
"Boleh aku menikmati ini semua sekarang, Honey?" tanya Devan dengan nada yang lembut, serta suara yang serak. Kilatan di matanya terpancar dengan sangat jelas, jika pria ini sedang menahan lapar yang terangat sangat.
"Apa kamu akan mengikuti ucapanku, jika aku bilang tidak boleh, Mas?" Tanisha sudah pasrah dengan keadaannya saat ini. Ini memang kewajibannya yang harus ia berikan pada sang suami.
Devan tersenyum mendengar ucapan istrinya yang nampak pasrah terhadapnya. Lalu jemarinya menarik dagu sang istri, agar menatap ke arahnya. Mempertajam penglihatannya, menyelami jauh lebih dalam ke netra coklat sang istri.
"Kamu tau, bagaimana sifatku, kan Honey?" Devan menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah simpul senyuman yang penuh maksud. "Aku tidak akan berhenti, meski kamu nanti menangis, Honey. Dan dapat aku pastikan, kamu tidak akan bisa berjalan besok," ucapan Devan terdengar seperti sebuah ancaman bagi Tanisha. Mau mundur pun juga percuma.
"Tenang saja, Mas. Aku tidak akan kabur malam ini. Malam ini aku pasrahkan diriku padamu," tantang Tanisha seraya mengusap lembut bibir suaminya dengan jemari-jemari lentiknya.
__ADS_1
"Tentu saja, Honey. Dengan Senang hati aku tidak akan melewatkan kenikmatan dari setiap inci yang ada pada tubuhmu," balas Devan dengan kerlingan matanya.
Dengan napas yang memburu, serta kilatan mata yang tak melepas pada titik mangsanya, tangan Devan memulai aksinya. Memberikan sentuhan demi sentuhan kepada permukaan kulit sang istri. Sehingga membuat sang istri memejamkan matanya serta mengeluarkan suara yang begitu merdu di telinga Devan.
Tentu saja hal itu membuat hasrat di dalam diri Devan bangkit dengan begitu semangatnya. Dia semakin semakin menelusuri daerah-daerah yang belum pernah ia sentuh sebelumnya. Menikmati, mencecap setiap rasa, bahkan tidak segan menghisapnya dengan begitu dalam. Sehingga meninggalkan sebuah jejak indah di permukaan kulit di tempat yang ia jelajah.
"Kamu begitu sempurna, Honey. Aku langsung merasa candu akan rasa dan sensasi ini. Maaf, jika setelah ini aku akan menyakitimu dengan begitu dalamnya," ucap Devan di sela kegiatannya.
Bulir demi bulir air mata mengalir dari sudut mata Tanisha. Rasa sakit yang teramat sangat, membuatnya tidak bisa menahan air matanya yang keluar begitu saja. Tangannya meremat kain seprei, untuk mengalihkan rasa sakit itu agar tidak terlalu begitu terasa. Meski hal yang ia lakukan itu sangatlah sia-sia. Karena rasa sakit itu semakin bertambah, bersamaan dengan Devan memperdalam penyatuan mereka.
__ADS_1
"Maas...," rintih Tanisha dengan suara yang gemetar.
Devan mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata sang istri. Ia menghentikan pergerakannya, mengecup kening istrinya berkali-kali guna untuk mengalihkan perhatian sang istri agar tidak berpusat pada rasa sakit akibat perbuatannya.
"Maaf, Honey. Tapi aku harus menyelesaikan ini semua," ucap Devan. Terlihat dengan berat hati dan tidak ada pilihan lain, Tanisha menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sementara air matanya terus mengalir tanpa mau berhenti sebentar saja.
Di rasa sang istri mulai tenang, Devan kembali melancarkan aksinya. Mengulangnya hingga rasa sakit yang Tanisha rasakan di awal, itu berubah menjadi sebuah rasa yang penuh akan candu. Ingin merasakan lagi dan lagi. Selalu penasaran, sensasi apa yang timbul jika mereka memakai gaya dengan berbagai macam.
Malam itu, merupakan malam yang panjang bagi mereka. Sekaligus malam yang penuh akan pengalaman pertama, serta malam yang bersejarah dalam hidup mereka. Karena setelah malam ini, status mereka benar-benar berubah. Mereka saling memiliki satu sama lain.
__ADS_1
Sudah aku bilang, jangan terlalu tinggi ekspetasinya. Jadi kuwaci, kan? Eh, Kucewa😂