
Setelah dirasa hampir seluruh permukaan kulit leher dan dada bagian atas Tanisha sudah ia stempel, kini Devan menempelkan keningnya pada kening Tanisha. Membuat Tanisha merasa lega, karena dia pikir Devan akan menyudahi kegiatan yang sangat menyiksa dirinya.
"Sakit, Sha," lirih Devan. Ucapan Devan membuat Tanisha khawatir.
Tanisha menangkup kedua sisi wajah Devan. Tatapan mata mereka saling bertemu. Tanisha terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Devan. Dia menempelkan punggung telapak tangannya ke kening pria yang barusan membuat dirinya melambung. Tapi itu masih sebagian, loh!
"Kamu nggak panas nih, Mas," ucap Tanisha setelah mengecek suhu tubuh Devan melalui punggung telapak tangannya.
"Bukan itu yang sakit, Sha," ucap Devan dengan tatapan yang sendu. Hal itu semakin membuat Tanisha mengernyit bingung.
"Lalu?" tanya Tanisha penasaran bagian mana dari tubuh Devan yang sakit.
Devan menatap diam Tanisha, kemudian bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti. Ide gila pun melintas di otaknya. Salah sendiri gadisnya ini bersikap nakal akhir-akhir ini. Dan yang lebih parah adalah sekarang ini.
__ADS_1
"Kamu mau tau bagian mana yang sakit?" ucap Devan penuh tipu muslihat. Karena terlalu khawatir dengan keadaan Devan, yang notabennya selama ini hampir tidak pernah terlihat sakit saat mereka bersama, membuat Tanisha semakin gusar.
Devan tersenyum tipis disaat gadisnya itu menganggukkan kepalanya. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Devan dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Tanisha itu ke dalam gendongannya.
Tanisha memekik kaget tanpa aba-aba terlebih dulu, mantan kekasihnya itu mengangkat tubuhnya. Reflek, tangan Tanisha dan kakinya melingkar erat di leher dan pinggang Devan. Karena dirinya juga tak mau jatuh dengan posisi yang konyol.
"Turunin, Mas. Malu," ucap Tanisha. Karena rok yang dikenakan Tanisha tersingkap sedikit. Sehingga memperlihatkan setengah bagian paha mulus Tanisha.
Devan tidak merespon. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu di samping kursi tempatnya bekerja. Tidak hanya ruangan direktur saja yang memiliki ruangan istirahat. Di ruangan Devan pun sama. Ruangan ini memiliki ruangan istirahat yang tersembunyi di belakang tempatnya bekerja.
Devan merebahkan tubuh Tanisha di ranjang yang terdapat di ruangan tersebut. Hal ini membuat degup jantung Tanisha berdetak tidak normal. Semakin cepat dan semakin kencang.
Devan berjalan menjauh dari tempat ranjang yang di tempati Tanisha. Dia menyalakan lampu yang ruangan itu. Setelah badannya berbalik dan menatap tubuh Tanisha, rasa sakit itu semakin menyiksanya. Sesuatu dibalik celananya mendesak untuk di bebaskan.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain, Mas?" tanya Tanisha waspada. Jika Devan berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya, maka Tanisha tidak segan-segan menghajar mantan kekasihnya itu.
Devan tersenyum, lalu melangkah mendekat ke sisi ranjang. Meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu mendua salah satu nomor yang tersimpan di ponsel tersebut.
"Gue ijin setengah hari. Lo rapat ditemani Veena aja. Gue ada urusan yang harus diselesaikan saat ini juga." ucap Devan. Kemudian ia tertawa kecil saya mendapati respon dari orang yang ia telpon.
"Haha... Lo tau aja. Udah, jangan ganggu gue," kemudian Devan memutus sambungan telponnya dengan Langit.
Setelah itu Devan membuka tiga kancing bagian atasnya, lalu melipat lengan kemejanya ke atas hingga di bawah siku.
"Ma-mas... Kamu mau ngapain?" Tanisha mengulang pertanyaannya melihat kini Devan mulai merangkak naik ke atas ranjang.
"Mau makan siang," jawab Devan asal dengan dibarengi senyum penuh artinya tersebut.
__ADS_1
Wooiiii Maaasss.... ini masih siang, loh! Jangan kau kotori otakku dengan ucapan absurdmu🙈