Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Jalan Penyelesaian


__ADS_3

Dua hari berlalu, dan Tanisha tidak datang lagi ke tempat kerja Devan. Gadis itu benar-benar ingin melupakan cinta pertamanya. Meski berat, Tanisha berusaha melewati harinya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, walau itu terpaksa.


"Sayang, apa kamu jadi ke rumahnya Kak Erlan?" tanya Karina yang melangkah masuk ke dalam kamar Tanisha.


Tanisha menghentikan kegiatannya untuk memoles wajahnya dengan menggunakan alat tempur wanita. Lalu menoleh ke arah mamanya yang kini berdiri di sampingnya.


"Iya, Ma. Kenapa memangnya?" tanya Tanisha.


"Boleh antar Mama sebentar ke rumah teman Mama yang ada di jalan Panjaitan, itu loh?" tanya Karina. Karena sopir pribadi keluarga mereka sedang mengantar Darren dinas di luar kota. Sedangkan yang satunya lagi ijin pulang kampung, sebab anaknya akan menikah.


Tanisha nampak berpikir sejenak, karena hari ini dia sedang ada janji dengan Lina. Dia akan mengantarkan Lina ke butik untuk mencari gaun pengantin. Ya, Lina dan Viko akhirnya mempercepat pernikahan mereka. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu yang diinginkan oleh setan.


"Tapi ngantar doang, kan Ma? Nggak nyuruh Nisha mampir juga?" Tanisha mencoba memastikan pada mamanya. Karena waktu bertemu dengan Lina tinggal satu jam lagi.


"Iya, Sayang. Bisa, kan?"


"Iya deh. Nisha selesain dulu ini," ucap Tanisha. Kemudian dia berkutat lagi dengan alat-alat yang ribet itu.

__ADS_1


Karina pergi keluar dari dalam kamar Tanisha, untuk kemudian dia berjalan ke kamarnya sendiri. Karina nampak menghubungi seseorang dan berbicara padanya melalui ponselnya.


"Halo, Sayang." ucap Karina.


"..."


"Iya, Sayang. Dia mau Mama ajak ke sana. Mudah-mudahan ini bisa menjadi jalan penyelesaian untuk mereka. Mama nggak tega lihat adikmu itu setiap malam menangis," ucap Karina dengan orang itu.


"...."


"Ya sudah kalau begitu, Mama tutup telponnya. Doain yang terbaik buat adikmu itu, Sayang," setelah mengucapkan kalimat seperti itu, Karina memutuskan sambungan telpon mereka.


Setelah dirasa siap, Tanisha keluar dari kamar dan mencari mamanya di ruang tamu. Tanisha nampak begitu cantik hari ini. Dia memakai kaos berwarna krem dan dipadukan dengan rok berwarna coklat muda dengan panjang di bawah lutut. Dengan kaos yang di masukkan ke dalam lingkaran pinggang roknya.


Dengan rambut tergerai, Tanisha berjalan menuruni anak tangga. Di ruang tamu, sudah ada Karina yang sedang membaca majalah sembari menunggu Tanisha selesai berdandan.


Melihat Tanisha berada di depannya, Karina menutup majalahnya, untuk kemudian dia taruh kembali ke atas tumpukan beberapa buah majalah lain.

__ADS_1


"Kamu cantik banget, Sayang." ucap Karina seraya menghampiri putrinya. Membelai rambut Tanisha di bagian samping, lalu ia selipkan ke belakang telinga putrinya.


"Putrinya siapa dulu, dong! Kan Nisha cantik juga karena turunan dari Mama. Hanya saja hidung Nisha milik Papa," sahut Tanisha menanggapi pujian dari mamanya.


Setelah itu mereka segera masuk ke dalam mobil. Tanisha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena kalau dia melajukan dengan kecepatan di atas rata-rata saat bersama namanya, pasti omelan yang akan ia dapat dari mamanya.


Tidak memerlukan banyak waktu untuk sampai di tempat tujuan. Tanisha hanya membutuhkan dua puluh menit, untuk tiba di depan rumah teman mamanya.


"Nisha nggak turun ya, Ma?" ingat Nisha kembali.


Karina hanya tersenyum, lalu membuka pintu mobil. Belum sempat kakinya melangkah, pintu gerbang rumah teman Karina itu terbuka dari dalam.


Betapa terkejutnya Tanisha, saat melihat siapa orang yang membuka pintu gerbang itu. Dia harus segera pergi dari sana sebelum orang itu menyadari keberadaan dirinya. Namun, sepertinya alam tidak memihaknya untuk kabur.


Siapa lagi, sih?🙄


Jangan bilang gantung lagi😒

__ADS_1



Taraaaaaaaa🤣


__ADS_2