Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Kesempatan


__ADS_3

Dalam satu minggu ini Devan dibuat pusing dengan tingkah laku Tanisha yang semakin menjadi. Setiap hari Tanisha selalu datang ke kantor dengan pakaian dan sikap yang selalu menguji imannya. Meski berpura-pura cuek, Devan merupakan pria normal yang akan tergiur dengan hidangan di depannya.


Pernah sekali Devan kelepasan hingga dia mencium Tanisha dengan sangat brutal. Tentu saja dari situ Tanisha tahu kalau mantan kekasihnya itu masih mencintai dirinya. Hanya saja harga diri pria itu terlalu tinggi. Contohnya saja seperti saat ini.


Tanisha sengaja mengajak Lina untuk jalan-jalan ke sebuah pusat pembelanjaan di kota ini. Tanpa di sengaja dia bertemu teman mereka sewaktu masih sekolah.


"Viko!" teriak Tanisha saat melihat pemuda yang sedang berjalan ke arahnya. Pemuda itu tersenyum ke arah mereka. Tanisha dan Lina juga melangkah ke depan menghampiri Viko.


"Apa kabarnya, Sha?" tanya Viko saat mereka sudah berhadapan.


"Baik. Kamu gimana? Kapan pulang dari Yaman? Udah dapat ukhti belum dari sana?" Tanisha mencecar berbagai pertanyaan kepada Viko. Sementara pria itu hanya mengulas senyum manisnya, lalu melirik sekilas ke arah Lina. Membuat Lina tersipu saat tatapan mata mereka bertemu.


Tanisha menyadari sikap diantara mereka berdua. Lalu Tanisha segera berdiri tepat di depan Lina, sehingga menghalangi tatapan Viko kepada Lina.

__ADS_1


"Nggak boleh liat lebih dari lima detik. Kalian bukan muhrim, kan?" ucap Tanisha seenaknya saja. Sedangkan Viko semakin ketawa melihat tingkah temannya yang usil itu.


"Bentar lagi juga udah halal. Nggak cuman boleh liat doang. Jangankan dipegang, dirasain juga boleh, kok." celetuk Viko semakin membuat Lina merasa udara di sekitarnya berubah menjadi panas.


"Mentang-mentang yang jadi nikah," cibir Tanisha, lalu menggeser tubuhnya ke samping.


Ya, Viko dan Lina menjalin hubungan jarak jauh selama tiga tahun terakhir ini. Karena dia mendapat beasiswa di Yaman. Kemudian Viko memutuskan untuk mengkhitbah Lina, setelah satu minggu meninggalnya ibunya Lina. Mereka merupakan pasangan yang mengerti agama. Tidak seperti Tanisha yang hanya mengetahui ilmu dasarnya saja.


"Makanya, kalau punya cowok tuh jangan digalakin mulu. Jadi kabur, kan?" sindir Viko pada Tanisha.


"Mendingan aku, udah tau rasa manisnya itu," goda Tanisha balik seraya mengangkat kedua alisnya ke arah Lina.


Sontak saja tangan Lina tidak hanya diam. Dia membekap mulut sahabatnya yang tidak pernah di filter kalau ngomong.

__ADS_1


"Mulut, mulut, muluuutt...! Bagaimana bisa anak gadis ngomongnya blak-blak an seperti ini sih?" kesal Lina. Tangannya masih membekap rapat mulut Tanisha.


"Jangan-jangan dia sudah tidak gadis lagi, Honey." sahut Viko yang juga tidak mau kalah menggoda Tanisha.


Mendengar itu, langsung saja Tanisha melayangkan beberapa pukulan kepada Viko. Pria itu pun berusaha menghindar dengan berlindung di belakang tubuh tunangannya.


"Hei, hei! Jangan sentuh dia!" pekik Tanisha saat tidak sengaja Viko memegang bahu Lina. Membuat tubuh Lina membeku seketika.


"Mumpung ada kesempatan, ngapain diabaikan," ucap Viko seraya tertawa. Kemudian dia menjauh lagi dari Lina setelah melihat tunangannya itu merasa tidak nyaman.


"Maaf, Honey," ucap Viko pada Lina yang terlihat menundukkan kepalanya karena merasa malu. Lina menganggukkan kepalanya untuk menjawab ungkapan maaf dari Viko.


Saat Viko dan Lina sedang bertukar cerita dan dirinya di sini yang malah menjadi nyamuk diantara mereka, tanpa sengaja matanya menangkap kehadiran sosok pria yang sangat Tanisha kenali sedang berjalan menuju arahnya. Kini, mereka sudah berpindah tempat di sebuah restoran yang berada di pusat pembelanjaan ini.

__ADS_1


Mumpung ada Viko, Tanisha tidak akan menyiakan kesempatan yang datang kepadanya. Dia langsung berpindah duduk di samping Viko. Membuat Lina dan Viko terkejut.


__ADS_2