
"Sha...," panggil Devan. Dia melangkahkan kakinya maju mendekat ke arah Tanisha. Namun, gadisnya itu mencegah Devan agar tidak mendekat padanya lagi.
"Stop, Mas! Jangan mendekat," tangis Tanisha pun pecah. Kali ini hatinya benar-benar sangat perih. "Sebegitu besarkah kesalahan yang aku lakukan, sehingga kamu tidak memberiku kesempatan, Mas?" Tanisha menatap Devan dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Bukan itu maksudnya, Sha," ucap Devan. Hatinya lebih terasa perih saat melihat Tanisha yang seperti ini. Ini kali kedua Devan melihat Tanisha begitu rapuh di matanya.
"Lalu apa maksudmu, Mas! Mencoba menghindari ku, dengan pergi bersama wanita lain?" lirih Tanisha di akhir kalimatnya. Dia tidak bisa membayangkan mantan pacarnya itu akan melakukan perjalanan jauh, dengan perempuan yang terlihat tertarik dengan Devan. "Kalau memang tidak ada kesempatan untukku masuk ke dalam hidupmu lagi. Oke! Aku akan pergi darimu, Mas. Jangan harap kamu bisa bertemu lagi denganku setelah ini," lanjut Tanisha yang merupakan sebuah ancaman bagi Devan.
Kemudian Tanisha membalikkan tubuhnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan mantan pacarnya tersebut. Namun, dengan cepat Devan mencekal tangan Tanisha. Mencegah gadisnya itu agar tidak keluar dari ruangannya. Untuk kemudian tubuh Tanisha dipeluk Devan dari belakang.
__ADS_1
Tanisha memejamkan matanya, menikmati rasa perih yang diberikan oleh Devan kepadanya. Meski cintanya pada Devan masih sama, tapi jika Devan berbuat seperti itu, Tanisha akan berusaha melepas pria yang mengajarkan arti cinta dan perjuangan kepada dirinya.
"Sha, dengarkan dulu penjelasan ku. Aku melakukan ini agar aku bisa bersanding denganmu, kelak. Aku tidak ingin dianggap tidak bisa menghidupi dirimu, Tanisha Elajar. Aku ingin memantaskan diriku terlebih dulu. Itulah mengapa aku akan pergi ke Washington minggu depan dengan Veena. Karena hanya dia yang dapat aku andalkan." akhirnya Devan menjelaskan rencana yang selama ini ia simpan sendiri.
"Apa maksudmu, Mas?" Tanisha membalikkan tubuhnya dan kini dia menghadap tepat dihadapan Devan.
Devan menangkup kedua pipi Tanisha. Mengusap air mata gadisnya itu dengan dengan kedua ibu jarinya. Menatap mata Tanisha begitu intens.
Tanisha terdiam, mencerna semua perkataan Devan. Ternyata semua ini Devan lakukan, karena ingin fokus dengan masa depan mereka. Lantas, kenapa waktu itu Devan memutuskan hubungan mereka.
__ADS_1
"Kalau memang Mas ingin hidup berdampingan denganku, lantas kenapa waktu itu Mas memutuskan ku dengan cara begitu menyakitkan?" tanya Tanisha. Dia tidak bisa menerima semua ini dengan mudah, setelah melewati beberapa keadaan yang membuat dirinya menjatuhkan harga dirinya.
"Aku hanya ingin kamu jera dan tidak berani lagi berbohong padaku, Sha," jelas Devan membuat hati Tanisha lega. Jadi, selama ini bukan hanya dirinya saja yang tersiksa akan rindu yang mereka rasa. Devan juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
"Itu artinya sebenarnya Mas masih men...," ucapan Tanisha terhenti saya melihat anggukan kepala dari Devan.
"Terus, siapa dua laki-laki berbeda yang kamu temui semalam?" tanya Devan penasaran.
Kini dirinya memepet Tanisha, hingga tubuh Tanisha menempel di dinding dekat pintu. Tangannya melingkar posesif di pinggang Tanisha. Sementara tangannya yang satunya lagi menjulur meraih kunci pintu ruangannya, lalu melakukan gerakan memutar ke kiri. Dan klek! Pintu pun terkunci dengan sangat sempurna.
__ADS_1
Hai gengs! Sekedar info, untuk yang belum selesai membaca Bibit Bayaran, karena pernah aku rusak bab nya. Sekarang kalian bisa membacanya lagi di NT, nggak usah ke aplikasi sebelah. Bacalah dari awal, biar lebih kerasa panasnya🙈. Karena kali ini yang aku unggah adalah naskah asli pertamaku, bukan revisian seperti sebelumnya. So, kaporitin dia juga ya😅