
Mata Tanisha berkaca-kaca mendengar ucapan sang suami. Ia tidak menyangka, kalau suaminya itu berpikiran yang sama dengannya. Karena merasa terlalu terharu dengan ungkapan suaminya, lantas kemudian Tanisha memeluk suaminya dengan begitu eratnya.
"I love you, Mas," Tanisha mengungkapkan perasaannya pada Devan.
"I love you too, my wife," balas Devan kemudian memeluk istrinya.
Mereka menikmati pemandangan langit yang berwarna jingga di ujung danau. Sejenak mereka melupakan kenyataan yang akan membuat mereka semakin berat untuk menjalaninya. Namun, mau bagaimana lagi. Demi kehidupan yang layak untuk anak-anaknya nanti, tanpa harus meminta bantuan pada orang tua mereka masing-masing. Mereka benar-benar ingin hidup mandiri, lepas dari pengaruh keluarga besar mereka.
Jam terus berdetik, waktu terus berjalan. Tanpa mereka sadari, sekarang saatnya Devan bertolak ke kota Washington. Kini, mereka semua berada di bandara. Keluarga Devan dan Tanisha juga ikut serta mengantar anak dan menantu mereka. Dua keluarga itu berkumpul di ruang tunggu.
__ADS_1
Terlihat Tanisha tidak melepas pelukannya pada Devan. Wanita itu tetap merengkuh tubuh suaminya, tidak memperdulikan hal di sekitarnya. Ia ingin berada di sisi suaminya terus, disaat terakhir seperti ini sebelum mereka di pisahkan oleh jarak dan waktu.
"Honey, udah dong," ucap Devan sembari mengusap pipi Tanisha yang basah oleh air mata.
Meski sedari tadi Tanisha hanya diam, tidak meyahuti obrolan dari dua keluarga itu, namun matanya tidak pernah berhenti mengeluarkan air mata yang terus mengalir tanpa ia suruh.
"Enggak bisa, Mas. Ini nggak mau disuruh berhenti," kilah Tanisha. Padahal dirinya sendirilah yang tak kuasa membayangkan sebentar lagi akan menjalin hubungan jarak jauh dengan pria, yang baru beberapa hari ini menjadi suaminya.
"Sha, berikan suamimu sebuah senyuman yang cantik dari bibirmu, di saat dia akan pergi berjuang demi kebahagianmu, kelak. Jangan malah memberinya sebuah air mata. Itu akan sangat mengganggu dia saat berada jauh denganmu, Sha." Karina mencoba memberi sebuah nasehat pada putrinya.
__ADS_1
Berat dan sedih itu pasti. Tapi mereka harus bertahan demi kebahagian yang mereka inginkan nanti. Karina juga merasa bangga dengan menantunya, yang tidak ingin menerima bantuan dari suaminya, Darren Elajar. Menantunya ini benar-benar pria yang memiliki harga diri yang tinggi, dan juga kemauan yang tak bisa terpatahkan oleh orang lain. Bahkan oleh istrinya sekalipun.
Mendengar mamanya yang sudah mengeluarkan petuahnya, Tanisha segera menghapur air matanya. Mengedip-ngedipkan matanya, lalu menengadahkan wajahnya ke atas guna mencegar air matanya yang ingin jatuh lagi.
"Jangan ditahan, Honey. Aku nggak apa-apa, asal kamu merasa lega dan jangan bersedih lagi. Kita berpisah bukan untuk selamanya, tapi kita berpisah demi impian kita terhadap keluarga kecil kita nanti, Honey. Maka dari itu, berikan aku sebuah senyuman manismu, dan akan aku abadikan di sini ," ungkap Devan seraya memperlihatkan ponselnya.
Tanisha menggelengkan kepalanya dengan pelan. Bisa-bisanya di saat seperti ini, suaminya masih bisa bercanda dengannya.
"Nggak mau. Aku terlihat sangat jelek sekarang," tolak Tanisha diiringi gelak tawa dari keluarga mereka.
__ADS_1
"Kamu tidak pernah jelek di mataku, Honey. Kamu selalu cantik dan selalu sempurna, apalagi di saat kamu baru bangun tanpa segelai kain yang menutupi kulit indahmu itu," bisik Devan seraya mengedipkan matanya nakal.
Tentu saja Devan langsung mendapat sebuah cubitan, yang selama ini jarang ia dapatkan dari sang istri.