
"Sha, apa kamu nggak apa-apa jika aku beri mahar segini? karena hanya ini yang aku bawa saat ini," jelas Devan seraya memperlihatkan dua lembar uang berwarna biru, dan satu lembar uang berwarna hijau.
Tidak hanya Darren yang berusaha menahan tawanya, tapi semua orang yang melihat tingkah konyol Devan. Bagaimana bisa, seorang pewaris kedua dari keluarga yang memiliki bisnis di berbagai bidang itu, hanya dikasih mahar senilai seratus dua puluh ribu rupiah. Jauh lebih murah jika dibandingkan dengan harga pewaris utama keluarga yang sangat berpengaruh tersebut, yang dihargai sepuluh juta oleh istrinya, dulu.
Tanisha menatap tak percaya ke arah Devan, karena dirinya merasa lebih murah dari kakaknya, Erlangga. Namun, mau bagaimana lagi. Toh, yang terpenting saat ini hubungan mereka sah di mata agama, dan mereka akan mendaftarkan pernikahan mereka di KUA, besok.
"Iya, nggak apa-apa, Mas. Aku ikhlas menerima berapa pun yang kamu beri padaku," jawab Tanisha.
Setelah mendengar jawaban dari mempelai perempuan, sang mudin pun mempersilahkan sang penghulu untuk segera memulai ijab qabul mereka.
Suasana yang sebelumya gemuruh karena perihal mahar sang pengantin, kini berubah menjadi tenang seketika. Mereka menyimak dengan khitmat prosesi pelafalan ijab qabul yang diucapkan Devan, dengan mahar yang disebutkan tadi.
Rasa gugup dan tegang yang menghinggap menjadi satu di dalam dirinya, kini terbayar lunas dengan teriakan sah dari para saksi.
__ADS_1
Ya, setelah melewati berbagai macam rintangan saat mendapatkan Tanisha, serta berbagai drama yang menghiasi hubungan mereka, kini mereka bisa bernapas lega. Dalam penantian serta perjuangan mereka, akhirnya cinta mereka berlabuh hingga sampai pada sebuah ikatan yang lebih suci lagi, yaitu sebuah ikatan yang bernamakan pernikahan.
Devan mengucap syukur, karena apa yang ia usahakan selama ini dapat ia jerat dalam genggamannya. Kini tinggal satu permasalahan yang harus mereka hadapi, yaitu perihal keberangkatan Devan ke Washington.
Dan acara itu di tutup dengan doa untuk pengantin baru tersebut. Ada beberapa teman sekolah Tanisha yang juga merupakan teman Lina, mengucapkan selamat kepada dua pasangan pengantin tersebut.
"Selamat ya, Sha. Akhirnya kamu nikah juga dengan dia," ucap Lina seraya memeluk sahabatnya itu.
"Iya, ini hal konyol yang pernah aku lihat. Apalagi pada saat tau mahar yang diberikan kepadamu, Sha." sahut Viko yang menghampiri istri dan sahabatnya itu. sementara Devan berjalan di belakang Viko. Mereka berdua baru saja selesai menemui klien mereka yang kebetulan saling mengenal.
"Besarnya mahar yang kita kasih, itu tidak terlalu penting. yang terpenting itu setelah kita menikah. Kita harus bisa mencukupi semua kebutuhan istri kita dan membahagiakan dia," sahut Devan, lalu memeluk gadis yang baru menyandang sebagai seorang istri tersebut.
Meski sudah halal, tapi Tanisha merasa malu ketika dipeluk seperti ini oleh suaminya. Tangannya langsung menghadiahi perut Devan sebuah cubitan khasnya, yang mampu membuat Devan mengaduh, karena terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kamu itu bisa tidak sih Mas, jaga sikap kamu di depan umum?" kesal Tanisha pada suaminya. "Apalagi masih ada Papa dan Mama di sini," imbuhnya lagi. Dan Devan sudah kebal dengan segala macam omelan istrinya tersebut. Dia hanya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.
sementara Viko dan Lina hanya menggelengkan kepala saat melihat tingkah pengantin baru, yang tidak kenal tempat tersebut.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, datanglah seseorang yang membuat perhatian mereka terfokus pada orang tersebut. Kecuali Devan. Dia melayangkan sebuah tatapan tak bersahabat pada orang itu.
Darren langsung berdiri dan menyambut pemuda tersebut, lalu memeluknya sebentar sebagai tanda salam mereka.
"Bagaimana kabar Daddy-mu?" tanya Darren saat mengurai pelukan mereka.
Event yang Ada di bab sebelumnya, berakhir dengan update nya bab ini. Aku selalu mantau komen kalian. Mohon kerja samanya lagiš Kita akan adakan kuis dadakan lagi ke depannyaš
Sorry, jawaban kalian nggak ada yang benarš¤£š¤£
__ADS_1