
"Aku mohon, Sha," ucap Devan kembali.
Namun, Tanisha tidak mengidahkan permintaan Devan. Dia tetap melepaskan tangan pria yang dicintainya itu.
"Apa kita tidak bisa bersama lagi?" tanya Devan dengan nada yang lirih. Tanisha tetap diam tidak menjawab.
Saat Tanisha ingin melangkah, masuklah seorang perempuan yang membuat Tanisha menghentikan langkahnya. Perempuan itu tersenyum sinis pada Tanisha, untuk kemudian melangkah maju ke depan menghampiri Devan.
"Pagi, Pak. Bisa kita berangkat sekarang?" tanya perempuan itu. Devan tidak menyahuti perkataan perempuan itu. Matanya tetap memperhatikan gadisnya yang tak mau melihatnya.
Tanisha hanya tersenyum tipis ke arah Devan. Lalu dia melanjutkan langkahnya. Tidak memperdulikan pria itu lagi.
Tanpa terasa air mata Tanisha mengalir begitu saja tanpa ijin terlebih dulu. Tanisha segera menghapus air matanya itu, sebelum ada yang menyadari jika dirinya kini tengah menangis.
Saat hendak dirinya sampai di samping mobilnya, ponsel Tanisha berdering. Kemudian Tanisha menjawab telpon yang masuk di ponselnya. Sementara Devan yang mengejar Tanisha, berhenti tepat di belakang gadisnya itu.
__ADS_1
"Ya, hallo Tante," ucap Tanisha setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.
"..."
"Iya, Tan. Sebentar lagi Nisha sampai kok," ucap Tanisha. Membuat Devan semakin penasaran.
"..."
"Oh, iya Tan. Nisha pakai gaun yang warna krem saja. Kalau untuk gaun yang dibuat akadnya, nanti Nisha dan teman Nisha yang milih sendiri," kalimat yang diucapkan Tanisha bagai petir di telinga Devan.
Tanpa berpikir panjang, Devan langsung saja menyambar tangan Tanisha. Membawa gadis itu masuk ke dalam mobilnya, dan mendudukkan Tanisha di kursi samping kemudi. Lalu dirinya memutari mobil milik Tanisha, untuk kemudian duduk di kursi kemudi mobil tersebut.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu dimiliki oleh pria lain, dan jangan berharap kamu bisa menikah dengan orang pilihanmu itu, Sha! Aku tidak akan ikhlas!" Devan tidak akan membiarkan itu semua terjadi.
Hal seperti inilah yang selalu menghantui pikiran Devan, ketika dirinya nanti meninggalkan Tanisha. Dan itu semua terbukti, belum dia berangkat ke luar negeri, gadisnya itu sudah berencana menikah dengan pria selain dirinya.
__ADS_1
"Kamu jangan gila, Mas! Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Harap Mas ingat itu!" Pekik Tanisha. Dia merasa begitu dipermainkan oleh pria ini.
"Aku gila karena terlalu memikirkanmu, Sha! Aku juga berat meninggalkanmu, tapi aku nggak mungkin menikahimu tanpa ada persiapan terlebih dulu. Aku tidak ingin kelak keluarga kecilku kekurangan sesuatu apapun itu. Harap kamu mengerti aku, Sha. Aku yang akan menjadi kepala rumah tangga untuk keluarga kecil kita. Aku nggak mau nanti kamu meminta bantuan pada keluargamu, disaat kamu merasa kekurangan ketika bersamaku." Jelas Devan dengan napas yang menderu.
Tanisha terdiam. Ternyata pria ini berpikiran terlalu jauh untuk masa depan mereka. Namun, Tanisha tidak mau merasakan patah hati untuk ke tiga kalinya dengan orang yang sama.
"Sudah terlambat, Mas. Semuanya sudah terlambat," ucap Tanisha dengan tangisnya yang mulai pecah.
Devan menyalakan mesin mobil, kemudian melajukannya dengan kecepatan penuh. Dia tidak memperdulikan teriakan Veena yang mengejar mereka sampai di luar gerbang.
"Sepertinya, kita akan segera nimang cucu, Jeng," celetuk Diva tiba-tiba.
"Ya jangan to, Jeng. Masa iya, putriku hamil diluar nikah? Bisa-bisa putramu dibabat habis sama Papanya Nisha," sahut Karina yang tidak terima dengan ucapan Diva. Diva pun hanya menyengir.
"Padahal kalau pun iya, putraku pasti akan bertanggung jawab, Jeng." Diva tetap tidak meyerah.
__ADS_1
"Hush! Udahlah, biarin mereka yang ngurus. Kita tinggal siap-siap memilih tanggal saja," putus Karina. Kemudian mereka masuk kembali ke dalam rumah. Sementara Veena mengepalkan tangannya penuh dengan amarah.
Jempolnya yang sportif, ya😉