
"Siapa mereka?" tanya Devan semakin mendekatkan wajahnya kepada Tanisha.
Tanisha tidak bisa berkutik lagi. Karena tubuhnya kini dikunci oleh kedua tangan Devan yang berada disisi kiri dan kanan dirinya.
"Jawab aku, Sha," ucap Devan seraya mengangkat dagu Tanisha dengan jari telunjuknya. Untuk kemudian dia kecup sekilas bibir yang selama ini Devan rindukan. "Jawab aku," ucapnya lagi.
Devan mengulang kegiatan yang sangat menguntungkan dirinya itu, sampai Tanisha mau menjawab pertanyaannya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Devan kepada Tanisha, membuat gadis itu cemberut kesal.
"Iya, iya. Aku jawab. Nggak usah nyari kesempatan deh, Mas!" kesal Tanisha. Devan hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Yang di restoran itu namanya Viko, dan yang semalam itu namanya Arkha. Udah, puas?" kemudian Tanisha mencoba melepas diri dari jeratan Devan, namun pria yang memiliki tempat dihatinya itu semakin menempelkan tubuh mereka. Sampai tidak ada celah untuk Tanisha kabur.
"Mas, udah, lepas. Aku mau cuci muka. Pasti mukaku jelek banget sekarang," rengek Tanisha agar Devan melepaskan dirinya.
__ADS_1
Tanpa Tanisha duga, Devan menempelkan bibirnya pada bibir Tanisha. Menggodanya dengan sangat lembut, hingga membuat Tanisha terbuai lalu membuka mulutnya sedikit.
Tentu saja Devan tidak pernah melewatkan kesempatan yang datang padanya begitu saja. Rasa laparnya selama ini terbayar sudah saat ini. Dengan rakus Devan melahap bibir Tanisha. Hingga membuat nafas mereka saling memburu.
"Bukan namanya yang ku maksud. Tapi apa hubunganmu dengan mereka?" tanya Devan di sela ciuman mereka. Dan Devan kembali melahap habis bibir Tanisha.
Setelah puas, kini mata Devan menatap intens ke arah Tanisha. Dia menunggu penjelasan atas pertanyaan yang dia lontarkan pada gadisnya ini.
"Sha," panggil Devan karena Tanisha tak kunjung menjawab. Membuat rasa penasaran dari dalam diri Devan semakin memuncak.
Devan tersenyum mendengar jawaban serta reaksi Tanisha. Bisa-bisanya dirinya tertipu oleh gadis nakalnya ini. Sehingga memutuskan untuk mempercepat kepergiannya.
"Kamu semakin nakal, Sha," ucap Devan sembari menyembunyikan wajahnya di leher jenjang milik Tanisha itu.
__ADS_1
Karena posisi kepala Tanisha yang menoleh ke samping, membuat Devan semakin leluasa untuk menghirup aroma tubuh gadisnya tersebut.
"Mas... Apa yang Mas lakukan?" tanya Tanisha menahan rasa geli yang ditimbulkan dari sentuhan hidung, bibir dan seluruh permukaan kulit wajah Devan.
Tanisha berusaha mendorong tubuh Devan, namun dengan segera kedua tangannya dicengkeram oleh Devan dan ditempelkan di dinding. Posisi seperti ini semakin membuat Tanisha tidak berkutik. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dengan apa yang dilakukan Devan padanya.
"Bukankah ini tujuanmu mencemol rambutmu ke atas seperti ini, Sha?" ucap Devan masih terus menikmati permukaan kulit Tanisha di bagian leher. Bahkan tak jarang Devan menghisapnya seraya menggigit kecil kulit tersebut. Membuat Tanisha merasakan sesuatu sensasi aneh yang baru dia rasakan.
"Bu-bukan, Mas," Tanisha tidak tahan dengan sensasi yang dihasilkan oleh sentuhan demi sentuhan bibir Devan. Dia pun akhirnya tidak bisa menahan suaranya yang ingin keluar.
"Mas... Udah, stop!" pinta Tanisha seraya memejamkan matanya. "Akkhh!!" pekik Tanisha kemudian saat bibir Devan menghisap kulit lehernya dengan sangat kencang.
Hal itu semakin membuat Devan bersemangat. Dia telusuri seluruh permukaan leher Tanisha hingga turun sampai dada bagian atas Tanisha yang terbuka. Devan juga memberikan jejaknya di sana.
__ADS_1
"Ini hukuman karena kamu telah berani membuka keindahan tubuhmu, Sha." ucap Devan sembari terus melakukan kegiatannya. Memberikan jejak bibirnya di bagian tubuh Tanisha yang terbuka tersebut.
Aku juga mau, jika hukumannya seperti itu, Mas🙄🙈