
Devan melangkah masuk ke dalam ruangan dengan interior mewah tersebut. Dia menatap wajah gadisnya yang tengah berada di gendongannya.
"Turunkan aku, Mas," pinta Tanisha. Namun, hal itu tidak dituruti oleh Devan.
Devan tetap melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi di ruangan itu. Hingga ia mendapati sebuah ranjang yang cukup besar di ruangan itu.
"Mas, kamu tidak bermaksud mengarah ke hal 'itu', kan?" Tanya Tanisha penuh sikap waspada.
"Seperti permintaanmu dulu, Sayang." Jawab Devan dengan senyuman penuh arti yang menghias di bibirnya.
Tanisha mencoba memberontak, tapi itu sia-sia saja. Meski dia memiliki ilmu bela diri, tapi tenaganya masih kalah kuat dengan tenaga yang dimiliki Devan.
"Mas, jangan mengambil langkah gila. Lebih baik antarkan aku ke butik. Pasti mereka tengah menungguku," ucap Tanisha yang justru membuat Devan semakin bersemangat untuk mempercepat pekerjaannya.
__ADS_1
"Apa kamu pikir aku akan ikhlas mengantar gadis yang kucintai, pergi untuk bersanding dengan pria lain? Mana ada pria yang seperti itu, Sha!" Kata Devan dengan nada tinggi. Membuat Tanisha sedikit terkesiap.
Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, Devan langsung menyerang Tanisha, menciumnya dengan sangat brutal. Di pikirannya saat ini, dia harus menjadikan Tanisha sebagai miliknya seutuhnya.
Entah apa nanti konsekuensi yang akan ia terima, yang terpenting sekarang dirinya menjadikan Tanisha miliknya seutuhnya, dan akan ia stempel di seluruh bagian tubuh Tanisha tanpa terlewat satu senti pun. Sehingga nanti orang akan tahu, kalau Tanisha sudah menjadi milik orang.
"Ma-mas...," rintih Tanisha saat merasakan ngilu di bagian depan tubuhnya. Karena saat ini Devan sedang bermain di area tersebut.
Terlihat Devan sangat menikmati kegiatannya bermain dengan dua aset milik Tanisha, yang pas di telapak tangan Devan.
Setelah puas bermain di bagian atas, lalu Devan bergerak turun untuk kemudian membuka rok yang masih dipakai Tanisha. Bisa saja dirinya menyingkap kain itu, tapi Devan lebih ingin menikmati pemandangan yang ada di depannya ini tanpa adanya penghalang.
"Mas, stop!" Pekik Tanisha saat merasakan tangan Devan yang menyeru masuk ke dalam pangkal pahanya.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang? Bukannya ini yang kamu mau dulu. Hmm?" Devan semakin menggoda di bawah sana, dan Tanisha tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya. Namun, dia tidak boleh terlena begitu saja dengan semua sentuhan yang diberikan oleh Devan.
Setelah dirasa cukup, Devan berdiri untuk kemudian melepas kain yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya. Sementara keadaan Tanisha sudah seperti bayi yang baru lahir ke dunia ini. Putih, mulus, polos dan bersih.
Melihat ada kesempatan, Tanisha segera beranjak duduk dari tidurnya. Dia meraih ponsel yang sedari tadi berdering tiada henti. Dia bisa saja menyerahkan semuanya pada Devan sekarang, sebab pria itu yang hanya diinginkan oleh Tanisha.
Namun, pikirannya saat ini hanya tertuju pada Lina. Pasti sahabatnya itu sedang menunggu kedatangannya, untuk membantu memilihkan gaun pengantin untuk acara akadny Lina dan Viko. Karena Viko sedang mengurus sesuatu di perusahaannya, jadi dia menyuruh Tanisha untuk menemani Lina ke butik.
Devan segera menyelesaikan urusannya, dan langsung mendorong tubuh Tanisha agar terbaring kembali. Dia tersenyum miring, melihat wajah Tanisha yang terkejut akan tindakannya.
"Tidak semudah itu kabur dariku, Sayang. Jangan berharap kamu bisa menemui calon suamimu itu, sebelum kamu menjadi milikku seutuhnya," ucap Devan seraya membelai wajah Tanisha.
Otak, otak, pikiran, tolong dikondisikan😂
__ADS_1