
Tanisha semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Devan, saat pria itu mulai merenggangkan tangannya. Tangisnya kembali pecah. Dia tidak mau benar-benar berpisah dengan pria itu.
"Cukup, Sha. Aku harus pergi sekarang," ucap Devan seraya berusaha melepas tangan Tanisha yang masih melingkar di pinggangnya.
Tanisha menggeleng kepala, serta semakin mengeratkan tangannya ke pinggang Devan. Namun, tenaganya kalah dengan tenaga yang dimiliki Devan. Pria itu dengan sedikit memaksa, berhasil melepas tangan Tanisha dari pinggangnya.
"Enggak, Mas. Aku nggak mau kita pisah," jelas Tanisha dengan suara tercekat. Hatinya terasa sangat perih saat pria yang sangat ia cintai meminta mengakhiri hubungan mereka hanya karena sebuah kebohongan yang tidak terlalu serius, menurut Tanisha.
Dia sudah memberi pengertian terhadap Devan tentang alasannya menutup jati dirinya, tapi pria itu tetap bersikeras ingin pisah dengannya.
"Sha...," suara Devan terdengar begitu berat saat memanggil nama Tanisha. Dia menahan rasa sakit di hatinya.
Sungguh, ini pilihan yang sangat berat bagi Devan. Ingin meneruskan hubungan ini, tapi gadisnya itu tidak menghargai sebuah kejujuran. Ingin berpisah, hatinya sangat tidak rela jika sampai gadisnya akan dimiliki oleh orang lain, kelak.
__ADS_1
Yang bisa Devan lakukan sekarang, ialah melepas gadisnya agar kelak Tanisha mengerti betapa pentingnya sebuah kejujuran itu di dalam sebuah hubungan. Berat memang, tapi Devan harus tega melakukan itu semua.
"Jaga dirimu baik-baik, Sha," ucap Devan dengan berat hati. Melepas pelukan Tanisha dengan sedikit memaksa. Gadisnya itu menggeleng kepala seraya air matanya mengalir begitu deras membasahi permukaan kulit pipinya.
Devan membalikkan tubuhnya, mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Tanisha. Meninggalkan Tanisha yang kini bersimpuh di lantai sambil menatap ke arahnya. Devan mencoba untuk tidak menoleh ke belakang, dia takut jika hal itu ia lakukan, ia tidak akan sanggup untuk tidak menarik tubuh gadisnya.
Devan meneteskan air matanya, saat sampai di samping mobilnya yang terparkir di tempat parkir restoran tersebut. Tangannya mengepal, kemudian memukul dadanya berulang kali.
"Arrgghhh!!" teriak Devan sembari menendang ban mobilnya dengan sangat keras, melampiaskan rasa sakitnya. Tidak memperdulikan ada orang yang tengah mengawasi dirinya.
Sementara diposisi Tanisha, gadis itu tetap bersimpuh dilantai,meski ada orang yang berusaha menolongnya untuk berdiri. Tanisha mengacuhkan bantuan orang tersebut.
"Benarkah ini akhir dari kisah kita," lirih Tanisha tatapan matanya nanar mengarah ke depan. Dimana Devan menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
Dia kembali menangis mengingat kenangan dirinya bersama Devan yang terbilang tidak sebentar itu. Hatinya hancur, se-hancur hancurnya sekarang. Namun, bukan Tanisha jika menyerah begitu saja. Apa yang seharusnya menjadi miliknya, ia akan berusaha semakin keras lagi untuk mendapatkannya kembali.
Tidak berapa lama, ada seorang pria yang mempunyai ketampanan paripurna melangkah mendekat ke arahnya. Pria itu mengulurkan tangannya kepada Tanisha, agar Tanisha meraih tangannya.
"Bangun. Jangan sampai merendahkan dirimu. Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya kepada dia. Buktikan kalau dia menyesal telah membuangmu," ucap pria itu seraya tersenyum miring.
Tanisha menatap nyalang kepada pria itu, lalu meraih uluran tangannya. Tanisha berdiri dengan dibantu pria tersebut. "Dia tidak membuang ku, hanya memutuskan hubungan kita," kesal Tanisha merapat perkataan pria itu.
"Sama saja, My Barbie devil's." pria itu tertawa keras saat Tanisha menginjak kakinya, karena kesal.
"Lihat saja, aku akan membuatnya kembali padaku tanpa bantuanmu," tantang Tanisha. Meski hatinya terasa sakit, tapi dia bertekad akan membuat Devan kembali padanya. Dan menyesal telah memutuskan dirinya secara sepihak.
Bersiaplah Bang... apakah kamu kuat ato tidak😌
__ADS_1