
"Mas... Bukannya aku menolak lamaranmu. Tapi...," dengan sengaja Tanisha tidak melanjutkan ucapannya. Dia ingin melihat rekasi Devan terlebih dulu. Sangat menyenangkan menjahili prianya ini.
"Tapi apa Sha? Apa?" Emosi Devan mulai tersulut, apalagi dengan santainya Tanisha tersenyum kepadanya.
Tanisha tetap terdiam, dia terus mengecup bibir Devan berkali-kali agar emosi prianya itu mereda. Dan hal itu terbukti ampuh. Setelah dirasa Devan mulai tenang, Tanisha melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak mau kita hanya lamaran saja Mas. Karena itu tidak ada bedanya dengan sebuah ikatan pacaran," ucap Tanisha dengan menatap serius netra coklat mikik Devan.
Devan nampak terdiam sejenak, memikirkan apa yang dimaksud kekasihnya ini. "Lalu kamu mau kita gimana, Sha? Jangan bilang kalau kamu minta pisah denganku," Devan sadar, jika dulu tindakannya itu salah. Namun, kali ini dia benar-benar akan menjerat Tanisha dengan sebuah hubungan yang resmi.
"Aku mau menikah, Mas." Balas Tanisha.
"Apa kamu yakin, Sayang?" Devan mencoba memastikan kembali keinginan Tanisha. Tanisha pun menganggukkan kepalanya dengan mantap.
__ADS_1
"Aku yakin, Mas. Karena aku tidak bisa berjanji, kalau aku akan setia menunggu kepulanganmu jika kita hanya sebatas pacar saja," ucap Tanisha.
Devan langsung merengkuh tubuh kekasihnya itu. Mana mungkin dia membiarkan Tanisha lepas dari tangannya. Itu tidak akan terjadi. Cukup sekali saja kebodohan yang dia lakukan.
Setelah itu, mereka bersiap-siap untuk pergi ke butik. Tanisha yakin, sahabatnya itu pasti sangat kesal padanya. Juga Viko yang tadi terus mencoba menghubunginya.
Selang beberapa menit, mobil yang mereka tumpangi sampai di plataran sebuah butik yang terkenal di kota ini. Devan menggandeng tangan Tanisha begitu mesra saat memasuki butik tersebut.
Sampai di ruangan yang berisi gaun-gaun pengantin, Lina langsung menghampiri Tanisha yang berjalan ke arahnya. Wajah Lina cemberut karena kesal dengan sahabatnya itu.
Tanisha tersenyum, lalu memeluk sahabatnya itu sebagai permintaan maafnya. "Maafkan aku, Lin. Aku ada urusan mendadak sebentar." Tanisha meminta maaf.
Belum sempat Lina menjawab, terdengar suara pria yang juga protes keada Tanisha dari arah belakangnya. Pria itu berjalan menghampiri mereka dari arah ruang ganti.
__ADS_1
"Sha, aku kan sudah minta tolong padamu untuk menemani Lina. Karena kamu tau, kan kalau aku sedang ada rapat penting. Untung saja mereka bisa mengerti kesibukanku yang lain," protes pria yang mengenakan setelan tuxido berwarna navy tersebut.
"Wooaahh... Tumben kamu cakep banget, Vik?" Puji Tanisha.
Bukannya menjawab pertanyaan Viko, Tanisha malah sibuk mengitari tubuh Viko dan memuji calon pengantin pria tersebut. Tentu saja, hal itu membuat Devan menahan geramnya. Bagaimana bisa gadisnya ini memuji pria lain, disaat dia sedang bersama dengan dirinya.
Apa yang terjadi jika nanti mereka benar-benar terpisah oleh jarak dan waktu? Devan tidak berani membayangkan Tanisha yang ternyata bisa centil dengan pria lain.
"Sayang...," geram Devan. Tanisha menoleh, lalu memberikan senyuman paling manisnya. Berusaha untuk merayu kekasihnya itu agar tak cemburu.
Tentu saja trik yang dilakukan Tanisha berhasil. Devan tidak bisa merajuk terlalu lama, jika Tanisha bersikap seperti itu. Sementara kedua pasangan pengantin itu hanya menggeleng kepalanya dengan pelan, melihat dua sejoli yang baru baikan tersebut.
Namun, ada yang aneh di mata Lina, saat Devan menyibak rambut Tanisha ke arah belakang. Ada sebuah tanda seperri memar, tapi yang ini sedikit lebih merah. Karena penasaran dan ingin memperjelas asumsinya, Lina mendekati Tanisha.
__ADS_1
"Subhanallah, Sha...!!!" Betapa terkejutnya Lina saat melihat tanda itu lebih jelas lagi.
Oh, ya. Jika kalian berkenan, dukung juga cerita baruku di ijo ya😁 dengan judul 'Teh Dibalas Sianida'