Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Tidak Apa-apa


__ADS_3

"Subhanallah, Sha...!!!" Betapa terkejutnya Lina saat melihat tanda itu lebih jelas lagi.


Tanisha yang menyadari itu, langsung menutupi lehernya dengan rambutnya kembali. Dia tahu kalau sebentar lagi pasti sahabatnya itu akan mencecar dirinya dengan berbagai pesan.


"Kamu sadar nggak, Sha? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Lina menahan geramnya. Lalu tatapannya beralih kepada Devan yang berdiri di samping Tanisha. "Dan anda!" Tunjuk Lina tepat di depan mata Deevan.


Devan sedikit terkejut dengan sikap teman kekasihnya yang tiba-tiba menjadi garang seperti ini. Padahal kalau dilihat dari penampilannya, perempuan yang memakai hijab dan gamis itu terlihat lemah lembut. Namun, dari balik penampilannya itu, ternyata menyimpan sifat singa betina.


"Apa benar anda mencintai Nisha?" Tanya Lina dengan suara tinggi dan intonasi penuh amarah. Dia tidak terima kalau sahabatnya direndahkan seperti itu, meski pria ini adalah kekasih sahabatnya.


Sementara Viko hanya menggeleng kepalanya dengan pelan, serta tersenyum tipis ketika melihat wajah Devan yang berubah tegang, karena amarah dari calon istrinya itu.

__ADS_1


"Kalau memang anda benar-benar cinta dan sayang pada Nisha, harusnya anda itu bisa menjaganya seperti berlian. Bukan malah mengotori dia dengan butiran debu!" Kata Lina seraya menatap tajam ke arah Devan.


Kata-kata Lina bagaikan sebuah tamparan yang keras untuk Devan. Ucapan sahabat kekasihnya ini benar. Kenapa dia tidak memperlakukan Tanisha seperti berlian, dan malah membuat harga diri kekasihnya itu jatuh, sejatuh jatuhnya.


Sementara Tanisha segera memeluk sahabatnya itu, karena jika sampai nanti Devan bersuara, sudah dapat Tanisha prediksikan kalau sahabatnya ini tidak menutup kemungkinan akan menghadiahi Devan sebuah tendangan maut yang dimiliki Lina.


"Kita nggak melakukan apa-apa, Lin. Aku masih bisa menjaga kehormatanku," jelas Tanisha mencoba menenangkan Lina.


Lima tidak mengerti dengan jalan pikiran semua orang terdekatnya. Bagaimana bisa hal seperti ini dibilang biasa? Bukannya dia mau ikut campur urusan Tanisha, tapi semua itu Lina lakukan karena dia sayang sama Tanisha.


"Sudah Ada bukti seperti ini kamu bilang tidak melakukan apa-apa, Sha? Kamu tau, kan Sha? Kalau itu melanggar agamamu. Aku semakin tidak mengenalmu, Sha. Hanya karena cinta kamu mau digitukan." Lina menyesali langkah yang Tanisha ambil.

__ADS_1


Sementara Devan merasa semakin bersalah kepada Tanisha. Dia menatap Tanisha dengan tatapan bersalah. Tanisha yang mengerti maksud Devan, lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan seraya berucap, 'tidak apa-apa' tanpa suara.


"Iya, Lin. Kami ke depannya akan lebih berhati-hati dalam menjaga batasan kami," ucap Tanisha. Kemudian mengusap pipi Lina dengan begitu gemas. "Udah, jangan marah-marah mulu. Mending sekarang kamu cobain gaun pengantinmu. Aku ingin lihat, seberapa cantiknya sahabat aku ini saat mengenakan gaun pengantin," Tanisha berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Meski masih banyak yang ingin ia sampaikan untuk dua sejoli ini, tapi ia tidak mau membuat Tanisha semakin merasa lebih buruk lagi. Setidaknya dirinya sudah memperingati Tanisha tadi.


Kemudian mereka memilih gaun yang sudah jadi, karena hari pernikahan Lina dan Viko dipercepat lagi.


Saat para wanita tengah sibuk memilih sepatu yang cocok untuk gaun mereka, Viko mendekati Devan yang tengah duduk sambil matanya tak lepas memperhatikan Tanisha.


"Jangan di ambil hati omongan Lina tadi, dia emang suka gitu sama orang yang dia sayang. Tapi menurutku, apa yang Lo lakuin juga salah. Meski kalian tidak sampai melakukan penyatuan. Mending nanti pas akad nikahku, Lo juga melakukan ijab dengan Tanisha. Nggak usah mikirin pesta, sah aja dulu yang terpenting. Jadi, nanti apa yang akan elo lakukan pada Nisha, asal itu baik. Itu akan dihitung sebagai ibadah Lo," jelas Viko. Kemudian dia beranjak dari duduknya, sebelum mendapat tanggapan dari Devan.

__ADS_1


Aku cuman mau bilang, Me Lope lope kaliaan sekebon rawiiiitttttt😘


__ADS_2