Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Aku Mohon


__ADS_3

Setelah berpamitan, Tanisha segera beranjak dari tempat duduknya. Sebelumnya dia mencium tangan Diva dan mamanya terlebih dulu. Lalu Tanisha hanya mengangguk kepada Devan, tanpa senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Ma, aku antar anak Tante Karin dulu, ya?" pamit Devan. Kemudian dia segera bergegas mengejar Tanisha yang sudah keluar dari rumahnya.


Sementara itu, Diva dibuat bingung dengan tingkah putranya. Sedangkan Karina hanya tersenyum sembari menggeleng kepala.


"Putraku kok sepertinya kenal sama putrimu, Jeng?" tanya Diva yang merasa bingung dengan gelagat Devan sedari tadi.


"Ya jelas kenal, to Jeng. Lha emang mereka udah pacaran selama satu tahun. Lalu baru sebulanan ini mereka putus," cerita Karina.


"Oohh... Sudah kenal, to ternyata," sahut Diva mengerti. "Hah! Putus? Apa putrimu yang menyebabkan Tama ingin segera mengurus perusahaannya di Washington itu? Karena dia bilang ingin segera menjadi orang terpandang, agar pantas bersanding dengan pacarnya, katanya. Ternyata pacarnya itu Nisha?" tanya Diva kemudian.


"Iya, Jeng. Makanya aku sengaja ngajak Nisha ke sini. Biar mereka segera menyelesaikan permasalahan mereka," jawab Karina.


Sebenarnya, keluarga Elajar tidak terlalu memandang latar belakang orang yang tengah dekat dengan putra dan putri mereka. Yang terpenting bagi mereka orang itu tulus, jujur, baik, dan bertanggung jawab.

__ADS_1


"Ya pantas aja, Jeng. Tama seperti itu. Lhawong yang akan dipinang putrimu. Dia pasti merasa insecure, karena keadaannya Jeng." jelas Diva.


"Kamu tau aku, kan Jeng. Keluargaku nggak seperti orang pada umumnya itu. Semoga saja mereka bisa bersatu kembali. Karena aku tau, mereka itu masih saling mencintai. Hanya saja, karena status sosial yang membuat hubungan mereka pupus," Karina tidak ingin kebahagian putrinya terhalang hanya karena status keluarganya.


"Semoga saja, Jeng. Aku juga suka dengan Nisha. Karena putrimu lah, Tama bisa lebih berpikir dewasa lagi." sambung Diva. Kemudian para wanita patuh baya itu membicarakan masa depan hubungan anak-anak mereka.


Sementara itu di teras rumah Devan, terlihat Devan tengah mencekal tangan Tanisha, sebelum gadis itu melangkah lebih jauh lagi.


"Sha, tunggu!" cegah Devan.


"Sha, apa benar kamu akan menikah? Secepat itukah?" tanya Devan, seraya menahan gejolak amarah dari dalam dirinya.


Terlihat Tanisha memejamkan matanya, lalu dalam satu tarikan napas, dia pun menjawab dengan nada datar. "Bukan urusanmu, Mas."


Jawaban Tanisha membuat Devan geram. Devan menarik tangan Tanisha dengan begitu lembut, untuk kemudian ia peluk begitu erat.

__ADS_1


"Aku mohon, Sha. Tunggu aku sebentar saja," lirih Devan seraya memeluk erat tubuh Tanisha. Kepalanya ia sandarkan di bahu gadisnya tersebut. Wajahnya ia serukan di leher Tanisha.


Dada Tanisha terasa lebih perih, saat mendengar kalimat yang diucapkan Devan. Apa maunya sebenarnya pria ini? Kenapa dia yang selalu disuruh untuk menunggu pria ini.


"Maaf, Mas. Aku nggak bisa menunggu tanpa kepastian seperti itu. Lagian aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu menolaknya dengan cara yang sama," ucap Tanisha. Setelah itu mulai melepas tangan Devan yang melingkar di perutnya.


"Lepas, Mas!" sentak Tanisha ketika Devan malah mempererat tangannya. Sehingga membuat dua orang paruh baya yang sedang mengobrol di dalam rumah, ikut keluar. Tapi mereka hanya berhenti sampai di ambang pintu. Memperhatikan dua sejoli itu dan tidak mau ikut campur terlebih dulu.


"Aku mohon, Sha," pinta Devan. "Aku tidak bisa melihatmu menikah dengan pria lain." lanjut Devan semakin merengkuh tubuh Tanisha penuh posesif.


Saat mereka sedang berperang dengan perasaan masing-masing, munculah sosok perempuan dari luar gerbang. Hal itu semakin membuat hati Tanisha terasa lebih perih dari sebelumnya.


Kenapa selalu datang pengganggu, sih😒


Ijinkalah mereka romantis-romantisan sebentar saja😥

__ADS_1


__ADS_2