
Devan nampak terlihat enggan untuk mengutarakan niatnya yang ingin memberitahukan pada Tanisha perihal keberangkatannya ke Washington.
Mulanya dia menjadwalkan keberangkatannya sehari setelah pernikahan Lina dan Viko. Tapi, karena di hari itu juga adalah hari pernikahannya dengan tanisha yang mendadak, Devan terpaksa mengundur lagi jadwal keberangkatannya.
Akhirnya Devan kemudian menyuruh Veena untuk berangkat terlebih dulu ke sana. Meski harus melewati perdebatan yang cukup menyita waktu, karena Veena tetap bersikeras menyuruh Devan agar berangkat bersamanya, namun semua dapat Devan selesaikan dengan putusan akhir, mau tidak mau Devan harus berangkat tiga hari setelah Veena berangkat. Veena beralasan kalau dirinya tidak bisa menghandel perusahaan Devan sendirian.
"Kamu kenapa sih, Mas? Ngikutin aku terus. Kayak anak kecil aja," protes Tanisha yang merasa terganggu dengan tingkah Devan.
Devan tidak memperdulikan istrinya yang kesal terhadapnya. Dia tetap mengikuti ke mana Tanisha bergerak. Hingga saat Tanisha memnyicipi masakannya, Devan melingkarkan tangannya di perut sang istri. Lalu menyerukan wajahnya di pundak Tanisha. Mengecup singkat pipi Tanisha dari arah samping. Membuat Tanisha merasa risih dan juga geli.
"Kamu ada apa sih, Mas? Tumben banget manja seperti ini?" Tanisha merasa ada yang tidak beres dengan suaminya.
__ADS_1
Meski baru menikah beberapa hari dengan Devan, Tanisha sedikit banyak sudah mengerti kebiasaan suaminya tersebut.
"Mas...," Panggil Tanisha kembali saat suamiya tak merespon pertanyaannya dan malah lebih memilih membenamkan wajahnya lebih dalam lagi ke bagian lehernya.
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, Honey," putus Devan pada akhirnya.
Mendengar itu, Tanisha segera memutar tubuhnya agar menghadap tepat ke arah suaminya. "Kamu mau ngomong apa Mas? Kok kelihatannya pentjng banget," tanya Tanisha. Karena dia melihat wajah jahil yang biasa Devan tampilkan, kini wajah itu terlihat sangat serius.
Ya, kini mereka telah tinggal di apartemen milik Devan yang terletak tidak jauh dari rumah utamanya. Sebenarnya, orang tua mereka menyuruh mereka untuk tinggal di kediaman utama. Entah itu di kediaman keluarga Elajar, atau Pratama. Namun, mereka memilih tinggal di apartemen milik Devan, dengan alasan ingin menikmati masa-masa sebagai pengantin baru.
"Honey...," lirih Devan seraya menatap serius ke arah Tanisha.
__ADS_1
"Iya, Mas. Ngomong aja! Nggak usah muter-muter terus. Kayak sama siapa aja," protes Tanisha yang sesungguhnya ia tidak sabar ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh Devan.
"Aku berangkat ke Washington tiga hari lagi, Honey," lirih Devan. Kini dia tidak berani menatap wajah istrinya.
"Lalu bagaimana denganku, Mas? Apa kamu akan meninggalkanku semdirian di sini?" Tanya Tanisha dengan nada sedikit gemetar. Dia tidak bisa membayangkan, akan seperti apa dirinya tanpa Devan di sampingnya.
Belum sempat Devan menjawab, terlihat genangan air yang mengumpul di pelupuk mata sang istri. Lalu dengan gerakan lembut, Devan berusaha mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi mulus istrinya.
"Honey... Bukannya aku tak mau mengajakmu bersamaku, tapi aku belum mempersiapkan semuanya untuk kita," bujuk Devan. Tangannya mencoba meraih tangan sang istri guna ia genggam. Namun, Tanisha menjauhkan tangannya dari Devan.
Tanisha berpikir, jika status mereka berubah itu akan membuat Devan akan lebih mementingkan dirinya. Tapi ternyata anggapannya itu salah. Devan tetaplah seorang Devan. Seorang pria yang egois dan keras kepala.
__ADS_1