Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Hanya Jalan Ini


__ADS_3

Devan melajukan mobilnya menuju sebuah hotel bintang lima yang ada di tengah-tengah kota ini. Dia sengaja memilih tempat itu karena tempatnya nyaman dan tenang. Yang lebih tepatnya lagi, tidak akan ada orang yang mengganggu mereka nanti.


Devan sudah membulatkan tekatnya. Mau bagaimanpun nanti hasilnya, dia tidak akan melepaskan Tanisha menjadi milik orang lain. Karena gadis itu akan menjadi miliknya malam ini.


Sebelum itu, di dalam perjalanan menuju hotel, Devan menyempatkan untuk menghubungi mamanya terlebih dulu. Bahwa dia ingin melamar Tanisha secepat mungkin. Devan tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi di dalam hubungannya dengan Tanisha.


"Halo, Ma." Ucap Devan saat sambungan telpon mereka terhubung.


"Ada apa, Tam?" Tanya Diva dari seberang sana. "Apa kamu sudah mendapatkan dia kembali? Tante Karina cerita banyak tentang kalian tadi. Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau pacar kamu itu anaknya Tante Karina? Kan Mama bisa langsung melamar dia untukmu, Tam," ucap Diva panjang lebar. Belum sempat Devan mengutarakan keinginannya, ternyata mamanya itu lebih mengerti kemauannya.


Devan tertawa mendengar ucapan mamanya. Lalu melirik ke arah Tanisha yang tersipu malu karena ucapan mamanya. Devan memang sengaja mengaktifkan pengeras suara, agar Tanisha mendengar pembicaraan diantara mereka.


"Mama atur saja secepatnya. Biar Tama nanti tenang pas ninggalin dia di sini. Sekarang Tama lagi ada misi. Doakan berhasil ya, Ma. Dan sampaikan maafku pada Tante Karina, karena malam ini Tama akan membuat putrinya kesakitan," dan ucapan Devan membuat mata Tanisha melebar tak percaya.

__ADS_1


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu, Mas?" Tanya Tanisha dengan suara lirih. Karena Devan masih melakukan panggilan dengan mamanya.


Devan hanya mengedikkan kedua bahunya tanpa menjawab pertanyaan dari Tanisha. Sehingga membuat Tanisha kesal, lalu mencubit perut Devan dengan sangat keras.


Refleks Devan memekik kesakitan, karena cubitan yang Tanisha layangkan pada perutnya, bukan main sakitnya. Hingga membuat Diva bingung dengan suara gaduh di seberang


"Kalian masih bersama?" Tanya Diva penasaran. "Jangan bilang misi yang kamu sebut itu, ialah misi membuatkan Mama seorang cucu yang gembul?" Dan tebakan Diva sesuai apa yang ada dipikiran Devan.


Tanisha lebih dibuat terkejut lagi dengan tebakan Diva. Tidak mungkin, kan Devan akan melakukan itu padanya?


Setelah menaruh ponselnya di atas dashboard mobil, Devan melirik ke arah Tanisha sekilas. Dia tidak berani melihatnya terlalu lama, karena gadisnya itu tengah menatap kearahnya penuh dengan amarah.


"Apa maksud semua tadi? Jelaskan, Mas!" Tanya Tanisha. Lebih tepatnya adalah sebuah perintah.

__ADS_1


Devan tidak menjawab, dia memutar setir mobil, membelokkan mobilnya memasuki area plataran hotel bintang lima tersebut.


"Mas...," panggil Tanisha. Dia tidak mau keluar dari dalam mobil.


Kemudian Devan memutari mobil dan menggendong Tanisha ala bridal style. Karena gadisnya itu tetap pada pendiriannya.


"Maaf, Sayang. Hanya ini jalan yang terlintas saat ini," ucap Devan.


Dia memesan sebuah kamar paling bagus di hotel ini, tanpa menurunkan Tanisha dari gendongannya. Tanisha malu setengah mati, kemudian dia menyembunyikan wajahnya di dada Devan. Tentu saja Devan senang akan itu.


Setelah berjalan lima menit, akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan yang sangat luas bernuansa pink gold. Warna kesukaan Tanisha.


"Mari Kira nikmati malam yang panjang ini, Sayang," ucap Devan penuh dengan nada lembut. Lalu merebahkan tubuh Tanisha ke atas tempat tidur berukuran besar tersebut.

__ADS_1


Astogeeee Maaaassss.... ini masih siang, loh! Kasian mereka yang ditinggal suaminya kerja😂


__ADS_2