
Setelah menghubungi Franky, Devan memutuskan untuk menghubungi istrinya. Panggilan pertama, tidak mendapat jawaban. Lalu Devan mencoba untuk melakukan panghilan ke dua, dan di panggilan yang ke tiga lah, Tanisha baru menjawab telpon darinya.
"Halo, siapa?" Tanya Tanisha dengan suara seraknya. Sangat kentara suara istrinya itu kalau dia baru bangun dari tidurnya.
"Malam, Honey. Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Devan dengan nada yang begitu lembut.
Tanisha menajamkan pendengarannya, serta membuka matanya dengan sempurna guna untuk memperjelas siapa yang tengah menelpon dirinya tengah malam seperti ini.
"Mas Devan!" Pekik Tanisha setelah sadar sepenuhnya dari alam mimpinya.
"Apa kabarmu, Honey? Maaf, kalau akhir-akhir ini aku sibuk dan mengabaikanmu," ungkap Devan dengan suara yang sangat lirih. Sangat jelas terdengar kalau dirinya menyesal telah mengabaikan isyrinya demi pekerjaannya.
Mendengar suaminya yang menyesal, membuat air mata Tanisha mengalir tanpa henti. Entah mengapa, dia tidak bisa menyalahkan suaminya. Toh, suaminya bekerja juga untuk kebahagiann mereka nantinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Mas. Hanya saja beberapa hari ini aku kurang selera makan," balas Tanisha. Memang akhir-akhir ini Tanisha kurang selera makan. Entah karena masalah yang terus datang padanya, atau karena pekerjaannya yang juga menguras otak.
"Apa kamu sakit, Honey?" Tanya Devan dengan nada khawatir. "Apa sebaiknya kamu pindah saja ke rumah utama? Biar ada Mama yang menemanimu jika kamu sedang sakit atau kurang enak badan," lanjutnya yang mengusulkan kalau Tanisha pindah ke kediaman keluarga Elajar.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin karena akhir-akhir ini aku juga sibuk mengurus restoran lagi," jelas Tanisha mencoba menenangkan suaminya.
"Tapi aku khawatir kalau kamu kenapa-napa, Honey," lirih Devan. Dia merasa tidak berguna sebagai seorang suami yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
Tapi itu justru membuat merasa bersalah pada Tanisha. Kenapa istrinya yang jutek itu tidak pernah mempertanyakan perihal berita dirinya dan Veena, tempo hari yang lalu.
"Honey," panggil Devan.
"Iya, Mas?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin bertanya tentang beritaku bersama Veena?" Tanya Devan dengan hati-hati. Takut jika akan menyakiti hati sang istri.
Tanisha diam, dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Devan. Mengingat kembali berita suaminya yang bersama perempuan lain, membuat perasannya terasa tidak nyaman. Tanisha sama seperti para istri lainnya, yang pasti akan merasa cemburu jika suaminya diberitakan dengan perempuan lain, meski ia tahu hal yang sebenarnya terjadi.
"Aku nggak mau membahas dia, Mas." Tekan Tanisha pada suaminya.
Devan pun menuruti istrinya yang tidak mau membahas oeremouan lain jika mereka sedang melakukan komunikasi seperti saat ini.
"Kalau begitu, apa kamu merindukanku, Honey? Atau rindu dengan sentuhan hangatku," goda Devan kemudian. dia tidak ingin membuat istrinya itu bersedih karena ulahnya lagi.
"Iya, aku kangen sama kamu, Mas. Cepatlah pulang dan kita bisa bersama lagi," pinta Tanisha dengan nada mulai gemetar. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa rindu yang sangat menyesakkan dadanya.
Begitu pun dengan apa yang dirasakan oleh Devan. Dia juga sama, Devan juga sangat merindukan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus menyelesaikan apa yang dia mulai. Devan tidak mau mengerjakannya dengan setengah-setengah.
__ADS_1