Jerat Ex Pacar

Jerat Ex Pacar
Sedikit Lebih Aman


__ADS_3

"Mau makan siang," jawab Devan asal dengan dibarengi senyum penuh artinya tersebut.


Tanisha mundur dari posisinya hingga tubuhnya bersandar di sandaran ranjang. Membuat dirinya tidak bisa bergerak lagi. Sementara Devan semakin merangkak naik, hingga dia sampai di atas tubuhnya.


Devan tersenyum jahil, melihat Tanisha yang begitu ketakutan. Sebenarnya dirinya sendiri juga mati-matian menahan hasrat dari dalam tubuhnya. Apalagi di saat melihat bagian atas kaki Tanisha yang terbuka. Begitu indah di matanya.


Namun, Devan tidak mungkin merusak gadis yang sangat dicintainya tersebut. Dia hanya ingin memberi pelajaran kepada gadis nakalnya itu, agar tidak mengulang lagi perbuatannya yang mengundang awan jenisnya untuk berbuat tindakan tak senonoh, nanti. Sedang dirinya tidak bisa setiap waktu berada di samping Tanisha.


"Mas, kamu jangan aneh-aneh, kalau tidak ingin aku berbuat sesuatu diluar dugaanmu," ancam Tanisha menatap tajam Devan.


Melihat wajah Tanisha yang dibuat garang, Devan semakin ingin menggoda gadisnya itu. Devan ingin tahu, sampai mana Tanisha memperlihatkan sisi lainnya itu di hadapannya.


"Kan, kamu ke sini untuk mengantarkan ku makan siang. Jadi, akan aku mulai menyantapnya sekarang," ucap Devan yang kini mengunci tubuh Tanisha dengan sempurna di bawah tubuhnya.

__ADS_1


"Mas, jangan paksa aku," ucap Tanisha. Ingin menendang senjata milik Devan, ia tidak mungkin tega untuk melakukannya. Karena itu sebuah aset yang berharga bagi seorang pria.


Devan tidak mengidahkan ucapan Tanisha. Dia semakin menindih tubuh Tanisha, namun tidak sepenuhnya. Karena salah satu tangannya menyangga tubuhnya dengan cara menahan dengan sikunya.


"Sungguh, aku ingin menikmati ini semua. Tapi aku tidak mungkin merusak mu, Sha. Maka dari itu, jangan pancing ketahanan imanku. Aku nggak bisa menahan lebih jauh, jika kamu menggodaku dengan penampilan yang seperti ini. Sakit, Sha." ucap Devan kemudian menempelkan tubuh mereka.


Sementara Tanisha masih terdiam membeku. Dia tidak berani bergerak sedikitpun. Takut jika salah bergerak, akan lebih menyiksa Devan.


"Mas, jangan seperti ini. Aku nggak bisa napas," ucap Tanisha. Karena Devan semakin lama semakin menindih tubuhnya.


"Ya, tapi kan nggak begini juga, Mas posisinya," protes Tanisha. Karena dengan posisi seperti ini, pasti akan lebih menyiksa Devan. Tanisha bukanlah gadis yang berusia belasan tahun, yang tidak mengerti apa-apa. Dia tahu maksud dari kata sakit yang dimaksud oleh Devan.


Mendengar itu, Devan beringsut turun dari atas tubuh Tanisha. Dia berpindah ke samping tubuh gadisnya itu. Tangan Devan menarik selimut ke atas dan menutupi setengah badan Tanisha.

__ADS_1


"Nah, begini mungkin sedikit lebih aman bagiku," ucap Devan setelah menutup sebagian tubuh Tanisha dengan selimut.


Lalu Devan mengangkat kepala Tanisha, untuk kemudian menelusupkan lengannya di bawah kepala Tanisha. Ia jadikan lengannya untuk bantalan buat Tanisha. Kemudian Devan menarik tubuh Tanisha ke dalam pelukannya.


Suasana menjadi hening seketika. Mereka saling menikmati debaran jantung mereka yang berdetak lebih cepat. Hingga terdengar bunyi suara yang berasal dari perut Devan.


"Mas, kamu lapar? Aku sudah bawakan makan tadi," ucap Tanisha ketika mendengar suara tersebut.


Devan menggeleng, ia semakin mengeratkan rengkuhannya pada gadisnya tersebut.


"Maafkan aku, atas keegoisanku beberapa minggu ini. Aku tau, hal itu pasti menyakitimu. Tapi aku juga tidak membenarkan perihal kebohongan mu, Sha. Setidaknya jadikan aku tempat keluh kesahmu," ucap Devan. Kemudian mengecup kening Tanisha.


"Maaf, Mas. Aku memang belum bisa se-terbuka itu padamu jika itu menyangkut keluargaku," sesal Tanisha. Devan pun memakluminya.

__ADS_1


"Tentang perihal Mas yang akan pergi ke Washington itu, apakah benar-benar Mas lakukan?" tanya Tanisha memastikan kembali.


Entahlah, Mas. Aku capek menasehatimu yang selalu mencari keuntungan sendiri🙈😅


__ADS_2