semua kartu kreditmu?" Frans menatap Zian cemas. Zian meneguk minumannya dengan tenang.
"Aku tidak peduli, bahkan penghasilanku dari balap liar jauh lebih menjanjikan. Dan asal kau tau, tabunganku lebih dari cukup untuk membeli rumah mewah sekelas mansion Lu. Aku tidak semenyedihkan itu, Frans,"
__ADS_1
Ya, memang benar apa yang Zian katakan, mungkin tidak banyak yang tau jika Zian telah membeli sebuah apartemen super mewah di kawasan elit Seoul. Bahkan Zian juga dapat membeli mobil sport keluaran terbaru dari hasil balapan liarnya. Gila memang, tapi seorang Lu memang tidak bisa di remehkan.
Zian menaikkan alis kanannya melihat Frans menyodorkan sebuah buku catatan kecil padanya.
"Didalam buku catatan itu, ada lebih dari 500 biodata wanita plus foto dan nomor telfonnya. Kau bisa menghubungi salah satu dari mereka untuk bisa kau ajak bersenang-senang, dan aku jamin kau akan terpuaskan,"
Zian mendecih tidak suka. "Menjijikkan,"
Frans kembali tertawa mendengar umpatan si bungsu Lu, Frans menyeringai menatap wajah kesal Zian. "Jika kau siap, hubungi aku. Kita akan melakukan double....?"
"Shittt, mati saja kau, Frans," Ketus Zian menyela ucapan Frans.
Derit kursi di tarik kebelakang seiring dengan Zian bangkit dari duduknya, detik berikutnya hanya punggung tegapnya yang hanya tertutup singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya tertangkap oleh jade Frans.
Pemuda itu kembali mengurai senyum, menggoda sang sepupu memanglah hal paling menyenangkan. Dan tak sampai lima menit, sosok Zian pun sudah menghilang dari jangkauan matanya
.
.
Bersambung.
__ADS_1