Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Kita Sudah Putus


__ADS_3

Devan tetap membeku melihat Tanisha tanpa berkedip sekalipun. Ini baru pertama kali Tanisha berpakaian seperti ini. Apalagi dengan wajahnya yang diberi sedikit sentuhan make up, juga bibirnya yang berwarna pink karena memakai lipstik. Sungguh, Devan dibuat terpesona oleh peri yang berdiri dihadapannya saat ini.


"Mas," panggil Tanisha. Tangannya mengayun tepat di depan wajah mantan kekasihnya itu. Karena memang Devan sedari tadi hanya menatapnya dengan diam.


"Ah, ya?" Devan tersadar dari lamunannya. Tangannya mengusap kepala bagian belakang. Hampir saja dirinya terjerumus kembali dan goyah pendiriannya. Sial! Baru begini saja sudah, sudah membuatku gila. Tahan Dev, tahan... Pantaskan dirimu dulu baru bersanding dengannya. Devan men-sugesti dirinya sendiri agar tidak terlena lagi dengan pesona yang dimiliki Tanisha. Meskipun sangat sulit ia lalukan.


"Aku bawakan Mas makan siang. Ayo, makan bareng Mas," ucap Tanisha sembari membuka bekal makanan yang dia bawa dari rumah. "Ini aku yang masak sendiri loh, Mas. Aku masak dengan penuh rasa cinta. Yang pastinya lezat dong," lanjutnya lagi.


Devan terus memperhatikan tingkah Tanisha. Dia merasa heran, kenapa gadisnya ini bisa bersikap biasa tanpa canggung sedikitpun. Seperti tidak pernah ada masalah diantara mereka. Padahal baru satu hari mereka putus. Biasanya para gadis akan menangis lebih dari seminggu untuk menghayati patah hati mereka. Namun tidak dengan gadisnya ini.


"Kamu kenapa ke sini, Sha?" tanya Devan dengan nada datar.

__ADS_1


"Untuk makan siang bareng, Mas lah!" jawab Tanisha enteng. "Semenjak kita pacaran, aku kan nggak pernah ke sini. Selalu saja Mas yang ke tempat kerjaku. Berhubung sekarang aku jadi pengangguran sukses, aku akan menemani Mas setiap hari," ucap Tanisha kemudian seraya melempar senyuman manisnya pada Devan.


"Kita sudah putus, Sha." kata Devan mencoba mengingatkan hubungan mereka kepada Tanisha.


"Tapi aku nggak menganggap kita putus. Karena aku tidak bilang kalau aku setuju untuk putus darimu," Tanisha mengambilkan lauk kesukaan Devan, yaitu dendeng sapi. Untuk kemudian ia berikan pada Devan.


Mau tidak mau Devan menerima makanan itu. Devan melihat senyuman Tanisha yang sedikit dipaksakan untuknya. Dia tahu, kalau sebenarnya gadis itu menahan rasa sakit tentang kenyataan status mereka sekarang. Hanya saja mungkin dia mencoba untuk menyembunyikan nya.


Tanisha yang melihat itu, lantas langsung berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Devan. Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh Tanisha membuat tubuh Devan menegang seketika.


Bukannya dengan tangannya Tanisha mengambil butiran nasi tersebut. Melainkan Tanisha menggunakan bibirnya untuk membantu Devan membersihkan butiran nasi itu.

__ADS_1


"Belepotan, Mas. Ada nasi di ujung bibir Mas Devan," ucap Tanisha setelah menegakkan kembali tubuhnya.


Sementara, Devan masih shock dengan apa yang dilakukan Tanisha terhadapnya. Pasalnya, selama hampir satu tahun mereka berpacaran, baru kali ini Tanisha mencium dirinya. Meskipun yang sebenarnya terjadi bukanlah ciuman. Melainkan mengambil biji nasi yang ada dipinggir bibirnya.


"Jangan lakukan ini lagi, Sha." ucap Devan berusaha mengatur degup jantungnya yang tak beraturan.


"Kenapa? Toh aku tidak keberatan," ucap Tanisha seraya menyibakkan rambutnya ke belakang. Sehingga memperlihatkan permukaan kulit leher serta bahunya yang putih mulus tersebut. Membuat Devan berkali-kali menelan salivanya dengan susah.


Sial! Kenapa dia bersikap semakin berani seperti ini? Bagaiman kalau aku mempunyai iman yang lemah? Rutuk Devan di dalam hati. Pikirannya Menyuruhnya untuk memberi tanda kepemilikan di sana. Namun, hatinya berkata lain. Ini ujian terberatnya saat ini.


Itu masih belum seberapa, Bang🤣

__ADS_1


__ADS_2