
Hati Devan tidak sanggup membayangkan jika dirinya berada jauh dari belahan jiwanya. Namun, jika meminang Tabisha sekarang, dia masih belum yakin. Karena dirinya merasa belum pantas untuk meminta Tanisha pada keluarganya.
"Aku akan melakukanya, Sha," lirih Devan. Hal itu membuat mata Tanisha terasa pedas seketika.
"Nggak bisakah Mas tetap di sini?" tanya Tanisha. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Nggak bisa, Sha. Perusahaan ku masih terbilang sangat kecil. Aku nggak bisa begitu saja memindahnya ke sini. Sudah satu tahun aku mengabaikannya, kini waktunya aku fokus padanya," jelas Devan memberi pengertian pada Tanisha. Tangannya membelai lembut setiap helai rambut Tanisha yang ia lepas ikatannya.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Tanisha dengan suara yang mulai terdengar gemetar.
Devan memejamkan matanya, menarik napas lalu menghembuskannya. Ini merupakan hal paling berat baginya.
"Ini juga berat bagiku, Sha. Tapi maukah kamu bersabar untuk menunggu kedatanganku kembali?" tanpa terasa air mata itu lolos mengalir dari sudut mata Devan. Hanya dengan membayangkannya saja, rasanya seperih ini. Bagaimana jika mereka benar-benar terpisah oleh jarak dengan ribuan mil?
"Apa kamu benar-benar akan menjaga hatimu di sana Mas? Sedangkan ada Mbak Veena yang ikut serta denganmu." Tanisha tidak memungkiri kalau suatu saat nanti dirinya pasti mempunyai pemikiran buruk pada Devan. Bukan karena dia tidak percaya akan mantan kekasihnya itu, tapi itulah yang Tanisha rasakan.
__ADS_1
"Apa kamu cemburu, Sayang?" tanya Devan yang kembali memanggil Tanisha dengan sebutan sayang.
Kini Devan merubah posisinya. Dia menyangga kepalanya sendiri dengan tangannya. Menatap lekat wajah gadisnya yang mulai menangis.
"Aku bukan kekasihmu lagi, Mas. Harap kamu ingat itu. Kamu memutuskan ku dengan begitu kejam. Jangan panggil aku seperti itu," kesal Tanisha karena di goda oleh Devan.
Devan terkekeh kecil melihat wajah merajuk Tanisha. Lalu ia cubit ujung hidung Tanisha. Karena terlalu gemas dengan tingkah gadisnya tersebut.
"Aku jadi semakin ingin memakanmu sekarang, Sha," goda Devan. Tentu saja Tanisha langsung melayangkan cubitannya pada lengan Devan.
"Tidak bisakah Mas mengajakku juga? Mungkin aku bisa membantumu, meskipun itu hanya sekedar membuat kopi, misalnya." ucapan Tanisha membuat tawa Devan pecah. Bagaimana bisa dia memperkerjakan gadisnya itu menjadi OG.
"Bisa-bisa aku di habisi oleh Pak Erlangga, Sha. Kamu ini ada-ada saja," karena terlalu menggemaskan, hingga membuat Devan tidak tahan untuk tidak mencium gadisnya itu.
"Jika kamu ikut aku ke sana, aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyentuhmu, Sha. Dan hal itu merupakan ujian terberatku, seperti sekarang ini." jelas Devan.
__ADS_1
Berada di ruangan yang sama, dengan posisi seperti ini bersama orang yang dicinta. Bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang membuat semua orang candu akan rasa yang dihasilkan.
Namun, bagi pria berusia tiga puluh tahunan itu, situasi seperti ini adalah hal yang paling menyiksa dirinya. Ada orang terkasih di sampingnya, dan juga suasana serta tempat yang mendukung, tapi dia harus mati-matian menahan keinginannya tersebut.
"Mas...," panggil Tanisha pelan.
"Hmmm," Devan semakin erat memeluk gadisnya tersebut.
"Apa Mas masih mencintaiku?" tanya Tanisha begitu konyol. Membuat Devan sedikit menjauhkan wajahnya agar bisa menatap Tanisha dengan seksama.
"Apa kamu masih meragukanku?" Devan balik bertanya.
"Kalau begitu, sentuh aku, Mas," tantang Tanisha kemudian. Ia sudah memikirkan konsekuensi apa yang akan ia terima nanti.
"Jangan ngaco kamu, Sha!" Devan melepas rengkuhannya, untuk kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Bagaimana bisa gadisnya ini berkata seperti itu, disaat dirinya sedari tadi berusaha keras untuk menahan hasratnya agar tidak lepas kendali.
Kita lihat saja, Mas. Siapa yang kuat diantara kita. Eh, diantara kamu dan Nisha😅