Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Sebentar Saja


__ADS_3

Beberapa hari telah terlewati, dan Tanisha tetap tidak mau menyapa Devan terlebih dulu, meski dia tetap menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan suaminya itu. Devan juga sudah membujuk istrinya itu dengan berbagai cara, tapi tetap saja Tanisha hanya membalas ucapan Devan sekedarnya. Hingga hari keberangkatan Devan ke kota Washington, Tanisha tetap bersikap cuek pada suamiya.


"Honey, mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus sama aku?" tanya Devan seraya memeluk tubuh istrinya dari belakang, saat Tanisha tengah mempersiapkan baju-baju Devan, dan memasukkan ke dalam koper.


"Seperti ini bagaimana? Aku biasa saja," jawab Tanisha dengan nada yang jutek.


"Kamu selalu menghindari aku beberapa hari ini. Aku tau, aku salah, Honey. Tapi kamu jangan seperti ini terus. Masa iya, suaminya mau berangkat kerja, kamu memasang wajah jutex terus," bujuk Devan. Tangannya meraih dagu Tanisha agar menatap tepat ke arahnya.


"Honey, dengarkan aku. Meskipun di luar sana banyak wanita yang cantik, tapi percayalah, hanya kamu yang ada di sini," ujar Devan sambil menunjuk ke dadanya. Memberitahukan Tanisha, kalau hanya Tanisha lah yang berada di dalam hatinya.


Bukannya Tanisha tidak percaya pada suaminya. Tanisha percaya, kalau Devan akan menjaga hatinya untuknya. Tapi jika ada perempuan lain yang terang-terangan menginginkan suaminya, apalagi dia berada di dekat dengan suaminya, Tanisha tidak bisa bersikap biasa saja. Dia sama seperti para istri lain, yang akan resah jika suaminya di dekati oleh perempuan lain.

__ADS_1


"Tidak bisakah kita berjuang bersama?" Tanya Tanisha menatap sendu mata Devan. "Setidaknya aku ingin merasakan berjuang bersamamu, Mas. Aku tidak masalah jika mungkin tempat tinggal yang kamu resahkan itu jauh dari apa yang kita punya di sini. Asalkan aku bisa berada di sampingmu, mendampingimu apapun keadaannya," ungkap Tanisha dengan suara yang lirih.


Devan tidak bisa berucap. Dia juga tidak mau berpisah dengan istrinya, tapi dia juga tidak mau membuat istrinya hidup kesepian di sana karena kesibukannya nanti.


"Tolong bersabarlah sebentar, Honey. Aku akan menjemputmu secepatnya," ujar Devan, kemudian memeluk erat tubuh Tanisha yang mulai gemetar.


"Aku nggak mau pisah sama kamu, Mas," lirih Tanisha dalam isak tangisnya.


Berat memang berada jauh dengan orang yang kita cinta, meski orang itu pergi untuk kebahagiaan mereka nanti. Terbiasa bersama dan selalu berdampingan, membuat mereka sama-sama merasa kehilangan.


Devan mengusap punggung Tanisha yang semakin bergetar. Tangis sang istri pun pecah, dikala dia mengecup kening istrinya. Tanisha semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Devan, seolah tidak ikhlas melepas suaminya pergi untuk waktu yang tidak sebentar tersebut.

__ADS_1


"Berjanjilah padaku, kalau Mas tidak akan melupakanku, meski sedetik saja," pinta Tanisha menatap memohon pada suaminya.


Devan tersenyum melihat istrinya yang sangat manja dan posesif kepadanya. Karena sangking gemasnya, ia kecup sekilas bibir yang cemberut itu. Lalu mengusap pipi Tanisha yang basah oleh air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata istrinya.


"Aku janji, kalau aku akan selalu menghubungimu di setiap aku senggang," ungkap Devan sambil mencubit gemas pipi Tanisha.


"Janji?" Tanisha mengarahkan jari kelingkingnya, sebagai bentuk perjanjian mereka.


Devan menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ternyata wanitanya ini bisa bersikap begitu menggemaskan seperti anak kecil, di saat seperti ini. Tidak ada wajah jutek yang terpancar di wajah sang istri. Apalagi wajah yang menyeramkan seperti peri pencabut nyawa, seperti yang pernah ia temui beberapa bulan setelah Devan memutuskan Tanisha dulu.


Saat itu, karena khawatir akan keadaan Tanisha yang pergi meninggalkannya dengan luka di hati, karena perbuatannya itu. Devan mengikuti Tanisha kemanapun wanitanya itu melajukan mobilnya. Sampai ia ketahui, kalau wanitanya itu tengah mengintai sebuah gedung tua dengan penjagaan yang sangat ketat.

__ADS_1


Khawatir akan keselamatan wanitanya, Devan pun ikut turun tangan membantu wanitanya tersebut. Dengan lincahnya Tanisha dalam menggunakan berbagai macam senjata, terutama benda yang meluncurkan timah panas.


Dari situ Devan baru mengetahui sisi lain dari wanitanya tersebut. Sedikit ngeri dan menakutkan, memang. Tapi Devan merasa sedikit bangga dengan kemapuan yang dimiliki Tanisha. Perempuan yang terlihat lemah lembut di luar, tapi juga sangat menyeramkan dari dalam.


__ADS_2