Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Khawatir


__ADS_3

Sebulan sudah Devan meninggalkan dirinya. Setelah beberapa hari menikmati kesunyian di dalam hidupnya, kini Tanisha bertekad ingin berangkat kerja lagi restoran miliknya. Dia tidak mau hanya berdiam diri di rumah, tanpa ada suami yang yang mendampingi dirinya.


Selama satu bulan ini, Tanisha dan Devan tidak pernah lelah untuk saling bertukar kabar. Entah itu melalui telpon maupun sms. Karena Devan juga mulai sibuk pada kegiatannya, semenjak suaminya itu tiba di sana.


Devan langsung dihadapkan dengan berbagai kesibukannya mengurus bisnisnya di sana. Tak jarang juga Devan telat menghubungi Tanisha di karenakan dia selalu lembur.


Hari ini, Tanisha berangkat ke restorannya, tempat di mana dulu pertama kali dirinya bertemu dengan belahan jiwanya saat ini. Setelah beberapa bulan tidak berkunjung ke restorannya, kini Tanisha datang sebagai pemilik restoran. Bukan lagi sebagai pegawai restoran yang sering ia perankan dulu.


Banyak pegawainya menatap bingung ke arahnya, saat dirinya berjalan melewati mereka. Karena saat ini Tanisha tidak menggunakan seragam restoran tersebut. Melainkan menggunakan setelan kerja yang modis dan pas di tubuh rampingnya.


"Selamat pagi, Bu," sapa seorang pegawai laki-laki dengan menundukkan kepalanya sopan ke arah Tanisha. Laki-laki itu berjalan mendekati Tanisha.

__ADS_1


"Pagi, Ris. Apa semua udah siap?" Tanya Tanisha pada laki-laki yang bernama Faris tersebut.


"Semua sudah berkumpul di ruang rapat, Bu. Perwakilan dari pihak kebun Indrasana, juga sudah datang," jelas Faris.


"Indrasana?" Ulang Tanisha kembali.


"Iya, Bu. Pihak yang bekerjasama dengan kita dua minggu yang lalu," ujar Faris. Kemudian dia memberikan data tentang partner kerja restorannya tersebut.


Semenjak Tanisha memutuskan berhenti sebagai pegawai, dia menyerahkan semuanya pada Faris. Faris selalu memberitahu perkembangan semua cabang restorannya melalui email. Dan pada saat restorannya menjalin kerja sama dengan pihak Indrasana, Tanisha tidak terlalu memperhatikannya. Karena dia terlalu sibuk dengan kegiatan barunya.


Kemudian Tanisha berjalan menuju ruangan rapat, diikuti Faris yang berjalan di belakangnya. Sementara itu, pegawai yang melihat interaksi mereka, terlihat shock dengan kenyataan yang baru dia dapat.

__ADS_1


"Udah, jangan diliatin terus. Bos kita emang suka sekali nyamar dari dulu. Mangkanya, kalo kerja yang rajin. Karena bos besar sendiri yang selalu meninjau kinerja para pegawainya," ujar seorang perempuan yang juga pegawai restoran itu.


"Kamu udah tau dari awal, Ver?" Tanya pegawai yang shock tadi. Dan pegawai yang menegurnya tadi menganggukkan kepalanya.


"Alamak...! Bakalan di pecat dong bentar lagi eike," tutur pegawai itu. "Karena aku beberapa kali ketahuan pacaran di dapur dan Mbak Nisha liat," ungkapnya kemudian.


"Ya, tunggu aja pesangonmu sebentar lagi kalau begitu," balas Vera seraya berjalan menuju ke arah dapur restoran.


Rapat pun berlangsung cukup lama. Karena banyaknya perbedaan di antara mereka. Sehingga Tanisha tidak mendengar nada dering ponselnya yang berdering. Dia cukup larut dengan permasalalahan pasokan bahan di restorannya.


Rapat selesai pada pukul tiga sore, setelah rehat sejenak untuk makan siang. Setelah pihak partnernya keluar ruangan, Tanisha mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas. Betapa terkejutnya dia saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari kakaknya, Erlangga.

__ADS_1


Kemudian Tanisha melakukan panggilan balik ke Erlangga. Namun, tak kunjung di angkat oleh kakaknya itu. Lalu dia berinisiatif menghubungi kakak iparnya, Yutasha. Beberapa detik kemudian, sambungan telpon mereka terhubung.


"Halo, Kak. Ada apa tadi Kak Erlan nelpon Nisha? Nisha tadi sedang rapat di restoran, jadi nggak bisa angkat telpon Kak Erlan," jelas Tanisha dengan nada khawatir. Karena tidak biasanya kakaknya itu menelpon dirinya hingga berkali-kali.


__ADS_2