
"Janji?" Tanisha mengarahkan jari kelingkingnya, sebagai bentuk perjanjian mereka.
"Iya, aku janji," balas Devan sembari mengikuti apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
Setelah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang diinginkan, Tanisha mengecup pipi Devan, lalu segera melepas diri dari dekapan suaminya untuk kemudian melanjutkan kegiatannya yang belum selesai mengemas perlengkapan Devan.
Melihat itu, Devan menarik kembali tangan Tanisha dengan lembut. Membuat Tanisha merasa heran dengan sikap suaminya.
"Mas, aku harus segera menyelesaikan ini. Jadwal kamu berangkat nanti malam, kan jam delapan," ungkap Tanisha. Dia memaksakan senyumnya di hadapan Devan. Meski sejujurnya Tanisha merasa sangat berat melepas Devan.
Seolah tahu apa yang dirasakan oleh istrinya, Devan mengajak Tanisha keluar dari apartemen mereka. Dia ingin menghibur istri cantiknya itu sebelum ia brangkat nanti malam. Devan tidak mau pergi dengan meninggalkan sebuah kesedihan yang mendalam until sang istri. Meskipun itu tetap akan mereka terima, setidaknya Devan membuat kenangan yang indah bersama Tanisha, sebelum meninggalkan istrinya itu dalam kurun waktu yang tidak bisa ia janjikan.
__ADS_1
"Kita mau kemana sih, Mas?" Tanya Tanisha begitu penasaran.
Devan hanya tersenyum tanpa ingin membalas pertanyaan yang dilontarkan sang istri. Kemudian ia menghidupkan mesin mobilnya, lalu melajukannya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil, Devan terus menggenggam tangan sang istri. Sesekali ia kecup dan tersenyum ke arah Tanisha. Tak jarang membuat wajah Tanisha merona, karena malu dengan sikap Devan yang sangat romantis kepadanya.
"Mas...," panggil Tanisha. "Kita mau kemana sih, sebenarnya?" Dia begitu penasaran, suaminya itu akan membawanya ke mana.
Karena tidak tahan mendengar rengekan dari sang istri, akhirnya Devan mempercepat laju mobilnya. Tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di tempat tujuan.
"Bagaimana kamu bisa tau tempat ini, Mas?" Tanya Tanisha heran.
Dari dulu, Tanisha sangat ingin membuat sebuah danau buatan di belakang rumahnya kelak. Dia ingin, anak-anaknya nanti betah main di sekitaran rumah mereka. Tidak seperti dirinya yang selalu berpindah-pindah tempat sedari kecil mengikuti sang kakak, Erlangga. Tanisha berharap, kehidupan anak-anaknya jauh lebih tenteram dibanding dengan hidupnya semasa kecil yang penuh dengan sebuah tragedi menyenangkan, menurutnya. Meskipun begitu, dia tidak ingin anak-anaknya menemui hal seperti itu, walau kecil kemungkinannya. Karena keluarganya tidak lepas dari incaran orang-orang yang ingin menjatuhkan bisnis keluarganya.
__ADS_1
"Apa kamu suka, Honey?" Tanya Devan. Tanisha menganggukkan kepalanya cepat.
"Tapi, bagaimana bisa Mas tau kalau aku suka tempat yang seperti ini?" Tanya Tanisha begitu penasaran.
Kemudian Devan mengajak istrinya untuk duduk di sebuah bangku yang terdapat di pinggiran danau tersebut. Devan memilih tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Mendekatkan tubuh Tanisha, agar lebih dekat lagi ke sisinya.
"Kamu tau, Honey. Aku berharap bisa membuat danau buatan untuk anak-anak kita nanti. Aku ingin mereka menikmati masa kecil mereka, selayaknya anak pada umumnya. Tidak perlu bekerja terlalu keras diusianya yang terbilang masih dini, dan juga aku ingin kamu betah di rumah untuk mengawasi mereka nanti. Aku nggak mau kamu bekerja lagi, meskipun kamu memiliki beberapa usaha. Aku ingin kamu bekerja dari rumah saja, memantau para pegawaimu dari rumah. Agar anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang dari orang tua mereka. Biarkan aku yang bekerja keras untuk kalian," ungkap Devan seraya menatap lurus ke arah danau.
Mata Tanisha berkaca-kaca mendengar ucapan sang suami. Ia tidak menyangka, kalau suaminya itu berpikiran yang sama dengannya. Karena merasa terlalu terharu dengan ungkapan suaminya, lantas kemudian Tanisha memeluk suaminya dengan begitu eratnya.
"I love you, Mas," Tanisha mengungkapkan perasaannya pada Devan.
__ADS_1