
"Apa maksud perempuan ini, Mas?" tanya Tanisha yang saat ini berpindah tempat. Ya, sekarang Tanisha duduk di pangkuan Devan.
Tanisha membenarkan posisi duduknya, karena mantannya itu tak kunjung merespon. Sementara itu, keadaan yang sesungguhnya adalah Devan berusaha mati-matian menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
Dia lelaki normal. Siapa yang tidak merespon jika situasinya seperti ini. Ditambah lagi matanya disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah tepat di depannya. Bahkan, aroma yang keluar dari tubuh gadisnya itu menyeruak hingga ke indera penciumannya.
Veena sedikit geram saat menyadari perubahan raut muka Devan. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja.
"Emm... Pak. Apa bisa kita mempersiapkan kepergian kita untuk minggu depan, sore nanti sepulang kerja?" Veena mencoba menarik perhatian Devan dengan cara membahas urusan mereka nanti.
Semalam, Devan sudah meminta ijin Langit untuk risegn dari perusahaan ini. Dia ingin segera mengurus usahanya sendiri yang dia bangun dari bawah. Devan ingin memfokuskan dirinya untuk perusahaan yang dia bangun satu tahun yang lalu di kota Seattle, Washington.
__ADS_1
Meski terjadi perdebatan yang cukup panjang antara Langit dan Devan, dengan berat hati akhirnya Langit pun mengijinkannya. Tapi dengan syarat Devan harus menuntaskan pekerjaannya yang ada di perusahaan Bagaskara Corp.
"Kamu keluarlah dulu, Vee. Nanti kita bicarakan lagi," ucap Devan kepada Veena. Membuat perempuan itu mendengus kesal. Gagal sudah rencananya untuk menarik perhatian pria yang sudah ia perhatikan dari tujuh bulan belakangan ini.
Veena Margaretha, gadis yang berperawakan tinggi, wajah yang cantik, tapi masih kalah cantik jika dibandingkan dengan Tanisha. Namun, Veena memiliki postur tubuh yang aduhai. Pinggang ramping, bagian atas dan bawah yang cukup besar, sehingga mampu menarik perhatian lawan jenisnya. Tapi itu semua tidak berlaku untuk pria di hadapannya saat ini.
Veena sudah melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Devan, tapi pria itu tak bergeming sekalipun kepadanya. Pernah sekali Veena menjebak Devan saat mereka menghadiri pesta perusahaan ini, tapi pria itu cukup pintar untuk masuk ke dalam jebakan nya.
"Harusnya, kan yang keluar dia, Pak. Kenapa malah Saya?" kesal Veena.
"Vee...," panggil Devan tertahan. Matanya menatap tajam ke arah Veena. Dan Veena tahu arti tatapan pria itu. Pria yang disukainya itu tidak ingin mengulang untuk kedua kali perintah yang dia ucapkan padanya.
__ADS_1
Vee menghentakkan kakinya kesal. Kenapa Devan lebih memilih gadis krempeng itu jika dibanding dirinya yang montok. Dengan hati yang kesal, Veena pun keluar dari ruangan Devan. Membiarkan Tanisha menang kali ini. Tapi seminggu selanjutnya, Veena akan memastikan kalau dirinya berhasil mendapatkan Devan.
Setelah kepergian Veena, Devan menatap lekat mata Tanisha. Suasana menjadi hening seketika. Mata mereka yang saling bertukar pandang, dan mulut mereka yang saling terdiam membisu, hingga akhirnya Tanisha memutuskan untuk membuka suaranya terlebih dahulu.
"Apa maksud tentang kepergian Mas, seminggu lagi?" tanya Tanisha begitu penasaran. Karena Devan tetap menutup rapat mulutnya, Tanisha pun memutuskan untuk beranjak dari duduknya. Devan membiarkan Tanisha berdiri dari pangkuannya, dan melangkah mundur menjauh darinya.
"Begitu besarkah rasa bencimu itu terhadapku, Mas?" mata Tanisha mulai berkaca-kaca.
"Sha,"
Hingga akhirnya membuat pertahan Devan luntur. Devan berdiri dari tempat duduknya, ia ingin meraih tubuh gadisnya itu untuk menenangkan tangisnya. Namun, Tanisha melangkah mundur seiring Devan melangkahkan kakinya maju ke depan.
__ADS_1
"Beginikah caramu menolak keberadaanku, Mas? Menghapus semua kenangan yang kita lalui selama ini?" suara Tanisha bergetar saat mengucapkan pertanyaannya.
Tolong jempolnya yang sportif, ya😌