
Binar kebahagiaan terpancar jelas di mata pria yang kini tengah duduk dengan penuh rasa gugup di depan penghulu tersebut. Setelah memutuskan untuk menikah hari ini juga, Devan segera menghubungi kedua orang tuanya. Beruntung, jarak antara tempat ini dan rumahnya tidak terbilang jauh. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit jika jalanan sedang lancar.
Devan menoleh ke samping, saat gadisnya itu duduk di kursi yang berada di sebelah kanannya. senyuman manis Devan layangkan pada gadis yang menampakkan ekpresi penuh pertanyaan itu.
"Kamu benar-benar cantik hari ini, Sayang," ucap Devan, membuat wajah Tanisha bersemu merah karena malu.
"Kamu punya banyak penjelasan setelah ini, Mas," bisik Tanisha. Devan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Ya, Devan mempunyai banyak hal yang harus ia jelaskan pada calon istrinya ini. Dari hal mengapa akhirnya Devan memutuskan untuk segera menikah dengannya, dan juga kenapa harus semendadak seperti saat ini.
Sementara, Darren yang melihat interaksi putrinya dengan Devan, hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Selain Darren menyelediki sendiri tentang Devan, sang istri pun juga sering menceritakan kisah asmara mereka yang sangat menarik untuk di simak.
__ADS_1
Dirasa semua sudah siap, acara ijab qabul antara Devan dan Tanisha pun segera di mulai. Terlihat juga pasangan pengantin yang baru sah itu juga ikut bergabung, untuk menjadi saksi pernikahan antara Devan dan Tanisha.
"Bagaimana? apa sudah bisa kita mulai?" tanya sang mudin. Orang yang mendampingi penghulu dan yang mengurus berkas-berkas tentang mempelai pengantin.
"Insha-Allah siap, Pak." jawab Devan diiringi dengan anggukan kepala.
"Bagaimana dengan mahar yang akan anda berikan pada mempelai perempuan?" kini giliran sang penghulu yang menayakan tentang mahar yang akan Devan berikan untuk Tanisha.
Meskipun hanya menikah secara agama, karena Devan belum mendaftarkan diri mereka di KUA, tetap saja mahar itu wajib adanya. Entah itu berupa barang atau uang, yang terpenting ialah ikhlas dan tidak hutang.
Melihat Devan yang dirundung gelisah, karena bingung harus memberikan mahar untuk Tanisha, Darren mendekatkan tubuhnya kepada calon menantunya itu, untuk membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Berikan saja dia uang yang kamu punya saat ini. Karena yang terpenting itu niat kamu untuk menyempurnakan agama, dan juga menghindari zina yang sering para kaum muda lakukan." Jelas Darren. Dia tidak akan menuntut Devan perihal mahar apa yang akan diberikan kepada putrinya.
Karena jaman semakin berkembang, dan cenderung mengikuti gaya orang barat, Darren takut jika putrinya dan Devan akan mengikuti pergaulan seperti itu, akan sangat merugikan mereka dan merusak moral bangsa.
Lalu Devan merogoh dompetnya yang tersimpan di saku celana. Matanya melebar karena sedikit terkejut, nyatanya dompetnya bukan yang biasa ia bawa. Kemudian Devan membuka dompet itu dengan pelan serta pikiran yang was-was, pasalnya dompet itu sudah lama tidak ia pakai.
Devan membukanya dengan pelan, sehingga membuat semua orang yang ada di sana, juga ikut memperhatikan tangan Devan yang sedang membuka dompetnya.
"Kenapa, Mas?" tanya Tanisha yang juga penasaran. Sementara Darren yang tak sengaja melihat isi dompet Devan, berusaha menahan ketawanya. Pemuda ini benar-benar membuatnya terhibur. Bagaimana bisa seorang pria melupakan benda yang paling wajib untuk dibawa.
Hayoooo... kira-kira berapa mahar yang akan diberikan Devan untuk Tanisha😂 Yang bisa jawab, aku kirimin pulsa 50rb😘
__ADS_1
Jangan khawatir kalo aku curang, karena bab selanjutnya langsung aku publish, tapi aku setel di jam dua belas nanti🤣