
Devan menatap istrinya, setelah tahu siapa yang menghubunginya. Lalu dengan pergerakan pelan dan penuh kehatian, Devan mengarahkan layar ponselnya itu ke sang istri. Dia meminta ijin untuk menjawab sambungan telpon dari seseorang tersebut.
"Jawab aja, jika menurut Mas itu sangat penting," jawab Tanisha dengan nada cuek.
Devan sedikit ragu untuk menjawab telpon dari seseorang itu. Tapi, pasti orang itu membawa kabar yang sangat penting, jika sampai orang itu menghubungi Devan terlebih dulu.
"Boleh?" Tanya Devan untuk memastikan kembali pada sang istri. Tanisha hanya menganggukkan kepalanya pelan, tanda ia memberi ijin pada suaminya.
Setelah melihat anggukan kepala dari itrinya, Devan menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Alih-alih menempelkan ponsel itu ke telinganya, Devan lebih memilih menekan tanda loud speaker di ponselnya.
"Halo, Pak," sapa seorang perempuan dari seberang telpon.
__ADS_1
"Ya, ada apa Vee?" Tanya Devan dengan nada yang ramah.
Mendengar suaminya yang menyapa perempuan itu dengan sangat ramah, membuat hati Tanisha terasa sedikit panas. Bukan Tanisha namanya jika diam saja tanpa melakukan sesuatu.
"Apa Bapak bisa berangkat ke sini lebih cepat lagi? Karena ada suatu hal yang membutuhkan tanda tangan Bapak," ungkap Veena.
Devan tidal langsung menjawab, dia menatap ke arah Tanisha yang tengah sibuk di bawah sana. Entah sejak kapan istrinya itu berhasil menanggalkan celananya. Tanpa sadar, Devan mendesis saat Tanisha lebih intens menggodanya. Membuat Veena bingung mendengar atasannya seperti itu.
Veena baru mengetahui Devan menikah pada saat melihat instastory milik Kenzo. Pada saat itu, Devan memeluk Tanisha dengan sangat mesra saat acara makan bersama di acara pernikahan Lina, yang juga merupakan pernikahan Tanisha.
Di instastory tersebut, Kenzo memberi caption 'Ku pikir kita adalah satu. Namun ternyata, kita bagaikan air dan minyak yang tak bisa menjadi satu'. Begitulah caption yang di tulis oleh model underwear, yang juga merupakan idola Veena.
__ADS_1
"Mmmhh... Ya, akan amu usahakan until bisa segera ke sana," balas Devan dengan susah payah agar terdengar viasa saja. Tapi semua yang mendengarnya pasti tahu, apa yang sedang dilakukan oleh pengantin baru tersebut.
Mendengar jawaban suaminya yang akan segera pergi meninggalkan dirinya sendiri di sini, membuat mood Tanisha beneran anjlok, se-anjlok, anjloknya. Karena merasa kesal, lantas Tanisha menyudahi permainannya. Dia segera bangkit dari tubuh sang suami, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tanisha membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Menyadari kalau dirinya semakin memperkeruh keadaan, Devan kemudian memutus sambungan telponnya dengan Veena secara sepihak. Lalu segera menyusul istrinya ke kamar mandi. Namun, semua itu sia-sia. Karena Tanisha mengunci pintu kamar mandinya.
"Honey, dengarkan aku dulu," ucap Devan dengan nada memohon. "Aku bisa jelasin, Sayang," ujarnya lagi.
Sementara, di dalam kamar mandi Tanisha tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin guna meredakan emosi yang membara di dalam hati. Kali ini dia tidak bisa membiarkan suaminya itu berdua saja dengan Veena di sana.
"Aku harus minta tolong pada Jonathan untuk mengawasi mereka," ucap Tanisha menatap tajam dirinya dari pantulan cermin yang ada di samping kanannya.
__ADS_1
Tanisha membiarkan Devan yang terus memanggil namanya dari luar kamar mandi. Kemudian dia melanjutkan aktifitasnya untuk mendinginkan pikirannya yang telah dibuat runyam oleh suaminya lagi.