
Honey... Dengarkan penjelasanku dulu," bujuk Devan. Namun Tanisha tak kunjung membukakan pintu untuknya.
Ya, setelah Devan mengutarakan apa yang mengganjal selama ini, Tanisha langsung meninggalkan Devan di dapur dan berlari menuju kamar mereka. Dia menutup pintu kamar dengan sangat keras, lalu menguncinya dari dalam.
Hal itu membuat Devan harus bekerja ekstra keras untuk membujuk sang istri. Harusnya tiga hari terakhir yang tersisa, mereka buat kencan atau apalah itu yang penting mereka menghabiskan waktu berdua saja. Namun, lain hal jika sang istri ngambek seperti saat ini.
"Honey... Buka pintunya dong!" Teriak Devan dari arah luar pintu kamar mereka.
Tanisha tak sedikit pun menjawab panggilan Devan. Dia meringkuh di atas ranjang, memeluk bantal guling dengan sangat erat, serta membenamkan wajahnya di sana. Tanisha masih ingin menikmati harinya dengan suaminya itu. Ia tahu, jika hal ini akan datang. Karena Tanisha sudah bisa memprediksi kalau Devan tetap bertolak ke Washington. Tapi dia tidak menyangka datangnya hari itu akan secepat ini.
Lama merenung, antara mengikuti sang suami atau melanggarnya, Akhirnya Tanisha memutuskan untuk mengikuti Devan. Tapi tanpa sepengetahuan suaminya tersebut, dia akan mengawasi Devan dari jarak yang paling dekat, tanpa di sadari oleh targetnya.
"Kau lupa siapa istrimu ini, Mas," ucap Tanisha. Sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang menakutkan. Lalu, ia meraih ponselnya yang ia simpan di atas nakas, dan mendial salah satu nomor yang tersimpan di kontak ponselnya.
__ADS_1
"Meg, siapkan kebutuhanku di sana. Aku akan ke sana tiga hari lagi. Jangan beritahu yang lain kalau aku datang. Aku nggak ingin ada penyambutan yang menghebohkan itu," perintah Tanisha pada seseorang yang bernama Meggumi, asisten sekaligus temannya yang ada di kota Olympia, Washington.
Entah suatu takdir yang mengharuskan mereka untuk bersama atau hanya kebetulan semata. Tanisha memiliki sebuah restoran yang cukup besar di sebuah kota Olympia yang terletak di Washington. Dan kebetulan kota itu tidaklah jauh dari kota Seattle, di mana perusahaan Devan berdiri.
"Apa Nona kali ini melakukan misi kabur lagi dari sebuah perjodohan?" Tanya seseorang di balik telpon tersebut. Yang tak lain adalah Meggumi. Perempuan itu bertanya seraya tertawa lirih.
"Enak saja! Aku sudah menikah, kali." Kesal Tanisha yang selalu di ejek oleh temannya itu.
"WHAT!!!!" Pekik Meggumi kemudian. Dia terlalu terkejut mendengar kabar kalau Tanisha sudah menikah. "Kamu sudah menikah? Serius?" Nada tidak percaya sangat kentara terdengar dari suara perempuan itu. "Kau jahat, Sha. Jahat!" Teriaknya setelahnya.
"Ya, aku ingat." Jawab Meggumi ketus. Dia masih sangat kesal dengan atasan dan juga temannya itu.
"Aku menikah di hari pernikahannya juga," ujar Tanisha.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau suami kalian itu sama?" Tebak Meggumi. "Apa kau sudah tidak se-laku itu, Sha? Ck! Kasian sekali kecantikanmu itu tidak kau gunakan," dengan seenaknya saja Meggumi beramsumsi.
"Sialan lo! Aku nggak separah itu. Ya kali, kalau itu kamu," balas Tanisha begitu kesal dengan presepsi Meggumi tentang dirinya.
"Hahaha... Kirain kecntikanmu itu udah nggak laku," tawa berderai nada ejekan itu terdengar begitu jelas.
"Udah. Pokoknya siapin kebutuhanku, dan jangan sampai Kak Erlan tahu. Ini masalah rumah tanggaku. Aku nggak mau keluargaku ikut campur," perintah Tanisha kali ini tidak bisa Menggumi abaikan. Jika menyangkut keluarga, dia tidak akan mengorek terlalu dalam permasalahan yang sedang Tanisha hadapi. Kecuali jika wanita itu bercerita sendiri padanya. Karena keluarga Elajar tidak bisa di publish begitu saja.
"Baik, laksanakan, Nona," ucap Meggumi kembali berbicara formal pada Tanisha.
Setelah memberi perintah pada Meggumi, Tanisha memutus sambungan telpon mereka. Dia merapihkan rambutnya yang sempat berantakan, menatanya kembali. Mengusap wajahnya dengan selembar tisu yang tersedia di atas nakas, lalu menampilkan wajah yang sulit di artikan.
"Kita lihat saja, Mas. Siapa diantara kita yang bertahan untuk saling berjauhan," tantang Tanisha dengan senyum seringai yang terbit di bibirnya.
__ADS_1
Tolong sportif ya, jempolnya. Aku bakalan kumat lagi soalnya😂