
Disebuah ruangan yang terbilang tidak terlalu luas, suasana di ruangan itu terdengar begitu riuh. Ada empat orang yang berada di ruangan itu. Mereka mengobrol, sambil bercerita tentang masa kecil anak mereka. Sementara dua orang yang menjadi obyek perbincangan mereka hanya bisa terdiam, mendengar cerita diri mereka dari pada ibu mereka.
"Kalau Tama ini dulunya suka berantem, Jeng. Tapi semenjak temannya cacat karen ulah nya, dia berhenti menjadi anak bandel." cerita Diva dibarengi tawanya. Sementara Devan hanya bisa pasrah mendengar keburukan dirinya dulu.
"Ya sama dong, Jeng. Jangan kira putriku ini yang terlihat kalem dan mudah ditindas, tapi dulunya dia hobi berantem. Sampai Papanya cuman bisa ngelus dada, Jeng. Dia berharap punya anak cewek yang kalem, lemah lembut, terus nurut kalau dibilangin. Eh... Yang keluar ternyata pake topeng. Luarnya aja begitu, tapi dalem nya kayak preman," tanpa Karina sadari, dia telah membuat putrinya merasa sangat malu di hadapan pria yang masih bersemayam di hatinya tersebut.
"Ma...," rengek Tanisha. Dia menarik tangan mamanya agar menghentikan cerita tentang dirinya yang tidak patut dibanggakan.
Ini semua terjadi juga bukan karena kemauannya, tapi karena kakaknya yang membentuk dirinya hingga menjadi seperti ini. Namun, Tanisha juga merasa bersyukur dengan cara Erlangga mendidiknya. Dia jadi bisa lebih mandiri dan bisa melindungi dirinya sendiri. Bahkan dia juga bisa melindungi orang yang dia sayangi.
Devan sedikit kaget saat mendengar cerita Tanisha. Dia tidak menyangka, gadis yang selama satu tahun belakangan ini menjalin kasih dengannya, ternyata memiliki sisi lain. Devan tidak tahu itu.
__ADS_1
Devan juga baru menyadari kalau Tanisha, ialah putri dari tante Karina, teman kuliah mamanya, Diva. Karena pada saat dulu Devan memergoki identitas Tanisha di kediaman Elajar, Devan tidak bisa dengan jelas mengetahui wajah Karina. Juga mamanya tidak pernah cerita kalau temannya itu adalah nyonya Elajar.
Tanisha merasa tidak nyaman saat Devan menatap dirinya dengan tatapan penuh pertanyaan. Tapi dengan segera Tanisha memalingkan wajahnya. Ini sudah bukan urusannya lagi. Toh, mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.
"Bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja, Jeng?" usul Diva tiba-tiba. Membuat dua sejoli itu tersedak berjamaah.
"Ma," Devan mencoba memperingati mamanya agar tidak meneruskan ucapannya. Dia masih belum pantas untuk bersanding dengan Tanisha.
"Kenapa, Tam? Toh kamu juga baru putus dengan pacarmu, kan?" rupanya Diva masih belum mengerti maksud Devan.
"Loh, kok sam--"
__ADS_1
"Ma, sepertinya aku harus segera ke butik. Tidak enak kalau mereka menungguku terlalu lama," Tanisha segera memotong pembicaraan mamanya. Dia tidak akan membiarkan dirinya terlihat menderita, karena pupusnya kisah asmara nya di depan Devan. Itu akan percuma di mata pria ini. Pria yang egois, menurut Tanisha.
"Emang baju pengantinnya sudah siap, Sayang?" pertanyaan Karina begitu terdengar ambigu di telinga Devan.
Deg!
Jantung Devan bagai meloncat dari tempatnya. Baju pengantin? Sudah siap? Apa benar dia akan menikah secepat ini? Bahkan aku belum pergi dari negara ini. Batin Devan berperang dengan berbagai praduga tentang Tanisha. Secepat itukah dia melupakan dirinya? Itulah yang ada di benak Devan sekarang.
"Iya, Ma. Tante Maria sudah menunggu dari tadi. Tidak enak kalau Taniaha datangnya terlalu telat," jawab Tanisha tanpa memperdulikan ekspresi Devan saat ini.
"Putrimu mau menikah, Jeng?" tanya Diva penasaran. Padahal dirinya ingin membuat hubungan mereka lebih dekat lagi. Tapi seperti nya itu sudah terlambat. Pikir Diva.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Nisha pamit dulu," Tanisha segera berpamitan sebelum mamanya itu menjawab pertanyaan dari temannya tersebut.
Hayooo... jangan hujat Bang Dev🙈